Wong Chino

Majalah Tempo, 23 Jun 2008. Hermina Sutami: Guru besar linguistik Mandarin pada Program Studi Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan peneliti bidang leksikologi dan leksikografi.

Apa pula itu? Bagaimana mengejanya: Caion atau chino? Kata wong berasal dari bahasa Jawa, maknanya ‘orang’, lalu kata chino dari bahasa Jawa jugakah? Tapi, sejak kapan kata chino muncul? Belakangan ini sebuah harian terkenal Indonesia memang mengeja China dan bukan Cina.

Agaknya tidak terlalu sulit menelaah terbentuknya kata itu. Agaknya, sebagian media cetak dan elektronik menghindari kata cina, lalu diganti dengan china, tionghoa, dan tiongkok. Dua kata terakhir sudah lama muncul di Indonesia. Masih ingatkah para pembaca bahwa di zaman Presiden Soekarno ada Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, di zaman Presiden Soeharto kedua kata itu harus diganti dengan cina? Di zaman Reformasi ini, cina, china, tionghoa, dan tiongkok muncul bersama-sama. Namun ada sebagian orang dari golongan tertentu tidak menyukai istilah cina dengan alasan kata itu bersifat menghina, kasar, serta bermakna negatif. Mereka menghendaki digunakan kata asing china (bahasa Inggris), di samping tionghoa dan tiongkok.

Pemakaian kata asing china dalam berbahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis, tampaknya semakin meluas digunakan oleh golongan yang tidak menyukainya atau oleh orang-orang yang merasa dirinya “wajib”  menghormati keinginan tersebut. Padahal banyak para “keturunan” Cina yang tidak tersinggung ketika  mendengar atau menggunakan kata cina. Di antara para ahli atau pemerhati bahasa, ada yang selalu berusaha menjadikan kata serapan sebagai milik sendiri. Namun, mengapa kata china, yang jelas merupakan kata asing, digunakan dalam bahasa Indonesia, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun?

Di satu pihak kesadaran berbahasa Indonesia kita “sangat tinggi”-semua kata serapan hendaknya diterima sepenuhnya dalam bahasa Indonesia tanpa memperhatikan kaidah yang ada; di lain pihak justru kesadaran itu sangat rendah. Dengan sadar orang-orang tertentu menggunakan kata asing yang ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Lalu timbul pertanyaan, di mana kesetia­an kita sebagai bangsa Indonesia menjunjung tinggi bahasa Indonesia?

Frase wong Chino sebenarnya berbunyi wong cino dalam bahasa Jawa. Karena menghindari kata cino, atas dasar analogi cina menjadi china, jadilah cino menjadi chino. Jadi chino diciptakan karena menghindari cino. Padahal gabungan c dan h tidak ada dalam bahasa Jawa. Para penciptanya mengira kata cina berasal dari bahasa Inggris, china, sehingga cino juga diinggriskan menjadi chino. Bukankah ini memperlihatkan tingkat intelektualitas dan penalaran penciptanya?

Yang perlu dipertanyakan, mengapa hanya dalam bahasa Indonesia kata cina dianggap menghina, sedangkan bila menggunakan kata china (lafal dan ejaan bahasa Inggris) tidak menghina? Di mana letak kekuatan magis kata china dalam bahasa Inggris itu?

Lalu mengapa kata cina sangat dihindari? Apa makna inheren kata itu jelek dan negatif? Kata cina tidak berasal dari bahasa-bahasa di negara Cina, melainkan dari bahasa Sanskerta, chîna, yang berarti ‘daerah pinggiran’. Ensiklopedia Zhongguo Baike Dacidian menyebut pada awalnya kata itu digunakan untuk menyebut nama suku-suku di sebelah utara Pegunungan Himalaya. Kemudian digunakan untuk menyebut negara Zhongguo, yang dalam bahasa Hokkian berbunyi Tiongkok dan dalam bahasa Inggris berbunyi China.

Kong Yuanzhi, seorang dosen dan peneliti budaya dari Peking University, dalam bukunya, Yindunixiya Malaixiya Tanxi (Analisis Kebudayaan Indonesia dan Malaysia) (2000: 300), mengutip kalimat dari Kitab Kumpulan Terjemahan Nama-nama (Fanyi Mingyiji), bahwa kata cina digunakan untuk menamakan negara yang berbudaya. Inilah makna asli kata cina.

