Politik Sapagodos

Majalah Tempo 27 Jul 2009. Eep Saefulloh Fatah. Pemerhati politik dari Universitas Indonesia.

BERDEBAT ternyata bukan perkara kemahiran bersilat lidah, melainkan soal kebudayaan. Inilah catatan penting Pemilihan Presiden 2009 dari sisi kebahasaan.

Ketika beradu punggung, semua kandidat saling serang tajam atau saling sindir nyinyir. Tapi, ketika saling bersua wajah di panggung debat, mereka saling sepakat. Inilah ”politik sapagodos”.

Dalam bahasa Sunda, sapagodos artinya setuju atau bersetuju. Politik sapagodos menjadikan persetujuan sebagai topeng ketidaksepahaman. Politik semacam ini juga memberi sungging senyuman untuk menyembunyikan kebengisan.

Lima kali debat calon presiden dan wakil presiden dalam Pemilu 2009 menunjukkan suburnya politik sapagodos. Beberapa kandidat, terutama Muhammad Jusuf Kalla, memang berhasil memberi nyawa pada beberapa debat terakhir. Namun, sulit menutupi kesan hambar, datar, dan tak menariknya debat itu. Kita gagal bertemu pembeda pokok antara satu kandidat dan kandidat lainnya. Kita cuma bersua senyap di tengah ramai aksi tukar kata.

Celakanya, kita alpa menelisik soal ini hingga ke pangkalnya. Yang justru mengemuka adalah dua jenis kekeliruan: menggaruk dengkul ketika kening gatal dan membakar lumbung untuk mengusir tikus.

Menemui debat yang hambar, Komisi Pemilihan Umum, sekadar misal, menegaskan perlunya perubahan format dan mekanisme acara untuk membuat perdebatan mengemuka. Inilah gejala ”menggaruk dengkul ketika kening gatal”. Persoalan dan jalan keluar tak berkaitan. Memberi jawaban permukaan untuk soal mendasar.

Padahal, alih-alih soal teknis, yang kita rundung sesungguhnya soal kemiskinan kebudayaan. Budaya debat tak jatuh dari langit. Ia tumbuh seiring pendewasaan politik. Ia tak bakal hadir di tengah politisi kanak-kanak yang saling serang di belakang punggung dan segera bertukar sepakat kala berhadap muka, yang saling lempar senyum untuk menyembunyikan rencana ”pembunuhan karakter politik” para lawannya.

Ketidakdewasaan semacam itu juga ditandai ”politik minus substansi”. Selayaknya tong kosong, para politisi nyaring bunyinya. Kita tak sua apa pun dalam kosongnya sang tong. Saling bantah atau kritik pun berlangsung tanpa perspektif. Aneka pandangan saling bertandang sambil mempertontonkan ”ketiadaan perspektif yang saling bertanding”.

Selain itu, kita senang membakar lumbung ketika padi diserang tikus. Menemukan debat yang hambar, sejumlah orang dengan serta-merta menyimpulkan bahwa debat tak punya guna dan selayaknya dihapuskan saja.

Bagaimanapun, dengan segenap keterbatasan yang masih diidapnya, debat antarkandidat presiden dan wakil presiden adalah salah satu kemajuan yang layak disyukuri. Para calon pemilih, secara teoretis, jadi punya satu tambahan alat takar untuk menentukan pilihan. Alih-alih mengagendakan perbaikan keadaan, para pembakar lumbung hendak menghanguskan kemajuan yang sudah dicapai ini.

Kedua kekeliruan itu berpangkal pada tabiat kita: senang menelisik segenap hal dari kemasannya, bukan dari isinya. Tabiat ini membikin kita alpa bahwa debat yang papa sesungguhnya mewakili kebudayaan yang miskin.

Kita abai pada fakta bahwa selama setidaknya empat dekade terakhir, politik kita disapu musim kering sejarah. Zaman tandus ini antara lain ditandai oleh pemusatan kekuasaan yang ketat dan penyeragaman yang pekat. Bahasa pun tumbang sebagai salah satu korbannya.

Terlalu lama kita memelihara bahasa sebagai alat sentralisasi sekaligus instrumen penyeragaman. Bukan saja mengalami birokratisasi, bahasa juga mengidap kemiskinan daya ungkap kritik. Atas nama ”revolusi yang belum selesai” dan ”pembangunan”, kritik tak diperkenankan berada dalam arus utama kebahasaan.

Bahasa Indonesia lalu mengalami pembekuan, mendingin dan menjadi bongkahan es. Di tengah suhu politik yang memanas sang bahasa memang bisa mencair, namun pergerakan dan alirannya sungguh terbatas dan mudah ditebak.

Maka, keluar dari politik sapagodos bukan saja butuh waktu, tapi juga perlu para pemecah es. Inilah generasi politik baru yang lahir di awal atau pertengahan Orde Baru, lalu melewati periode pembentukan dan pematangan diri di pertengahan atau pengujung Orde Baru. Di tangan mereka, bahasa Indonesia cenderung jadi alat jemput masa depan. Bahasa tak lagi menjadi justifikasi kebesaran palsu masa lampau.

Alhasil, ditilik dari sisi bahasa, gejala ”senyap debat dalam politik sapagodos” menegaskan penting dan gentingnya regenerasi kepemimpinan politik. Kita butuh generasi politik baru yang tak pandai meniru gelagat dan tabiat berpolitik generasi lama dan sekarang. Kita butuh para pembaharu yang menenteng sikap-sikap baru mencerahkan, termasuk dalam memposisikan politik, kekuasaan, kewargaan, dan bahasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.