Dari Te Laat hingga Klaar

Majalah Tempo 2 Feb 2009. Ekky Imanjaya. Pengamat budaya Indo dan film Indonesia.

Di Belanda, ada sebuah baha sa yang lazim disebut bahasa Pecok (juga dieja sebagai Pe tjo atau Petjoh). Inilah bahasa yang digunakan kaum Indisch (Indo Eropa) pada abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20, yang awalnya berasal dari Hindia Belanda. Menurut Wikipedia, bahasa campur-campur ini diperkirakan menghilang pa da akhir abad ke-21. Bahasa kaum Indo adalah campuran antara baha sa Belanda, Melayu, Betawi, dan Jawa. Dari tata bahasa, ia mengikuti baha sa Melayu, sedangkan dari leksikon, bahasa ini merujuk bahasa Belanda.  Yang berjasa mempopulerkannya adalah sastrawan-jurnalis Tjalie Robinson alias Vincent Mahieu, tokoh utama budaya Indo yang juga dikenal sebagai penggagas Pasar Malam Besar di Den Haag pada 1959.

Setahun saya di Belanda (2007-2008) tentu sudah tidak merasakan sensasi Pecok. Namun saya merasakan sensasi kebahasaan di sana. Pertama adalah istilah-istilah yang sudah akrab di telinga. Sebut saja persneling (roda gigi ), brandweer (pema dam kebakaran), kopling, zakelijk  (saklek, sikap kaku/ketat), bezoek (berkunjung), korting (rabat), arloji,  verboden (dilarang masuk), serta achteruit (ateret, jalan mundur). Dan tentu saja ikke (saya) dan jij (kamu), yang sekarang dipakai kaum waria. Kata lainnya adalah knalpot, bekleding (penyelubungan tempat duduk dengan lapisan lain), vermaak (permak), absurd, afdruk (cetak), belasting (tarif, pajak), bestek (bistik), handel (pegangan), kansel, krat, loket, marmer, masker, matras, rekening, rimpel, tank, oom (om), tante, dan wastafel.

Sensasi kebahasaan kedua di Belanda adalah kata-kata yang sudah mengalami proses resapan dan menjadi bahasa Indonesia. Misalnya benzene (bensin), koffer (koper), koelkas (kulkas), handoek (handuk), kartjes (karcis), reparatie (reparasi), fotomo del (model foto), giro, jas, kabinet, kanker, gratis, bom, debat, drama, fabel, wortel, onkosten (ongkos), atau kantoor (kantor). Ba ha sa Jawa tak ketinggal an: spoor (sepur, pe ron), dan fiet sen (pit, sepeda). Bahkan ada humor po pu ler yang me nya ta kan bahwa gedang (Jawa: pi­sang; Sun da: pe pa ya) ber asal  dari ucap an tentara Be lan da  di masa pen ja jahan yang se te lah di tolong pendu duk setempat dengan pemberian buah menyatakan syukur: ”God dank” (terima kasih, Tuhan). Sensasi itu ”dari te laat (telat) hingga klaar (kelar),” kata Yudi Bachrie, kawan saya yang sedang menempuh S-2 sejarah ekonomi di Universitas Leiden.

Ketiga, ternyata dalam percakapan pun, disadari atau tidak, kita masih sering menyelipkan kata Belanda seperti klop (dat klopt), persis (precies), dan toh (toch) sebagai tekanan dari kalimat itu.

Kabarnya, ada sekitar 5.000 diksi  Belanda yang masuk kamus bahasa Indonesia, dan sebaliknya ada 500 ka ta Indonesia di negeri Belanda. Unik nya, sebagian besar kata Indonesia itu berhubungan dengan makanan. Simak saja: pedes, ajam ketjap, kroe poek, nasi goreng, sambel, serundeng, sate. Sambal pun bermacam-macam: sambel batjak, sambel brandal, sambel trasi, sambel oeloek.

Di antara bervariasinya saus (dari mayonese hingga bawang), yang teristimewa adalah saus sate yang ada­lah saus kacang. Tentu saja semuanya masih me makai ejaan Van Ophuijsen. Hal-hal sepele ini mem buat saya tak terlalu terasing berada jauh dari Tanah Air. Apalagi ca ra mengejanya sama.

Yang unik, sa at makan di Mok Sam (restoran Suriname -Cina) di bilangan Ceintuurban, saya melihat beberapa ma kanan yang mirip dengan yang ada di negeri ini. Talo adalah telo goreng bertabur abon dari ikan tuna. Sedangkan sato adalah soto dalam mangkuk kecil layaknya soto kudus. Dan pisang goreng di sana dimakan dengan bumbu kacang.

Apakah bisa disimpulkan bahwa fenomena ini berhubungan dengan bahasa Pecok? Ini tugas akademisi ilmu humaniora untuk menelitinya lebih dalam.

Iklan

5 thoughts on “Dari Te Laat hingga Klaar

  1. yang paling menohok saya adalah kata ‘toh’ (dari ‘toch’). selama ini saya kira itu adalah ekspresi asli bahasa Jawa. dosen linguistik saya, saat saya tanyakan tentang fenomona ‘toh’ yang kerap juga terdengar dalam wicara kawan-kawan dari Papua, berkata bahwa ‘toh’ yang dipakai di sana adalah pengaruh bahasa Jawa. Waduh, ternyata dia salah besar. haha…

  2. Wah, belum tentu, pak Ginting.
    Saya lebih percaya dosen linguistik anda, yang menyatakan bahwa “toh” berasal dari pengaruh bahasa Jawa.
    Rak iyo, to?

  3. Kata toh atau toch dalam bahasa Belanda memang mempengaruhi bahasa Jawa dan Papua. Jangan lupa kalau di Jawa dan Papua pun pernah dibuka sekolah berbahasa Belanda.

  4. Menyambung lidah atas tiga komentar di atas, tolong yang di bawah saya nanti (semoga bisa) menjelaskan mana yang benar: “toh” itu serapan dari bahasa Jawa atau bahasa Belanda?

    Terlepas dari semua itu, karena saya seorang sarjana humaniora, berarti apa yang dikemukakan penulis dalam kalimat terakhirnya termasuk tugas besar; namun, sedari sekarang saya menyatakan diri mundur-teratur, hehehe.

  5. terima kasih banyak atas tanggapannya.
    Atau mungkin jangan2 malah sebaliknya: “toh” ini adalah bahasa jawa yang diserap di kamus bahasa Belanda? harus diteliti lagi.
    Tapi ekspresi “toch”, dalam bahasa Belanda (atau orang Indonesia yang kebelanda-belandaan) acap dan lazim terlontar di negeri Belanda. sedangkan tanah Jawa adalah bekas jajahan Belanda yang selama ratusan tahun menerapkan budaya dan sistem pendidikan Barat. Ingat, tokoh pergerakan kita jaman dahulu (termasuk yang dari Jawa seperti Soewardi Soerjaningrat dan Tjipto Mangunkusumo) menulis dan berdiskusi dalam bahasa Belanda, dan bahasa Belanda saat itu adalah bahasa pergaulan yang menunjukkan keakraban kita dengan lawan bicara.

    Dan yang jelas, Bahasa Jawa juga tak lepas dari pengaruh bahasa Belanda seperti: spoor (sepur, numpak sepur, padahal arti aslinya adalah peron alias platform), dan fietsen (pit, sepeda).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s