Kata itu dalam bahasa Sanskerta berbunyi chîna, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin menjadi zhina. Kata zhina ini tidak digunakan oleh orang RRT dalam berkomunikasi. Untuk menyebut dirinya sebagai bangsa, mereka menggunakan Zhongguo ren atau Hua ren.

Kata chîna lalu masuk ke Indonesia tidak melalui bahasa Belanda atau Inggris. Di dalam kitab Mahabarata yang hadir di Indonesia sebelum orang Barat ke Nusantara, kata itu sudah tertera. Selain itu, kata cina tertera dalam Hikayat Hang Tuah dan Catatan Malaya pada abad ke-17, seperti kata Kong Yuanzhi.

Bagi mereka yang tidak menghendaki penggunaan kata cina, tolong pikirkan juga. Bagaimana dengan nama tempat Pondok Cina, haruskah diubah menjadi Pondok China; petai cina menjadi petai china, tahu cina menjadi tahu china, Bidara Cina menjadi Bidara China, pecinan menjadi pechinaan/petiongkokan/petionghoaan atau petai tionghoa, tahu tiongkok? Yang patut disadari, apakah pengubahan kata cina menjadi china/tiongkok/tionghoa serta-merta menghilangkan makna negatif yang katanya melekat pada kata cina itu? Apakah kata china/tionghoa dan tiongkok tidak dapat digunakan untuk memaki? Kalau berurusan dengan maki-memaki, semua kata dapat dibuat menjadi baik atau buruk, bergantung pada cara kita memperlakukan kawan bicara serta intonasi kalimat.

Kata cina dalam bahasa Melayu menyebar ke bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Dalam bahasa Melayu Palembang dan bahasa Jawa, kata itu mengalami penyesuaian menjadi cino. Nah, kata cino inilah dalam harian Ibu Kota tersebut diubah menjadi chino. Bagaimana pendapat pembaca sekalian tentang hal itu?

8 thoughts on “Wong Chino

  1. Menghina atau tidak itu lebih ke konteks penggunaan.
    Bahkan kata anjing tidak berarti penghinaan.
    Siapa si bodoh yg bilang kata “cina” menghina?

  2. Artikel yang bagus nih. Menambah pengetahuan saya.

    Setau saya, ini awalnya dari permintaan resmi pemerintah RRC melalui jalur diplomatik, agar kata ‘cina’ tidak lagi digunakan karena berkesan menghina.

    Saya setuju tentang konteks penggunaan. Sebetulnya nggak ada yang salah dari kata ‘cina’. Dan saya termasuk yang nggak mempermasalahkan kalau disebut ‘indon’.

  3. Terima kasih atas penulisan anda, sangat berguna bagi saya yang selama ini menanyakan kenapa media elektronik tersebut kerap menyebut China ketimbang cina. Bagi saya, kata cina sama sekali tidak berkonotasi negatif. Mungkin untuk pihak2 tertentu kata ini membangunkan kenangan kelam? Tetapi bukan berarti semua orang yang menggunakan kata tersebut bermaksud mencela. Bagaimana dengan kata belanda? Nanti akan disangkut pautkan dengan kata ‘wong londo’ yg dahulu disangkut pautkan dengan penjajah. Berarti kita harus menggantinya donk dengan Holland ato Netherland?. Jangan terlalu naif lah

  4. Artikel yang bagus dan perlu disampaikan kepada para pemilik media. Saya sendiri keturunan cina kok, dan dengan adanya artikel ini, saya merasa bangga karena hubungan dengan Cina sudah terbentuk sejak zaman dulu dimana Indonesia masih berbahasa Sansekerta.

    Istilah cina justru membuktikan kedalaman budaya Indonesia dan bukan untuk menghina.

    Indonesia Jaya!

  5. saya punya pengalaman mengenai Cina dan China.
    waktu saya menelpon ke kedubes China, saya mengucapkan “betul ini kedubes Cina?” dan lawan bicara saya membalas “bukan Cina tapi China!”
    saya waktu itu gak ngerti, lha kan sama aja sih..tapi ya saya turuti aja kemauannya, “oh ya, China” dengan nada bingung tentunya.

  6. Ping-balik: Sepakat untuk tidak sepakat « nan tak (kalah) penting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s