Perubahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Majalah Tempo 2 Mar 2009. Warief Djajanto Basorie. Pengajar jurnalisme di Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) di Jakarta.

PUSAT Bahasa telah menerbitkan edisi keempat Kamus Besar Bahasa Indonesia. Toko-toko buku telah mulai menjualnya Desember lalu dengan harga Rp 375 ribu. Apa bedanya dengan edisi ketiga?

Pertama, nama kamus berubah. Kata-kata ”Pusat Bahasa” ditambah di belakangnya sehingga bernama Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat. Kedua, jumlah lema atau entri jauh lebih banyak: dari 78 ribu dalam edisi ketiga (2001) menjadi 90 ribu dalam edisi keempat. Edisi kesatu (1988) baru memuat 62 ribu dan edisi kedua (1991) 68 ribu lema. Jumlah halaman juga bertambah dari 1.382 menjadi 1.701.

Memang belum sebanding dengan Webster’s Encyclopedic Unabridged Dictionary of the English Language (1989), yang berisi 250 ribu lema. Tetapi KBBI dari edisi ke edisi memperlihatkan bahasa Indonesia berkembang terus. Lalu apa isinya?

Misalnya bunga. Lema ini berisi tujuh definisi, 58 sublema, enam peribahasa. Dalam pengertian ekonomi, bunga punya dua definisi dan sembilan sublema. Semuanya dimuat dalam dua kolom lebih.

Lampiran memuat kekayaan ragam informasi. Periksalah bagian Kata dan Ungkapan Asing. Dalam bidang informasi teknologi, lema baru tercatat, misalnya flashdisk (diska lepas), hacker (peretas), mouse (tetikus), web browser (peramban web), dan wireless modem (modem nirkabel). Tetapi tidak ada google (kata kerja), laptop, online, blogosphere, cyberspace, e-mail. Belum lagi e-paper, e-book, e-dictionary, e-library, e-government, e-crime.

Di dalam bagian Singkatan dan Akronim ada program dan lembaga pemerintah yang relatif baru, seperti BOS (bantuan operasional sekolah) dan BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi). Tetapi singkatan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) tidak bisa ditemukan.

Bagian Kata dan Ungkapan Daerah bertambah pula lemanya. Misalnya aek ni unte. Ini bahasa Batak yang berarti sajian berupa nasi dan ikan mas arsik yang dibawa pihak mertua sebagai kunjungan untuk cucu pertama yang dilahirkan putrinya. Juga ada masukan dalam bahasa Bali: trihita karana. Ini kearifan lokal tiga unsur yang menyebabkan kebahagiaan, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Tetapi ada satu ungkapan dalam edisi ketiga yang tidak ditemukan lagi dalam edisi keempat: aja dumeh, yang berarti jangan bersikap mentang-mentang lalu berbuat semau-maunya.

Sebuah kamus besar adalah kamus yang mencatat kekayaan suatu bahasa ”lengkap dengan segala nuansa maknanya”. Pernyataan dalam tulisan ”Latar Belakang Perkamusan Indonesia” pada halaman xxv KBBI ini tentu berarti mencari makna kata sesuai dengan pemakaiannya oleh masyarakat pada saat tertentu. Misalnya istilah hukum ”somasi”. Di dalam KBBI, somasi hanya berarti ”teguran untuk membayar….” Padahal, menurut pemberitaan pers tentang perkara hukum, konteks somasi sudah lebih jauh dari itu. Pihak yang merasa dirugikan menuntut somasi terhadap pihak yang dianggap merugikan. Pengertian ini perlu dijelaskan dalam kamus.

Sebuah kamus besar dapat diperkaya dengan perkembangan kosakata di berbagai bidang. Misalnya dalam hubungan internasional, ilmu pengetahuan, seni hiburan, dan bahasa gaul. Dengan mengikuti munculnya istilah-istilah baru di media massa, tidak sulit untuk mencatat calon lema baru. Misalnya, selama 2007-2008, pers mengikuti fenomena perubahan iklim dan melaporkan konferensi besar Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang isu ini di Bali, Desember 2007. Sayang, KBBI edisi keempat tidak mencantumkan di dalam lampiran istilah masa kini seperti climate change, sustainable development, dan REDD (reducing emissions from degradation and deforestation).

Istilah baku yang sudah dikenal masyarakat lebih dari 20 tahun juga belum dicantumkan dan belum diberi definisi dalam bagian Kata dan Ungkapan Asing. Misalnya civil society, AIDS, HIV, dan IDU (injecting drug user, pemakai narkotik dengan jarum suntik). IQ (intelligence quotient) sudah ada definisinya. Bagaimana dengan emotional quotient, physical quotient, spiritual quotient, dan transcendental quotient?

Belum lagi istilah dalam dunia hiburan seperti reality show dan film indie. Film indie merupakan film pendek yang dibuat secara kreatif dan independen. Dalam bahasa gaul, kata-kata seperti ”duren” (duda keren) dan ”cumi” (cuma mimpi) sudah muncul di media massa. Mengapa kamus mengabaikannya? Pusat Bahasa dapat lebih cermat merekam kosakata baru dalam pemakaian publik dan sudah tersebar lewat media massa.

Hendaknya daftar lema baru menurut bidang ilmu masing-masing ditulis dalam halaman tersendiri di lampiran. Begitu pula peribahasa sebanyak lebih dari 2.000 buah itu hendaknya dikumpulkan dalam satu bagian untuk kemudahan pengenalan.

Bagaimanapun, KBBI keempat sudah berisi aneka masukan baru dan informasi bermanfaat. Satu contoh lagi dalam lampiran ialah pemutakhiran jumlah penduduk dan nama daerah tingkat I dan II. Lewat KBBI keempat, Pusat Bahasa berhasil membuktikan bahasa Indonesia semakin kaya kosakata dan berdaya hidup dinamis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s