Bahasa Malindo

Majalah Tempo 18 Mei 2009. Nasrullah Ali Fauzi. Penulis lepas, tinggal di Kuala Lumpur.

WALAU sering dilecehkan, pekerja Indonesia di Malaysia ternyata tak hanya berperan penting dalam pembangunan fisik Malaysia, tapi juga budaya bahasa.

Ini secara tegas diakui Hishamuddin Rais, seorang kolumnis independen Malaysia, dalam artikelnya berjudul Kalau Saya Minah Indonesia (www.malaysiakini.com, 07/02/2009). ”Minah” di Malaysia berarti ”wanita” (yang lazimnya di Malaysia adalah pembantu rumah, pelayan kedai, pekerja pabrik).

Menurut Hisham, di tengah polemik penggunaan bahasa Melayu dan bahasa Inggris oleh berbagai lapisan masyarakat yang multietnik di Malaysia, pihak yang ikut berperan penting dalam mengembangkan bahasa Melayu justru minah-minah Indonesia. Semua berjalan alami, tanpa paksaan, tanpa peraturan, tanpa polemik di media.

”Mereka datang untuk bekerja, tak peduli kerja apa pun. Tak memilih siapa majikan mereka, termasuk apa agama dan etniknya. Bukan semua dari mereka itu Melayu. Bukan semua bahasa ibunda mereka bahasa Melayu. Ada minah Jawa, minah Sumatera, minah Ambon, minah Madura atau lainnya, yang punya bahasa daerah masing-masing. Tapi, tatkala di Malaysia, mereka menggunakan BM!” demikian Hisham menulis.

Hisham tak berlebihan. Saya sekadar menambahkan: peran tersebut sebenarnya dilakukan oleh umumnya pekerja Indonesia di Malaysia, termasuk yang lelaki. Dan bahasa Melayu yang mereka gunakan terkadang sudah ”bernuansa” Indonesia (bercampur dengan gaya, makna, dan intonasi bahasa Indonesia)—sederhananya, sebut saja ”bahasa Malindo” atau ”bahasa campuran Malaysia-Indonesia”.

Bayangkan apa yang terjadi jika majikan mereka kelas menengah beretnis Cina, India, atau Melayu. Sebagian besar tenaga kerja Indonesia (TKI) tak pandai berbahasa Indonesia. Jadi mereka berkomunikasi dengan bahasa Melayu. Para majikan, yang terbiasa dengan bahasa Indonesia, atau tak peduli terhadap bahasa Melayu, kini wajib bertutur dalam bahasa Melayu. Mereka ”terpaksa” mempelajari kembali cara yang betul dan tepat untuk bertutur dalam bahasa Melayu agar komunikasi dengan pekerja menjadi nyambung.

Coba perhatikan juga di kedai atau restoran (Melayu, Cina, atau India). Sebagian besar majikan mengambil pekerja asal Indonesia. Kalau mereka menjadi pelayan restoran Cina, sudah pasti pelanggan Cina dilayani dengan menggunakan bahasa Melayu berlogat Cina (contoh: ”Kamu orang nak minum ape ma?”). Begitu juga di kedai India atau Melayu, tentu dengan BM berlogat India atau Melayu (contoh: ”Encik nak order ape ni? Nasi lemak, roti canai, teh tarik…?”).

Jika TKI menjadi penjaga anak majikan, peranannya juga penting. Waktu mereka bersama si anak bisa jadi lebih banyak daripada bersama orang tuanya. Selama proses pengasuhan itu, sang pengasuh pasti bertutur dalam bahasa Melayu. Bunyi yang keluar dari mulut sang pengasuh TKI inilah yang akan senantiasa didengar oleh si anak—termasuk juga pengaruhnya dalam hal pemahaman, pemaknaan, dan penggunaannya oleh anak di kemudian hari.

Atika, 10 tahun, contoh lainnya. Bocah Melayu yang sejak kecil diasuh oleh Mbak Atun (asal Kendal, Jawa Tengah) dan sering menonton sinetron Indonesia di televisi Malaysia ini tidak jarang meledek temannya dengan ucapan, ”Kasihaan deh lu….”

Fenomena ini sempat membuat gundah pemerintah setempat. Tiga tahun lalu, misalnya, Kementerian Wanita, Keluarga, dan Pembangunan Masyarakat Malaysia pernah berencana mengadakan penelitian mengenai pengaruh pembantu rumah tangga Indonesia terhadap anak-anak Malaysia. Salah satu sebabnya, ya karena banyak anak keluarga Malaysia yang diasuh pembantu Indonesia berbicara seperti orang Indonesia (Study on impact of Indon maids, The Star, 30/08/2006, hlm. N18).

Bagaimanapun, di balik itu, muncul fenomena lain yang tak kalah menarik dalam konteks pengembangan bahasa Indonesia, yakni kemampuan berbahasa Indonesia para TKI—juga WNI lainnya—turut berubah. Jika majikannya orang Melayu, bahasa Indonesianya bercampur bahasa Melayu disertai logat Melayu. Begitu juga jika majikannya Cina atau India. Dua contoh dari ucapan pekerja Indonesia yang menjadi pelayan kedai di atas sekaligus membuktikannya.

Pengaruh bahasa Melayu itu masih terasa walau majikan pekerja itu adalah orang Indonesia juga. Bukti nyatanya, ya keluarga saya sendiri. Kedua anak saya, Aji dan Bintang, belajar di dua sekolah: pagi di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, dan petang di sebuah sekolah agama (madrasah) di Malaysia. Jadi, bisa dipastikan: betapa bahasa mereka benar-benar ”bahasa Malindo”! Walau setiap saat kami berusaha berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, sikit-sikit tetap saja ”berbau” Melayu. Lucu, rada aneh, tapi seronok.

Tapi, yang pasti, di tengah proses saling campur-aduk itu, satu hal perlu dicatat: kemampuan WNI dalam berbahasa daerah (asal mereka) ternyata tak berubah. Berapa lama pun mereka tinggal di Malaysia, dan dengan etnis apa pun mereka bergaul, mereka tetap fasih berbahasa daerah tatkala berkomunikasi dengan rekan sekampung. Buktinya, di daerah Chow Kit, Kuala Lumpur, misalnya, yang terkenal sebagai ”mini Indonesia”, sering terdengar antarsesama WNI tengah ber-kumaha-ria atau ber-piye-kabare dalam versi Sunda, Jawa, Minang, Madura, Aceh….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s