Mengeja Nama Sendiri

Pikiran Rakyat, 25 Juli 2009. Ajip Rosidi, Penulis dan budayawan.

Ketika Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP & K) pada masa revolusi Mr. Soewandi mengubah ejaan penulisan bahasa Indonesia dengan huruf Latin yang sebelumnya diatur dalam ejaan van Ophuysen (yang diresmikan tahun 1901), perubahan yang terbesar adalah penggantian “oe” dengan “u”. Penggunaan “oe” yang dibunyikan sebagai “u” adalah dari bahasa Belanda. Van Ophuysen memang orang Belanda, ia pejabat yang ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengatur ejaan penulisan bahasa Melayu dengan huruf Olanda. Pemerintah Hindia Belanda yang tidak mau mengajarkan bahasa Belanda kepada semua anggota masyarakat, hendak menggunakan bahasa Melayu Tinggi yang berasal dari Riau sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan. Untuk itu, perlu ada cara penulisan yang baku sehingga perlu diatur dalam suatu sistem ejaan, sebab pada masa sebelumnya orang-orang yang menulis bahasa Melayu dengan huruf Latin berbuat sekehendak hatinya saja. Ada yang menulis “tida”, “tida`”, “tidah”, “trak”, dan lain-lain. Ada yang menulis “air”, “aer”, “ayer”, “ayir”, dan lain-lain. Dengan adanya sekolah yang mengajarkan bahasa Melayu, ejaan yang digunakan perlu diatur agar ada keseragaman. Van Ophuysenlah yang ketiban pulung untuk melakukannya sehingga namanya selalu disebut sehubungan dengan sejarah bahasa atau ejaan bahasa Indonesia.

Pada masa Mr. Soewandi menjadi Menteri PP & K ada seorang bawahannya, Kepala Dinas Purbakala bernama Suhamir yang mengusulkan agar bahasa Indonesia lebih efisien, sebaiknya menukar “oe” dengan “u”. Pemakaian “oe” oleh van Ophuysen dapat dimengerti karena ia orang Belanda dan bahasa Belanda menggunakannya. “U” dalam bahasa Belanda juga digunakan namun dibunyikannya berbeda. Usul Suhamir merupakan penemuan kreatif karena meskipun dalam bahasa Inggris huruf itu kadang-kadang dibunyikan “u” tapi kadang-kadang dibunyikan “a”. Dengan demikian, tak dapat kita mengatakan bahwa Suhamir mengambil dari bahasa Inggris karena dalam bahasa Indonesia huruf “u” dibunyikan sama saja di mana pun ditempatkannya.

Dalam ejaan Suwandi atau ejaan Republik (demikian perubahan terhadap ejaan van Ophuysen itu biasa disebut), tak ada pasal yang mengatur penulisan nama orang. Namun demikian, kebanyakan orang yang mempunyai nama dengan “oe” secara sukarela menggantinya dengan “u”, seperti kita lihat pada nama Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Mochtar Lubis, Suwardi Tasrif, Asrul Sani, Usmar Ismail, Utuy Tatang Sontani, Maria Ulfah, Subadio Sastrosatomo, dan lain-lain. Walaupun ada juga yang tetap mempertahankan ejaan namanya sesuai dengan ejaan yang dipakai ketika ia dilahirkan ialah ejaan van Ophuysen, tapi jumlahnya tidak banyak, antaranya Boejoeng Saleh Poeradisastra. Ada juga yang mengombinasikan kedua macam ejaan dalam penulisan “oe” dan “u”, misalnya Roeslan Abdulgani dan Pramudya Ananta Toer. Dalam kasus Pram kita bisa mengerti, dia menggunakan ejaan Suwandi untuk namanya, tetapi mempertahankan nama ayahnya ditulis dengan ejaan van Ophuysen tentu dengan pertimbangan bahwa semasa hidupnya ayahnya menuliskan namanya seperti itu. Tetapi dalam hal Roeslan Abdulgani sulit dimengerti, karena yang dipertahankan menggunakan ejaan van Ophuysen justru namanya sendiri, sedangkan nama ayahnya malah diubah menjadi mempergunakan ejaan Suwandi. PresidenRepublik Indonesia yang pertama, meskipun dalam tanda tangan tetap mempertahankan pemakaian “oe”, namun dalam tes namanya selalu dieja “u”.

