Perempuan dan Wanita

Majalah Tempo 20 Apr 2009. Qaris Tajudin. Wartawan.

SUATU kali, seorang teman perempuan melayangkan protes lewat pesan pendek: ”Kamu tidak konsisten. Terkadang memakai perempuan, terkadang memakai wanita.” Yang diprotes, tentu saja, adalah pemakaian kata perempuan dan wanita secara berganti-ganti dalam sejumlah tulisan saya.

Saya kemudian menjawab bahwa pemakaian kedua kata itu saya lakukan agar ada variasi. Tapi, rupanya, jawaban ini tidak memuaskannya. Menurut dia, saya harus konsisten memakai kata perempuan. ”Ini soal harga diri,” demikian dia menulis. Menyadari dia amat serius mempermasalahkan itu, saya bertanya lagi dengan sopan: memang apa salahnya memakai kata wanita? Dia menjawab begini: ”Wanita itu kepanjangannya wani ditoto, berani diatur!”

Saya tidak meneruskan perdebatan lewat pesan pendek itu. Pertama, karena saya memang kurang lincah menggerakkan ibu jari di atas tombol telepon. Kedua, karena hal seperti ini tidak mungkin dibahas tuntas lewat pesan pendek. Dalam pertemuan langsung, penjelasan saya akhirnya bisa dia mengerti, meski tetap tidak setuju.

Sebenarnya saya lebih suka memakai kata perempuan. Entah benar entah tidak, tapi saya cenderung setuju kata perempuan itu memiliki akar kata empu yang mendapat awalan per– dan akhiran -an. Memakai kata perempuan, dengan demikian, lebih menghormati mereka. Tapi, di saat yang sama, saya juga tidak mengharamkan pemakaian kata wanita. Bukan karena ingin meledek mereka, tapi karena saya tidak melihat adanya masalah di situ.

Menurut Old Javanese-English Dictionary (Zoetmulder, 1982), kata wanita berarti yang diinginkan. Kalau berdasarkan ini saja, pilihan saya tentu saja salah. Kata ini dengan demikian muncul dari sudut pandang chauvinist. Masalahnya kemudian: apakah wanita aslinya berarti seperti itu? Atau arti itu muncul hanya karena orang Jawa kuno memiliki pandangan yang merendahkan perempuan? Sesuatu yang dilekatkan belakangan dan yang muncul bersamaan dengan kelahiran kata itu membuat duduk permasalahan menjadi berbeda.

Untuk menjawabnya, kita harus merunut pada asal kata itu dari bahasa aslinya. Sebagaimana kita tahu, bahasa Jawa kuno berakar pada bahasa Sanskerta. Dalam bahasa Sanskerta, kata wanita ditulis dengan vanita. Seperti juga orang India menulis Wijaya dengan Vijay, Wisnu dengan Visnu. Kata itu sendiri dipakai hingga kini oleh orang-orang berbahasa Hindi. Artinya, ya, wanita. Lady, dalam bahasa Inggris.

Jadi, perubahan arti vanita dari perempuan menjadi yang diinginkan adalah penerjemahan orang Jawa kuno terhadap sebuah gender. Pandangan itu kemudian dilekatkan pada kata. Yang salah adalah pandangannya, bukan katanya. Pandangan itulah yang kemudian membuat kata wanita memiliki kepanjangan wani ditoto.

Kepanjangan itu muncul belakangan. Sama dengan guru yang berasal dari bahasa Sanskerta yang di Jawa mempunyai kepanjangan digugu lan ditiru. Dengan demikian, kata wanita itu sendiri tidak ada salahnya. Yang salah adalah pandangan mereka terhadap perempuan.

Pelurusan pandangan yang salah itu tidak bisa dengan menghapus sebuah kata. Itulah kenapa saya terkejut dan tidak setuju saat seorang aktivis perempuan enggan menggunakan kata janda. Menurutnya, kata ini memiliki konotasi yang buruk di masyarakat. Sebagai gantinya, dia mengusulkan pekka (perempuan kepala keluarga).

Membuang sebuah kata yang tercemar (bukan yang aslinya buruk) bukanlah solusi untuk membuang pandangan salah yang ada di masyarakat.

Sebab, kata pengganti bisa jadi akan tercemar juga (dan harus diganti lagi) jika pandangan buruk masyarakat terhadap sebuah gender tak hilang. Toh, orang Inggris tak membuang kata woman yang berpangkal dari man dan mengganti history dengan herstory.

Meski mereka tidak seekstrem itu, ada dorongan dalam bahasa Inggris untuk membuat kata-kata dan idiom yang netral. Hal ini dikenal sebagai gender-neutral language. Hal ini dimulai pada 1970-an, ketika para akademisi di sejumlah universitas mengkampanyekan pemakaian kata-kata yang bebas gender, seperti chairman menjadi chairperson, mankind menjadi humankind. Gerakan ini semakin meluas pada 1980-an.

Tentu saja ada keluhan seputar hal itu. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh David Gelernter, profesor di Yale University. Dalam tulisannya, Feminism and the English Language, dia mempermasalahkan bahasa Inggris yang jadi tidak sederhana karena pemaksaan sejumlah hal, misalnya penyebutan ”he or she” yang di masa lalu bisa ditulis hanya dengan he. Keluhan itu muncul mungkin hanya karena Gelernter agak malas.

Sebenarnya pemakaian kata-kata yang tidak tendensius dan menyerang satu gender bisa diterapkan. Hanya, menurut saya, kita tidak perlu terlalu curiga.

Iklan

4 thoughts on “Perempuan dan Wanita

  1. Ping-balik: “Perempuan” dan “Wanita” « Rubrik Bahasa

  2. Sukses Selalu Bro. Kalau aku sih, tak perlu terlalu di perdebatkan, semua kembali pada personnya, bagaimana niat seseorang menempatkan kata tersebut sepanjang hakikat dari kata dimaksud tiada maksud melecehkan. Sebab terkadang satu kata saja dapat menjadi pemikiran dan renungan atau sesuatu yang dapat menjadi bahan pemikiran untuk kepentingan pengembangan suatu bahasa hingga menjadi milik dan bakunya suatu bahasa. Wassalam.

  3. wa·ni·ta n perempuan dewasa: kaum — , kaum putri (dewasa);
    — karier wanita yg berkecimpung dl kegiatan profesi (usaha, perkantoran, dsb); — tunasusila pelacur;
    ke·wa·ni·ta·an n yg berhubungan dng wanita; sifat-sifat wanita; keputrian

    pe·rem·pu·an n 1 orang (manusia) yg mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita; 2 istri; bini: — nya sedang hamil; 3 betina (khusus untuk hewan);
    bunyi — di air, pb ramai (gaduh sekali);
    — geladak pelacur; — jahat 1 perempuan yg buruk kelakuannya (suka menipu dsb); 2 perempuan nakal; — jalan pelacur; — jalang 1 perempuan yg nakal dan liar yg suka melacurkan diri; 2 pelacur; wanita tuna susila; — jangak perempuan cabul (buruk kelakuannya); — lacur pelacur; wanita tuna susila; — lecah pelacur; — nakal perempuan (wanita) tuna susila; pelacur; sundal; — simpanan istri gelap;
    ke·pe·rem·pu·an·an n 1 perihal perempuan; 2 kehormatan sbg perempuan: banyak tentara pendudukan yg melanggar ~ wanita desa

    (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s