Bahasa Televisi

Majalah Tempo, 17 Nov 2008. Wilson Sitorus: Praktisi televisi.

DARIPADA mempersoalkan (adegan) banci di layar kaca dengan dalih berpotensi merusak mental anak, ada pekerjaan yang lebih tepat dan lebih serius untuk Komisi Penyiaran Indonesia: menunjukkan fungsinya dalam menata bahasa Indonesia, seperti yang diamanatkan Undang-Undang Penyiaran, meskipun sejatinya televisi adalah alat, bukan tujuan (Neil Postman, Amusing Ourselves to Death, NYU, 1985).

Mari kita periksa studi kasus acak berikut ini.

Reporter Lintas 5 (TPI, 29 September 2008) melaporkan suasana jalan tol Kanci sudah sepi dari kendaraan pemudik dan Jasa Marga sedang bersiap menyambut arus balik mudik. Yang dimaksudkan reporter tersebut adalah arus balik (ke Jakarta) dari para pemudik. Tapi penyebutan arus balik mudik terdengar aneh, karena sesungguhnya: arus balik mudik adalah arus balik, lalu mudik lagi, lalu balik lagi, lalu mudik lagi.

Bahasa reportase yang digunakan pada program Fokus (Indosiar, Fokus Malam, 29 September 2008) juga membingungkan. Reporter Fokus mengatakan situasi arus mudik di jalan tol Kanci aman dan terkendali. Lawan kata aman adalah tidak aman, sedangkan lawan kata terkendali adalah tidak terkendali. Jika membuat reportase hal yang berhubungan dengan arus lalu lintas, kalimat yang pas adalah lancar atau tidak lancar. Jika tetap menggunakan frasa aman dan terkendali, logikanya adalah ada saat ketika jalan tol Kanci tidak aman (dari apa, dari siapa?) dan tidak terkendali (ada kerusuhan apa?).

Program Metro Realitas (Metro TV, 29 September 2008, episode Lumpur Sidoarjo) malah menggelikan. Sebuah narasi (voice over) di tengah program berbunyi begini: “Pemirsa, seperti yang telah disebut di atas….” Sang pengisi suara hanya membaca naskah yang disiapkan, tapi tidak memperhatikan keseluruhan konteks. Pemakaian bahasa seperti yang telah disebut di atas sesuai untuk gaya bahasa tulis, tapi tidak pas untuk bahasa reportase lisan.

Penyiar Trans TV (program Reportase, 29 September 2008) menjelang jeda (break) mengatakan “jangan ke mana-mana setelah pariwara berikut ini”. Tapi yang ditayangkan kemudian adalah promosi sebuah program. Pariwara adalah iklan, advertensi, uar-uar dalam pengertian produk atau jasa. Adapun promosi program tidak termasuk kategori pariwara, melainkan promosi atas jadwal penayangan program tersebut. Penayangan promo program tidak perlu mendapat izin dari Lembaga Sensor Film, sedangkan pariwara wajib mendapat surat tanda lulus sensor.

Krisis keuangan global rupa-rupanya juga mengakibatkan krisis logika bahasa di program Apa Kabar Indonesia Malam (TV One, 26 Oktober 2008). Dilaporkan bahwa harga saham Nikkei jatuh. Seperti halnya Bursa Efek Jakarta, Nikkei tidak menerbitkan saham, karena itu tidak menjual saham. Nikkei adalah lantai bursa tempat saham-saham perusahaan tercatat (listed) diperdagangkan.

Istilah buyback, yang sering diucapkan pembawa acara Liputan 6 Sore (SCTV, 25 September 2008), sangat mudah dialihbahasakan menjadi membeli kembali, tanpa kita kehilangan makna dan rasa bahasa aslinya.

Adapun pada pemberitaan Jak TV tertulis: “Mantan Gubernur BI diperiksa Mabes Polri”. Bukankah Mabes Polri adalah singkatan dari Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia? Mabes Polri adalah sebuah institusi, bukan sosok seseorang yang bisa memeriksa orang lain.

Karut-marut kesalahan berbahasa juga terjadi dalam alih bahasa (subtitle) di televisi. Saya sempat mencatat kesalahan fatal yang dilakukan tim alih bahasa ANTV dalam blockbuster big movie Tomb Rider. Situs yang dimaksud Lara Croft (diperankan Angelina Jolie) adalah situs atau sebuah area (wilayah penggalian) dari masa prasejarah; sama seperti, misalnya situs Sangiran. Tapi terjemahan yang disajikan untuk penonton, situs dalam konteks Internet.

Tim alih bahasa Bioskop Trans TV juga salah (misleading) mengartikan amendemen kelima. Ini adalah istilah dalam sistem hukum Amerika Serikat, tidak merujuk ke proses BAP di kepolisian seperti yang kita kenal. Dan jangan lupa, pesawat kepresidenan Amerika Serikat tidak cuma Air Force One. Helikopter juga merupakan moda angkutan Tuan Bush dan selalu siap di Gedung Putih jika dia akan bepergian dalam jarak tempuh yang tidak terlalu jauh.

Entah karena bermaksud meng-ABG-kan bahasanya, alih bahasa pada blockbuster Global TV malah jadi aneh. Dengan tujuan “mendekatkan” pemirsa dengan terjadinya peristiwa, Los Angeles Police Department (LAPD) sah-sah saja dialihbahasakan menjadi polda. Tapi unit 12 (sebuah unit kecil taktis dalam kesatuan LAPD) tidak bisa dialihbahasakan dengan polsek. Unit 12 (seperti halnya unit-unit lain yang dibentuk) bersifat lebih sederhana, taktis, terdiri atas polisi pilihan, dan memiliki tugas khusus yang akan dibubarkan setelah tugas tersebut selesai. Bila ingin melakukan proksimiti, Unit 12 LAPD lebih sesuai dengan cyber crime unit di Polda Metro Jaya.

Puncak dari kekisruhan bahasa terjadi ketika seorang reporter dari sebuah radio dangdut di kawasan Jakarta Timur menggunakan istilah pamer paha untuk merangkum reportasenya ihwal kondisi lalu lintas di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek. Pamer paha yang dimaksudkannya adalah padat merayap parah habis….

Mungkin sudah waktunya bagian pemberitaan di televisi mulai membentuk tim redaktur bahasa-seperti halnya di media cetak-yang dengan sigap memeriksa bahasa Indonesia yang akan digunakan pembaca berita sebelum tayang.

Sumber ilustrasi: Wikimedia Commons.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s