Wartamerta

KOMPAS 17 Juli 2009. Salomo Simanungkalit.

Dari kediamannya di bilangan Kertanegara, Jakarta, Profesor Anton Moeliono tiga minggu yang lalu bertelepon. Munsyi itu mengabarkan bahwa dalam waktu yang berdekatan Masyarakat Linguistik Indonesia ditinggalkan tiga pakar linguistiknya yang terkemuka.

”Pada tanggal 31 Mei 2009, setelah menyelesaikan masa cendekia yang produktif, Profesor Samsuri meninggal dunia pada usia 84 tahun di Malang. Tidak lama kemudian, pada tanggal 9 Juni 2009, Profesor Asim Gunarwan menghadap khaliknya. Almarhum pada tanggal 16 April yang lalu memperingati ulang tahunnya yang ke-70 di Jakarta. Hari Sabtu tanggal 13 Juni 2009, setelah masuk rumah sakit sebentar, Profesor Amran Halim di Palembang menutup usianya pada ujung hayatnya selama 79 tahun dan sepuluh bulan.”

Sedang menikmati tutur katanya yang santun bahasa itu, saya pasang telinga ketika beliau sampai pada bagian penting ini: ”Saya sudah menulis obituari mengenai kepergian tiga pendekar bahasa itu. Saya menyebutnya wartamerta.”

Terdengar bersajak, wartamerta serta-merta saya tautkan dengan anumerta ’setelah meninggal dunia’. Dalam benak saya, merta pastilah berkelindan dengan mati, kematian. Namun, menurut Profesor Anton dalam percakapan itu, -merta dalam wartamerta berasal dari mors. Dia tak menyebut asal-usul kata itu, tetapi saya kira: Latin. Pikir saya, dari mors ke merta, pastilah Profesor Anton melewati proses rekayasa, menerapkan kaidah-kaidah ilmu dalam perancangan.

Sementara itu, pada Kamus Sanskerta-Indonesia susunan Y Agustirto Suroyudo (CV Sagung Seto, Jakarta, 1988) tersua mrta yang berarti mati, meninggal dunia. Pekamus Sir Monier Monier-Williams dalam Sanskrit-English Dictionary memuat mrita dengan salah satu makna: mati.

Wartamerta atau obituari tentulah suatu catatan di surat kabar atau majalah tentang seseorang, somebody, yang baru saja meninggal dunia. Dalam naskahnya mengenai ketiga pakar linguistik itu, Profesor Anton menulis: ”ibarat pendekar elak jauh, ketiga guru besar itu selalu berhati-hati dalam kata dan tulisan mereka, mengabdikan ilmu pengetahuan mereka demi maslahat kalangan yang luas: pemerintah, rekan setara, mahasiswa, dan anak buah.”

Dalam terbitan 6-13 Juli 2009, majalah Newsweek menurunkan wartamerta Michael Jackson yang secara mengejutkan terkabar meninggal dunia di Los Angeles pada 25 Juni lalu. David Gates, penulis wartamerta itu, mendaku kecerlangan dan keterpegahan Michael Jackson hanya setara dengan Frank Sinatra, Elvis Presley, dan Beatles. Bintang pop masa kini tak akan sampai pada kedudukan MJ, yang oleh Elizabeth Taylor ditabalkan sebagai Raja Pop. Tidak Mariah Carey, tidak Céline Dion, bahkan tidak Madonna pesaing terdekatnya.

Wartamerta sepanjang lima halaman itu terutama mengungkap tragedi Sang Mahabintang. Wartamerta itu melengkapi wartasemerta yang disiarkan televisi pada jam kematian MJ.

Wartasemerta? Tentu saja warta yang serta-merta disiarkan begitu peristiwa terjadi.

Semerta saya pungut dari A Latief (Pusat Bahasa) sebagai pemendekan serta-merta. Mulai hari ini Kania Sutisnawinata dan rekan sekerjanya bolehlah melafazkan wartasemerta alih-alih breaking news.

Iklan

One thought on “Wartamerta

  1. Wartasemerta, semoga dapat menggantikan “breaking news” yang terlanjur populer di masyarakat kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s