Luluhnya “P” Sehabis “Me-“

Intisari Des 2003. Sally Pattinasarany.

Akhir-akhir ini kita dibingungkan oleh kata mempunyai dan memunyai. Media massa pun dibuatnya begitu. Lihat artikel di Pikiran Rakyat, 18 Oktober 2002 (Pimpinan Harus Selalu Harmonis) dan terbitan 1 Juli 2002 (Memberantas Pencucian Uang). Pada artikel pertama, terdapat kalimat: “… meminta agar warga Bandung memunyai perhatian ….” Sedangkan pada artikel kedua, ada kalimat: “… sebaliknya, Singapura sendiri mempunyai semacam kebijakan ….”

Mana yang benar?

Selama ini, kita mempelajari bahwa jika sebuah kata yang diawali dengan huruf p bergabung dengan awalan me-, huruf itu akan luluh. Jadi, menurut kaidah bahasa Indonesia, seharusnya bentuk yang dapat dianggap benar adalah memunyai. Namun, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi 2001, tertera kata pu.nya dengan kata turunan mem.punya.i. Apakah ada kata-kata berawalan p lainnya yang juga tidak luluh ketika digabungkan dengan awalan me-? Mari kita merujuk KBBI.

Ada empat pola kata berawalan huruf p yang terdapat dalam KBBI:

  1. KV (konsonan-vokal): huruf p akan luluh ketika bergabung dengan me-. Misalnya, pa.gar menjadi me.ma.gar.
  2. KVK (konsonan-vokal-konsonan): huruf p akan luluh. Misalnya: pim.pin menjadi me.mim.pin. Namun, jika sebuah kata hanya terdiri atas satu suku kata, huruf p tidak luluh. Misalnya, pel menjadi me.nge.pel.
  3. KKV (konsonan-konsonan-vokal): huruf p tidak luluh. Misalnya, pro.duk.si menjadi mem.pro.duk.si.
  4. KKVK (konsonan-konsonan-vokal-konsonan): huruf p tidak luluh. Misalnya, plom.bir menjadi mem.plom.bir.

Jadi, berdasarkan KBBI, ada empat jenis pola suku kata untuk kata awalan huruf p, yaitu pola di mana huruf p luluh (KV dan KVK) dan pola di mana huruf p tidak luluh (KKV dan KKVK).

Pertanyaannya, apakah suku kata awal sebuah kata dapat dijadikan pegangan untuk menentukan luluh tidaknya huruf p? Ternyata tidak. Dalam KBBI, juga ditemukan kata-kata yang diawali dengan huruf p, tetapi perilakunya berbeda dengan kelompok pola suku kata di atas. Ambil contoh kata pat.ro.li dan pat.ri yang berpola KVK. Harusnya, huruf p luluh bergabung dengan awalan me- sehingga akan menghasilkan kata turunan me.mat.ro.li dan me.ma.tri. Namun dalam kamus, ditemukan kata turunan mem.pat.ro.li.

Yang lebih membingungkan, dalam KBBI edisi 1991 untuk kata per.ko.sa, kita akan menemukan dua bentuk kata turunan, yakni me.mer.ko.sa dan mem.per.ko.sa. Pada edisi 2001, hanya dijumpai satu bentuk kata turunan: me.mer.ko.sa. Karena edisi 2001 merupakan edisi lebih baru, saya beranggapan bahwa kata turunan yang benar untuk kata perkosa adalah memerkosa.

Kembali ke pertanyaan semula, kapankah sebenarnya huruf p akan luluh jika bergabung dengan me- dan kapan tidak. Mustakim dalam buku “Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum” menyatakan, huruf awal p pada kata-kata serapan dari bahasa asing tidak akan luluh jika gabung dengan me- (1992:149).

Berdasarkan pendapat Mustakim itu, kita dapat berasumsi bahwa kata patroli merupakan kata serapan, sedangkan kata patri merupakan kata yang berasal dari bahasa Indonesia. Apakah setiap kali ingin menggabungkan sebuah kata berawalan huruf p, kita selalu harus memerhatikan apakah kata itu kata serapan atau bukan? Jadi dalam hal ini, kita harus mengetahui sejarah sebuah kata secara etimologis.

Oleh karena banyak yang tidak mengetahui etimologi sebuah kata, tidak mengherankan jika kita menemukan dua bentuk kata turunan untuk sebuah kata yang sama. Misalnya, mempunyai dan memunyai, memproses dan memroses. Agar tidak membingungkan para pengguna bahasa Indonesia, sebaiknya kita berpegang pada keempat pola di atas. Dengan demikian berdasarkan pola itu, kata turunan untuk kata punya adalah memunyai.

One thought on “Luluhnya “P” Sehabis “Me-“

  1. Berikut nukilan pendapat–dari artikel “Sekali lagi, Peluluhan Fonem” di blog ini juga–yang diharapkan dapat menjawab kebingungan penulis mengenai alasan ditetapkannya bentuk “mempunyai” daripada “memunyai”:

    Ada juga kata-kata dalam BI yang diperlakukan secara khusus seperti kata `mempunyai` dan `mempengaruhi`. Kata `punya` berasal dari `mpu`, menjadi `empu` yang berarti `ibu` seperti pada empu jari; berarti `pembuat keris` seperti pada Empu Gandring; berarti `pemilik` seperti pada “Buku itu saya empu-nya”. Kata `empunya` dalam BI berubah menjadi `punya`. Kata `pengaruh` dalam BI mungkin dianggap oleh pemakai bahasa bahwa /pe/ adalah awalan (prefiks) sehingga tidak diluluhkan /p/-nya seperti pada kata `mempercepat`, `memperbesar`.

    Semoga paragraf ringkas itu mampu “mencerahkan” pikiran kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s