Agar

KOMPAS, 20 Feb 2009. Mulyo Sunyoto. Pemerhati Sintaksis.

Ada apa dengan partikel kelas konjungsi itu? Sebelum masuk inti perkara, saya melantur sepanjang dua alinea bersama agar.

Perempuan Yahudi yang mengandung, bersama sang suami, menyelesaikan soal matematika. Tentu tak perlu yang terlampau rumit atau terlalu mudah dipecahkan. Itu dilakukan agar si orok berlatih mengasah otak.

Agar memperoleh keturunan lantip seencer benak Yahudi, ibu berbadan dua Melayu bisa menjajal adat kaum Tzipi Livni itu. Bukankah tak berdosa mengikuti kebiasaan baik satu kaum, yang di sini oleh kebanyakan orang disebut (dengan sempit dada) Zionis?

Agar di kedua alinea di atas menjalankan peran lazimnya sebagai partikel kelas kata sambung. Peran tunggal itu pula yang diperlihatkan Harimurti Kridalaksana ketika dia membuat contoh pemakaian agar di buku Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Saat menelaah agar, penyusun Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) pun mendudukkannya hanya di kelas kata sambung.

Namun, simaklah koran-koran belakangan ini. Agar tak puas memainkan peran tunggal sebagai kelas kata yang tunamakna leksikal. Ia juga merambah di posisi adverbia. Berita mengenai konflik di Sri Lanka oleh Kompas, 31 Januari 2009 diberi tajuk: ”250.000 Warga Agar Dibebaskan”. Tak sulit menemukan pola kalimat macam itu di berbagai koran maupun majalah. Judul dengan kalimat Presiden Agar Memperhatikan Nasib Petani; Israel Agar Divonis Sebagai Penjahat Perang; Gaji Guru Agar Dinaikkan menguatkan posisi agar sebagai kata keterangan.

Redaktur yang membiarkan agar bersinonim dengan perlu atau harus bisa disanjung karena membidani bayi agar sebagai adverbia. Namun, bisa juga dicela sebab tak mafhum aturan sintaksis seperti dianjurkan TBBBI. Dibandingkan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, TBBBI kurang populer. Kalau wartawan dan redaktur tak pernah membacanya, itu bisa dimaklumi. Akibatnya sengkarut gramatikal dalam kalimat muncul di media massa cetak. Kerancuan sintaksis dalam pemakaian partikel subkategori kata sambung agar hanya satu dari sekian kasus yang mencuat.

Evolusi ekspansif konjungsi agar di ranah adverbia mungkin mengikuti rekannya sesama partikel konjungsi, sebab. Namun, untuk pindah kelas dari konjungsi ke verba, juga ke nomina, sebab harus melengkapi diri dengan imbuhan. Tanpa imbuhan, sebab harus puas di tempat asalnya. Memperlakukan sebab sebagai verba tanpa imbuhan hanya menjungkirkan logika. Hujan tiga hari tiga malam di Bogor sebab banjir di Jakarta. Kalimat ini menjadi logis setelah prefiks pe- dilekatkan di kata tugas itu.

Bagaimana menyikapi gejala ekspansif kata sambung agar? Haruskah sang pengguna taat asas memperlakukan konjungsi ini sebagaimana takdirnya sebagai kata tugas semata? Ataukah menerima gejala ini sebagai perubahan evolusioner yang merupakan kelaziman linguistik? Bila yang terakhir jadi pilihan, terimalah kemungkinan tata kata ini: Meskipun agar memperhatikan nasib petani, presiden tetap menaikkan harga pupuk.

Iklan

One thought on “Agar

  1. Ping-balik: Agar (Sekali Lagi) « Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s