Pesan (Tak) Sampai

Majalah Tempo, 20 Okt 2008. Uu Suhardi: Redaktur Bahasa Tempo.

Tiger Woods dan Vijay SinghSEBUAH koran Ibu Kota baru-baru ini menulis, “Vijay Singh menggantikan posisi Woods.” Pada Ramadan lalu, satu stasiun televisi nasional melaporkan, “Ruang sidang dipenuhi oleh sekitar seratus massa.” Sampai pekan lalu, sebuah kantor besar masih memasang tulisan di pintu masuknya: “Tidak menerima sumbangan dalam bentuk apa pun.”

Kalau kita baca sekilas, seolah tidak ada yang salah dalam ketiga kalimat tersebut. Dan mungkin, bagi penyusun masing-masing kalimat itu, yang penting pesannya sampai. Padahal, kalau kita baca dengan saksama, ketiganya mengandung kesalahan yang mengakibatkan kerancuan.

Untuk kalimat pertama, penulis berita olahraga itu hendak menyampaikan pesan kepada pembaca bahwa (Tiger) Woods tidak bisa bertanding golf sehingga digantikan Vijay Singh. Jadi jelas bahwa yang digantikan Singh adalah Woods, bukan posisi Woods. Kerancuan terjadi karena tumpang-tindihnya pemakaian kata “menggantikan” dan “mengisi posisi”. “Mengisi” tergeser oleh “menggantikan” sehingga “posisi” menjadi kata mubazir yang menghasilkan kalimat rancu.

Bentuk “menggantikan posisi” ini begitu kerap muncul di media, seiring dengan salah kaprah lain seperti “mengejar ketertinggalan” (alih-alih “mengatasi ketertinggalan”) dan “mengentaskan kemiskinan” (alih-alih “mengentaskan orang miskin” atau “memberantas kemiskinan”). Contoh lain bentuk rancu yang banyak muncul di media adalah “termasuk salah satu”, seperti dalam kalimat “Tokoh itu termasuk salah satu putra terbaik Indonesia”. Kata “termasuk” tidak dibutuhkan di situ karena sama sekali tidak berfungsi.

Untuk kalimat “Ruang sidang dipenuhi oleh sekitar seratus massa”, betulkah pemakaian kata “massa” di situ? Mungkin pesannya sampai kepada pendengar. Namun, menurut kamus mana pun, “massa” berarti “kumpulan orang” atau “jumlah yang banyak sekali”. Jadi ada kesalahan memilih kata dalam kalimat itu. Jika “massa” diganti dengan “orang”, pesan yang sampai akan tepat sama dengan yang dimaksudkan oleh pelapor. Bandingkan dengan kalimat “Dua massa itu berhadap-hadapan”.

Selain “massa”, kata yang sering dipakai dengan tidak tepat antara lain “jemaah”, “pasukan”, dan “staf”. Ketiga kata itu masing-masing berarti “kumpulan/rombongan orang”, “kelompok/kumpulan/kawanan”, dan “sekelompok orang yang merupakan kesatuan dan bekerja sama…”. (Dalam bahasa Inggris, menurut Webster’s New World Dictionary, 1991, staff bermakna “a group of people assisting a chief…; a group of officers serving a military…; a specific group of workers or employees”.)

Jika penyusun berita memahami makna kata-kata itu, tentu tak akan muncul kalimat semacam ini: “Dua jemaah haji Indonesia meninggal dunia”, “Seribu pasukan disiagakan di perbatasan”, dan “Dua staf Palang Merah Internasional hilang di Pakistan”. Dengan menambahkan kata “anggota” di depan ketiga kata itu, semua kalimat tersebut terhindar dari kerancuan.

Masih soal “anggota”, ada satu frasa yang sering muncul dalam berita mengenai pemilihan wakil rakyat, yaitu “calon legislatif”. Kalau kita pahami “legislatif” sebagai kata serapan dari (nomina) legislative dalam bahasa Inggris yang bermakna “the lawmaking branch of a government; legislature” (Webster’s New World Dictionary, 1991), tentu kata “anggota” wajib ada sebelum kata “legislatif” itu.

Bagaimana dengan kantor besar yang “tidak menerima sumbangan dalam bentuk apa pun”? Benarkah kantor itu tidak mau diberi sumbangan? Dapat kita pastikan, pesan yang hendak disampaikan penulis pengumuman itu justru sebaliknya, yakni kantor tersebut tidak menerima permintaan-bukan tidak mau diberi-sumbangan. Ada kata yang hilang, yaitu “permintaan” atau “permohonan”. Jadi tulisan yang tepat adalah “tidak menerima permintaan sumbangan” atau “tidak menerima permohonan sumbangan”.

Bentuk lain yang mirip, yang sering muncul di media, adalah “mengajukan grasi”, seperti dalam kalimat “Terpidana bisa mengajukan grasi”. Sebenarnya, apa yang bisa diajukan terpidana? Grasi atau permohonan grasi? Kalimat berikut ini mungkin dapat membantu menjawab: “Terpidana bisa memohon grasi.”

Sumber foto: Daylife.

Iklan

One thought on “Pesan (Tak) Sampai

  1. Wah, benar-benar menarik. Banyak pelajaran yang saya dapatkan terkait beberapa bentuk salah kaprah di media massa. Perlu diperhatikan, pastinya, agarkita tidak terjerumus pada kesalahan serupa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s