Menyongsong Pemilihan Jenderal 2009

Majalah Tempo, 22 Des 2008. Amarzan Loebis.

DARI Yogyakarta, adik saya mengirim pertanyaan: kenapa istilah Inggris general secretary diindonesiakan menjadi “sekretaris jenderal”, padahal mestinya “sekretaris umum”? Memangnya general hospital harus diterjemahkan jadi “rumah sakit jenderal”?

Saya tercenung sejenak. Adik saya ini, kebetulan, belajar bahasa Inggris lumayan tuntas di sebuah perguruan tinggi di Wellington, Selandia Baru. Kebetulan pula, ia menikah dengan perempuan Jerman yang mempelajari bahasa Indonesia lumayan khusuk di Universitas Indonesia, Jakarta.

Karena itu saya balas SMS-nya: “mengapa tak kau tulis saja perkara ini di media massa?” Dia menjawab, dengan gaya batak-merendah, “Abang sajalah yang menulis. Mana pulak orang mau membaca tulisanku?”

Bahasa Indonesia menyerap “jenderal” dari Belanda (generaal) atawa Inggris (general) dalam keadaan yang tidak betul-betul siap. Akibatnya, ketika kata itu mengalami bentukan, muncullah pelbagai “varia bahasa” yang menggelikan.

Dalam semua kamus Inggris-Indonesia yang saya kenal, secara umum general memang diterjemahkan menjadi “1. jenderal, 2. hal yang umum”-dan berbagai varian di sekitar itu. Ketika saya melongok kamus favorit saya, Kamus Dwibahasa Melayu-Inggeris Inggeris-Melayu atau yang biasa disebut “Kamus Pelanduk”, tetap saja general diterjemahkan tak jauh-jauh dari situ, yakni “kebiasaan; am; umum; ramai; agung; jeneral….”

Sejak awal, memang, sudah timbul berbagai kerepotan mengenai kata serapan yang satu ini. Hingga medio 1960-an, misalnya, para pemakai dan ahli bahasa Indonesia tidak pernah berhasil menemukan padanan frasa Belanda generaal repetitie. Digunakanlah “metode” pelafalan langsung, “jenderal repetisi”, walaupun, sebetulnya, pilihan yang lebih senonoh adalah “repetisi jenderal”.

Orde Baru menyelamatkan urusan ini dengan mengangkat dari bahasa Jawa frasa “gladi resik”-yang sama sekali bebas dari “pengaruh” jenderal. Sekali-sekali, di sini-sana, terdengar juga frasa “gladi bersih” untuk maksud yang sama. Artinya, dalam upaya pengindonesiaan, bahasa daerah punya peran penyelamatan yang cukup signifikan (!).

Secara Inggris, mana sebetulnya lebih dulu: general sebagai “jenderal” atawa general sebagai “am, umum” dan sebagainya itu? Bisa saja dijawab: wallahualam bissawab! Tetapi, akal sehat tentulah mengatakan, “jenderal” datangnya belakangan.

Ketimbang menyelidiki kamus yang musykil-musykil, saya coba menyimak The Little Macquarie Dictionary, 1988, dengan General Editor David Blair. Di situ, lema general (hanya) diterangkan sebagai

“1. pertaining to the whole, or to all members of a class or group; not partial or particular. 2. not specific or special”.

Jelas, tak ada urusannya sama sekali dengan jenderal mana pun.

Memang mudah sekali muncul pembelaan: setiap bahasa memiliki kosakata dengan potensi bermakna ganda. Tak usahlah jauh-jauh: bahasa Indonesia, misalnya, mengenal kata “bujang”, yang dalam bahasa Melayu berarti (nuwun sewu) alat kelamin perempuan, padahal bahasa Indonesia, konon, diangkat dari bahasa Melayu.

Kembali kepada general, mungkin belum terlambat membenahi kelatahan “militeristik” ini. Kita memang telanjur menggunakan “sekretaris jenderal” untuk general secretary, padahal atasan sang sekretaris jenderal “cuma” kita sebut “ketua umum”-bukan “ketua jenderal”.

Satu di antara kesulitan teman-teman di media massa (cetak) ialah bila berhadapan dengan istilah general manager. Sering muncul pertanyaan, apakah istilah kejabatanan ini tetap ditulis sebagaimana aslinya dengan cara “dibaringkan” (italic), atau boleh “berdiri saja”, atau bisa diterjemahkan sebagai “manajer umum”, atau bagaimana?

Kalau tergantung saya, tulis saja sebagaimana aslinya, tanpa harus dibaringkan. Memang ada beberapa perusahaan yang menggunakan istilah “manajer umum”, suatu keputusan yang patut dipuji. Tentu tak ada yang bernafsu menggunakan istilah “manajer jenderal”, sebab bisa pula diartikan sebagai “manajer yang bekerja di perusahaan (seorang) jenderal”.

Untunglah, kita menggunakan padanan “pemilihan umum” untuk general election. Padanan ini hendaklah kita pertahankan hingga titik darah penghabisan. Tak usah terpengaruh pada kenyataan banyaknya (pensiunan) jenderal yang akan bertarung pada Pemilihan Umum 2009 nanti, sehingga peristiwa itu kita sebut sebagai “pemilihan jenderal”.

Iklan

One thought on “Menyongsong Pemilihan Jenderal 2009

  1. Saya rasa juga umum dipakai dalam bahasa Inggris frasa ‘secretary general’. dalam kasus PBB misalnya: yang dipakai adalah Secretary General Kofi Annan, bukan General Secretary Kofi Annan. Bahasa Indonesia menyerapnya langsung sebagai Sekretaris Jenderal (biasa disingkat ‘sekjen’). Hal yang sama terjadi pada kata Direktur/Direktorat Jenderal (biasa disingkat ‘dirjen’). Saya juga kurang paham apa bahasa Inggris menyerap frasa ini dari bahasa lain, tengok misalnya di (http://nl.wikipedia.org/wiki/Secretaris-generaal).

    Karena sepertinya bahasa Inggris sering sekali menjadi ajuan istilah di Indonesia, yang jelas, kita tidak akan mengatakan Pemilihan Jenderal karena dalam bahasa Inggris tidak ada Election General.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s