Bahasa Kebangsaan

Eko Endarmoko*, Majalah Tempo, 9 Okt 2006

Ilustrasi: Hello Pet

Apakah bahasa? Rumusan paling mudah: bahasa adalah perangkat komunikasi yang berfaedah guna menyampaikan warta, pikiran, atau perasaan. Tetapi, apakah bahasa Indonesia? Adalah Muhammad Yamin yang saya kira pertama kali menggelindingkan pemikiran tentang pentingnya bahasa kebangsaan, yaitu dalam sebuah acara memperingati lustrum pertama Jong Sumatranen Bond pada 1923.

Muhammad Yamin mengutarakan kembali gagasan itu pada Kongres Pemuda Pertama di tahun 1926 seraya menawarkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Ia berangkat dari kenyataan bahwa sudah sejak lama bahasa Melayu berlaku sebagai lingua franca di Nusantara, dan oleh karenanya dipandang sebagai perekat yang mampu mempertalikan suku-suku dari Sabang sampai Merauke menjadi satu bangsa. Namun, dalam Kongres Pemuda Kedua, Oktober 1928, sempat terlontar usulan supaya bukan bahasa Melayu melainkan bahasa Jawa–tentu karena jumlah penuturnya paling banyak–yang ditetapkan sebagai bahasa kebangsaan.

Yang menarik, justru banyak orang Jawa peserta kongres menolak usulan itu karena watak feodalistis bahasa tersebut. Maka atas saran Poerbatjaraka, yang menguatkan tawaran Muhammad Yamin tadi, bahasa Melayu lantas ditetapkan sebagai bahasa kebangsaan. Inilah sebuah proyek besar yang hingga hari ini belum kunjung, dan memang tak akan pernah, tuntas. Cita-cita komunitas majemuk di tahun 1920-an itu–yang punya niat saling mempertalikan diri dengan satu bahasa yang sama, dan kemudian menyebut diri “bangsa Indonesia”–kini dihadapkan pada soal-soal yang semakin pelik.

Selalu masih akan ada tarik-menarik antara negara dan daerah sebagai tampak pada dua contoh menonjol, Aceh dan Papua.

Setidaknya, frase bahasa kebangsaan tampak kian ditinggalkan dalam kita berbahasa, semakin kehilangan konteks dan maknanya. Bahasa Indonesia pastilah tidak mungkin dapat bersikap anti-asing. Terlalu banyak konsep dan istilah baru dari pelbagai bahasa asing yang tak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, juga dalam bahasa daerah yang jumlahnya mencapai ratusan itu. Tetapi itu bukan berarti lantas kata-kata asing dapat kita pakai tanpa batas, seperti bahasa Inggris pada semua mata acara sebuah stasiun televisi swasta yang digunakan begitu saja, tanpa rasa gamang.

Saya kira bukan perkembangan bahasa Indonesia seperti itu yang dimaksud oleh Muhammad Yamin dan Poerbatjaraka. Mereka mengajukan bahasa Melayu Riau sebagai bahasa kebangsaan karena melihat potensinya yang masih dapat dikembangkan, sedang yang kita lihat sekarang adalah kekacauan belaka, baik pada bahasa lisan maupun bahasa tulis.

Ingat saja, bahasa Indonesia punya banyak kata untuk melukiskan keadaan yang kacau: acak-acakan, awut-awutan, berantakan, berarakan, berpesai-pesai, bersepah, bongkar-bangkir, centang-perenang, cerai-berai, colak-caling, kacau-balau, kelut-melut, keruntang-pungkang, kibang-kibut, kisruh, kocar-kacir, kusut, lalu-lalang, malang-melintang, menyemak, morat-marit, porak-parik, porak-poranda, ricuh, rondah-randih, ropak-rapik, semrawut, serabutan, tersara bara.

Tetapi, sedikit sekali kata yang menggambarkan kerapian: antun, apik, beres, kemas, majelis, necis, segeh, simpan, teratur, tersusun, tertata, tertib. Bahasa menunjukkan bangsa, bukan?

Saya tidak tahu apakah Pusat Bahasa memikirkan juga masalah kebahasaan yang lebih mendasar, masalah yang lebih berpaut dengan kebijakan kebahasaan nasional, dengan getol dan bersungguh-sungguh. Dan kalaupun benar begitu, sampai seberapa jauh tanggapan dari pemerintah. Yang saya tahu, lembaga itu masih harus lebih banyak mengurusi pernak-pernik yang tak pernah ada habisnya seputar bangun bahasa Indonesia baku. Banyak kerja penting lain yang boleh dikata tak tertangani semata karena keterbatasan anggaran dan tenaga yang mumpuni.

Saya juga tidak tahu, apakah pergeseran cara memandang masalah kebahasaan dari zaman Sumpah Pemuda ke zaman kita sekarang ini dapat kita lihat mencerminkan perubahan semangat zaman serta minat dan isi kepala para pemimpin bangsa.

Yang saya tahu, pemerintah tidak berhasil meyakinkan bahwa ia punya kemauan politik dalam soal bahasa kebangsaan kita.

* Penyunting, sekretaris redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam, penyusun Tesaurus Bahasa Indonesia

One thought on “Bahasa Kebangsaan

  1. Ping-balik: Aturan Asyik | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s