Bahasa AIDS

Majalah Tempo 19 Jan 2009. Warief Djajanto Basorie. Pengajar di Lembaga Pers Dr Soetomo di Jakarta.

ISTILAH berkonotasi negatif apa sajakah yang membuat Anda marah? Bencong dan banci, ujar Ienes Angela, aktivis di Yayasan Srikandi Sejati, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang membela hak asasi kaum transgender. Sebaliknya, Ienes dapat menerima istilah waria atau wanita pria. Waria adalah lelaki dengan perilaku perempuan.

Sementara itu, Ria (bukan nama sebenarnya) menolak istilah pelacur dan WTS (wanita tunasusila). ”Saya lebih suka WPS (wanita penjaja seks) atau PS (pekerja seks),” kata Ria, yang menyebut dirinya sebagai petugas lapangan Warga Siaga, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak pekerja seks di Cirebon, Jawa Barat.

Baik Ienes maupun Ria berbagi pikiran dalam sebuah lokakarya AIDS di Jakarta pada November 2008, yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Keprihatinan mereka berhubungan dengan stigma diskriminasi dan penggambaran negatif terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS, khususnya mereka yang berada dalam kelompok berisiko tinggi terinfeksi HIV, virus penyebab AIDS. Penggambaran negatif tersebut diutarakan orang dalam bahasa negatif.

Istilah dan ungkapan yang memberikan cap buruk terhadap orang dalam kelompok berisiko tinggi dan orang yang hidup dengan HIV/AIDS merupakan hambatan usaha mengurangi penyebarannya. Membuat stereotipe, yaitu berpegang pada persepsi salah, hanya akan mencerai-beraikan kesatuan energi publik yang begitu dibutuhkan untuk menghentikan epidemi global ini.

Persepsi publik terhadap AIDS dapat dipengaruhi pemilihan problematis kata-kata dalam membahas isu AIDS. Pemilihan kata bermasalah mencerminkan ketidakpekaan dan ketidaktahuan sang pemakai kata tersebut. Pola pikir demikian inilah yang mengalahkan upaya menghentikan AIDS dengan pendekatan menyeluruh dan terpadu. Di lain pihak, pemakaian bahasa yang tepat dan dapat diterima secara budaya tidak saja membuat publik peka terhadap isu AIDS, tetapi juga turut memajukan hak asasi manusia.

Misalnya, apakah seorang dengan HIV/AIDS dapat disebut sebagai korban HIV/AIDS atau penderita HIV/AIDS? Istilah ini mengesankan orang tersebut dalam keadaan tak berdaya. Seorang korban tidak dapat melakukan apa-apa tentang situasinya. Seseorang dengan HIV sebenarnya dapat menanggulangi situasi dirinya. Pengistilahan yang tepat ialah orang dengan HIV atau orang hidup dengan HIV. Pengistilahan ini juga berlaku sama untuk pasien AIDS atau pasien HIV.

”Mati karena AIDS” adalah pemilihan kata bermasalah lain. AIDS bukan sebuah penyakit (disease). Ia merupakan sindroma atau kumpulan keadaan sakit (illness) berawal dari rapuhnya jejaring kekebalan tubuh yang dirusak infeksi HIV. Orang mati karena penyakit berhubungan dengan AIDS seperti pneumonia atau tuberkulosis. Jadi, istilah yang layak dipakai ialah ”mati karena penyakit sehubungan dengan AIDS.”

Istilah bernada sensasi untuk menggambarkan epidemi ini seperti ”bencana AIDS” dan ”AIDS bak penyakit pes” sebaiknya dihindari. Istilah demikian dapat menimbulkan keresahan, bahkan kepanikan. Istilah layak ialah epidemi HIV atau epidemi AIDS. Juga ungkapan ”perang melawan HIV/AIDS” hendaknya tidak dipakai. Istilah itu berbahasa tempur dan mengesankan orang hidup dengan HIV harus dilawan. Bahasa layak pakai ialah ”tanggapan terhadap HIV dan AIDS”.

Sebuah buku kecil UNESCO terbitan 2006 mengenai bahasa berkaitan dengan AIDS menyediakan panduan pemakaian bahasa layak, terutama bahasa yang menghormati kalangan penduduk yang rentan terhadap penularan HIV. Selain pekerja seks dan wanita pria, pemakai narkoba juga merupakan penduduk kunci karena perilaku berisiko tinggi mereka dalam menggunakan jarum suntik terkontaminasi. Pecandu narkoba, penyalah guna obat bius, itu merupakan pemilihan kata bermasalah. Istilah layak pakai ialah pemakai narkoba atau pemakai narkoba suntik (penasun).

Seseorang yang membuat tulisan tentang AIDS untuk brosur, poster, lagu, dan juga dalam tulisan untuk media, selayaknya peka terhadap stigma dan diskriminasi. Ini berarti sang penulis hal ihwal AIDS itu bersikap rasional dan menghindari sensasi seperti menggunakan foto orang sekarat. Pemakaian bahan demikian mengarah ke cap buruk dan menyulut rasa takut.

Lebih lanjut, peliputan tentang AIDS hendaknya tepat fakta dan berbasis ilmiah. Contohnya, adalah tidak tepat untuk menyatakan infeksi HIV disebabkan hubungan seks dengan aneka mitra. Orang yang melakukan hubungan seks dengan berbagai pasangan dapat menghindari penularan karena para pelaku memakai kondom. Sebaliknya, penularan dapat timbul dari hubungan seks tidak aman sekalipun dengan satu mitra saja. Seorang istri penganut monogami dapat ditulari suaminya yang biasa berkunjung ke lokalisasi dan tidak memakai kondom. Jadi, fakta tepat ialah seks tak aman dapat menyebabkan infeksi HIV, bukan seks bebas.

Akhir kata, AIDS itu epidemi mendunia. Bahasa tepat dan layak pakai berarti dapat membantu membuat publik peka terhadap AIDS dan mengurangi penyebarannya. Bilamana orang melepaskan stigma mereka terhadap semua Ienes dan Ria di dunia, kita mendapat peluang lebih baik untuk mencapai sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goal) dalam HIV/AIDS: menghentikan epidemi ini pada 2015, dan memutarbalikkan penyebarannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s