Akan tetapi, dalam EYD yang sekarang menjadi ejaan yang sah di Indonesia dan Malaysia, ada pasal yang mengatur penulisan nama sendiri. Menurut EYD, orang dapat menulis namanya sesuai dengan keinginannya sendiri. Mereka yang biasa atau ingin menuliskan namanya dengan “oe” boleh, dengan “u” juga tidak apa. Pakar bahasa dan komandan perubahan ejaan Suwandi menjadi EYD, menuliskan namanya sendiri “Anton Moeliono”, bukan “Anton Muliono”, dengan demikian ia dapat tetap mempertahankan cara ayahnya menuliskan namanya sendiri selagi hidup.

Saya sendiri mempergunakan peluang itu untuk mempertahankan ejaan penulisan nama saya yang dipergunakan sejak 1957, ialah “Ajip Rosidi”. Celakanya mereka yang tidak mengenal saya secara pribadi, dan mengira saya menggunakan EYD, memanggil saya dengan “Pak Ajip” bukan “Pak Ayip”. Padahal saya juga taat berpegang kepada EYD, yaitu pasal yang memberi kebebasan dalam hal penulisan nama. Jadi, saya tidak melanggar EYD, tetapi orang yang memanggil saya “Pak Ajip” juga tidak salah apalagi melanggar EYD. Jadi mengapa terjadi kekacauan? (Kacau kalau nama saya yang seharusnya dibunyikan “Ayip” dipanggil “Ajip”!)

Kekacauan itu timbul karena aturan dalam EYD sendiri. Dengan diberinya keleluasaan untuk menggunakan ejaan nama sekehendak hatinya, banyak orang yang tadinya sudah menuliskan namanya dengan “u” juga mengubah lagi ejaan penulisannya menjadi mempergunakan “oe”. Pramudya Ananta Toer sekarang menuliskan namanya “Pramoedya Ananta Toer” (dua-duanya memakai “oe”). Subagio menjadi Soebagio, Muchtar menjadi Moechtar, Ruhiyat menjadi Roehiyat, Muhammad menjadi Moehammad, Nasution menjadi Nasoetion, dan lain-lain. Bahkan anak-anak yang lahir setelah EYD diberlakukan pun (1972) banyak yang menggunakan “oe” untuk mengeja namanya. Bukan hanya namanya, dalam grafiti yang banyak kita lihat di tempat-tempat umum, mereka menuliskan “Bandoeng”, “Soerabaya”, “doeloe”, dan lain-lain. Akan tetapi, kekacauan tidak hanya karena perkara “oe” dan “u”, melainkan juga karena “j” yang dapat dibaca “j” (dari “dj”) tetapi juga dapat dibaca “y”. Tak ada ketentuan yang mana yang harus dipergunakan kalau kita berhadapan dengan nama orang tertulis.

Kebebasan mengeja nama sendiri terdapat dalam masyarakat bahasa Inggris sehingga kalau kita berkenalan dengan seseorang dan ia menyebutkan namanya, kita lalu bertanya “How do you spell it?” Kebiasaan seperti itu terdapat juga dalam masyarakat Jepang. Kalau bertemu dengan orang baru dikenal yang menyebutkan namanya, orang Jepang akan segera menanyakan dengan huruf Kanji apa nama itu ditulis.

Bahasa Inggris memang sama dengan Kanji. Untuk setiap kata ada cara sendiri menuliskannya. Oleh karena itu, dalam masyakarat berbahasa Inggris ada pelajaran spelling (mengeja). Para pakar penyusun EYD agaknya bercermin ke bahasa Inggris, tanpa menyadari bahwa bahasa Indonesia mempunyai watak dan sifat yang berbeda dengan bahasa Inggris.

Iklan

2 thoughts on “Mengeja Nama Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s