Presiden Petahana

KOMPAS, 6 Feb 2009. Salomo Simanungkalit.

Yang terang-terangan melantas sebagai calon presiden dalam pemilihan tahun ini memang Megawati Soekarnoputri. Namun, hampir pasti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lambat atau lekas bakal mengikuti langkah Megawati yang bergegas ini. Kalau tak begitu, mana mungkin sang presiden yang sedang bertakhta berbalas pantun melayani permainan yoyo yang ditantang bekas atasannya itu.

Maka, tak lama lagi kata incumbent akan bertebaran di koran maupun majalah dan diumbar di televisi maupun radio. Kata berkelas nomina yang pada tahun 1258 kali pertama dipakai dalam literatur populer berbahasa Inggris ini bermakna ’yang sedang mengemban jabatan’ atau ’pengemban jabatan’. Asal-usul kata ini tersua pada kata Latin incumbere, yang hidup sampai sekarang dalam usia lebih dari 2.500 tahun.

Dalam politik the incumbent adalah orang yang sedang memangku jabatan politik tertentu dan maju beradu dalam pemilihan untuk jabatan yang sama. SBY adalah the incumbent president dalam pemilihan presiden 2009. Sebutan ini berlaku bagi Megawati lima tahun silam. Jelaslah, incumbent baru meroyak di negeri ini sejak 2004, justru ketika rakyat mendapat kesempatan pertama memilih langsung presidennya, tak lagi diwalikan kepada MPR. Di zaman Soeharto kata ini terbenam dalam-dalam di kamus sebab sia-sia bicara mengenai the incumbent president, toh tak ada yang petentengan maju sebagai penantang.

Mumpung belum bersulih rupa jadi inkamben atas nama naturalisasi, mari mengais kamus menemukan jodoh setimpal bagi incumbent. Pejabat atau penjabat tak elok lagi ditambahi beban menggantikan kedudukan incumbent, yang sudah tercetak di tengah sekian tak terhitung wacana berbahasa Indonesia dalam lima tahun terakhir. Sebagaimana dicatat berbagasi kamus ekabahasa, pejabat ialah pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting, masuk dalam unsur pemimpin. Menteri, misalnya, adalah pejabat negara. Penjabat itu pemegang jabatan orang lain untuk sementara. Penjabat menteri dalam negeri adalah menteri yang untuk sementara mengemban tugas memimpin Departemen Dalam Negeri.

Orang yang (sedang) bertakhta boleh juga disebut sebagai petakhta. Ini tentu saja bentukan baru, meniru bentukan petinju yang bermakna orang yang bertinju. Maka, presiden petakhta adalah presiden yang sedang bertakhta. Dalam konteks pemilihan presiden, frasa ini bisa dicalonkan sebagai padan sepantar bagi the incumbent president. Di sini petakhta diletakkan setelah presiden, pindah kelas dari nomina ke adjektiva, untuk memberi atribut kepada presiden yang beradu dengan calon presiden lain dalam suatu pemilihan.

Calon lain yang sinonim dengan takhta dan sudah lama terdaftar sebagai kosakata bahasa Indonesia adalah tahana. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta, tahana jarang dipakai. Sebagaimana petakhta dibentuk dari takhta, petahana dapat diciptakan dari tahana. Saya kira petahana kandidat kuat padan bagi incumbent. SBY adalah presiden petahana dalam pemilihan presiden 2009. Kalau terpilih, dia jadi presiden bertahan.

Iklan

7 thoughts on “Presiden Petahana

  1. Ping-balik: Tujuan Pembangunan Milenium « nan tak (kalah) penting

  2. Ping-balik: “Impeachment” Pengithaman « Rubrik Bahasa

  3. Ping-balik: Cema dan Saman « Rubrik Bahasa

  4. Ping-balik: Arti Petahana « SMA Katolik Stella Maris Surabaya

  5. Petahkta atau petahana, padanan mana pun yang terpilih mesti didukung sebab sudah terlalu banyak istilah asing yang diserap secara utuh dalam bidang politik kita, maka perlu ditambahkan padanan serapan agar bahasa Indonesia tetap punya “harga diri”.

  6. Ping-balik: Pejawat dan Incumbent | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s