Bahasa yang Melindungi

Majalah Tempo, 10 Nov 2008. Bambang Bujono: Wartawan.

EUFEMISME dan sifat arbitrer pada bahasa memungkinkan pembentukan bahasa “baru”. Dua hal inilah yang memungkinkan terbentuknya bahasa prokem, misalnya, bahasa yang konon digunakan oleh para preman sebagai bahasa rahasia di antara mereka. Disebut rahasia karena bahasa itu mirip kode-kode yang digunakan di antara mereka. Bahasa ini digunakan, antara lain, untuk memberikan informasi bila ada sesuatu yang membahayakan mereka. Varian dari bahasa prokem adalah bahasa gaul, yang digunakan oleh, biasanya, para remaja. Para remaja menggunakan bahasa ini terutama bukan untuk menghindari bahaya, melainkan lebih untuk gagah-gagahan, lebih untuk menyatakan identitas bahwa mereka berbeda dengan, misalnya, kaum dewasa. Misalnya, bodrex (bodoh), ciptadent (berciuman).

Sejenis dengan bahasa prokem dan gaul, yang tak banyak dibicarakan, adalah bahasa di kalangan waria. Sebuah skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, membahas ihwal bahasa waria (Sius Yangni, 2004: “Representasi Seksual dalam Bahasa Waria”). Bagaimana awal munculnya bahasa waria ini tak terlacak. Sangat mungkin bahasa waria ada bersamaan dengan bahasa prokem. Yang jelas, bahasa waria lebih dulu ada dibandingkan dengan bahasa gaul.

Lebih dari bahasa prokem, bahasa waria lahir-tersimpulkan dari skripsi ini-dari bawah sadar, semacam survival of the fittest, untuk bertahan hidup. Bahasa ini lahir bukan di ruang aman suatu pergaulan antarwaria, melainkan di daerah “gelap” pelacuran waria. Dua kondisi mendorong lahirnya bahasa ini. Pertama, mereka, para waria yang menjajakan diri, takut dijahati oleh konsumen mereka. Kedua, bahkan sebelum Undang-Undang Pornografi ada, para waria menyadari bahwa berkaitan dengan seksualitas “menyimpang” (kata ini perlu tanda kutip, karena praktek homoseks dan lesbian tak dianggap menyimpang oleh Departemen Kesehatan RI dan Badan Kesehatan Dunia, WHO), ada sensor resmi (oleh polisi, misalnya) ataupun tak resmi (masyarakat). Seandainya pun mereka menyadari pernyataan Departemen Kesehatan dan WHO, praktek pelacuran itu cukup untuk membuat mereka merasa menyimpang.

Sebenarnya istilah “bahasa” dalam konteks ini tidak tepat benar. Yang terjadi sebenarnya adalah penciptaan kata-kata baru. Lukman Ali (almarhum), pemerhati bahasa Indonesia yang tekun, dalam artikel “Kata-kata Aneh Bernama Prokem, Mengacaukan Bahasa Indonesia” (dalam Lengser Keprabon, Pustaka Firdaus, 2000), mencemaskan masuknya kata-kata prokem menjadi kata baku bahasa Indonesia. Mungkin ia mencemaskannya karena kata-kata prokem juga digunakan dalam bahasa gaul remaja dan kadang masuk dalam percakapan orang dewasa. Misalnya, yang populer, ember (memang).

Dalam hal ini, bahasa waria tak perlu dicemaskan karena sejauh ini hanya hidup di kalangan waria, tak menyebar luas ke masyarakat. Yang bukan waria tak ambil bagian. Selain itu, makna kata bahasa waria begitu cair, mudah digunakan dalam arti berbeda-beda, bergantung pada konteks atau situasi. Di samping itu, sebagian besar bahasa waria berkonotasi seks dan pelacuran, kata-kata yang hanya digunakan di tempat, waktu, dan oleh kalangan terbatas, contoh kelewong (keluar, orgasme), esong-isabela (seks oral), aida-aida mustafa (hati-hati, AIDS).

Bila bahasa (baca: kata) waria digunakan oleh kalangan di luar dunia waria, itu karena kata tersebut masuk ke dalam bahasa gaul yang digunakan para remaja. Dan sangat mungkin kata tersebut, yang masuk dalam kosakata bahasa gaul, sudah dihapus dari dunia waria.

Dalam dunia waria sendiri (di tempat mereka menjajakan diri), bahasa waria menjadi satu kekuatan: penemuan dan penegasan identitas kewariaan. Di dunia itu mereka menemukan diri mereka dan merasa aman. Mereka adalah “host”, sedangkan yang lain, para lelaki konsumen, adalah “tamu”.

Dengan praktek seperti itu, andai masyarakat menerima waria sebagaimana menerima lelaki dan perempuan, bahasa waria akan tetap ada. Di sini bahasa tak hanya membuktikan bisa mempersatukan dan melahirkan satu bangsa, juga bisa melindungi dan menjaga eksistensi sekelompok manusia yang kebetulan waria. Mereka juga seperti lelaki dan perempuan, perlu pecongan (pacaran), juga butuh mekong atau makassar (makan). Mereka pun takut kepada lelaki kassandra (kasar) dan tak mau dibayar mursida (murah) serta mudah jatuh cinta kepada berondong (lelaki muda).

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s