Bahasa Jawa Akan Tetap Hidup

KOMPAS 19 Agu 2009. ASA.

Kekhawatiran berbagai kalangan bahwa bahasa Jawa akan hilang atau mati dianggap tidak cukup beralasan. Bahasa Jawa, begitu pula kebudayaan Jawa, akan tetap hidup selama masyarakat budaya Jawa ada.

Bentuk dan ekspresi bahasa Jawa itu dari masa ke masa selalu berubah, karena kebudayaan Jawa pada dasarnya memiliki sifat relativitas yang tinggi. Tata nilai dalam kebudayaan Jawa ini merupakan roh yang akan membuatnya tetap lestari, sekalipun dalam proses pewarisannya harus selalu menyesuaikan dengan kondisi zamannya.

Demikian benang merah yang bisa ditarik dari Seminar Kebudayaan Jawa Masa Depan Aksara dan Bahasa Jawa di Balai Soedjatmoko Solo, Jawa Tengah, Rabu (19/8). Seminar menghadirkan budayawan Arswendo Atmowiloto, MT Arifin, Ratna Saktimulya dan Sucipto Hadi Purnomo.

Menurut Sucipto Hadi Purnomo, pengajar pada Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Negeri Semarang, kebudayaan Jawa pada dasarnya memiliki sifat momong(asuh), momot (muat) , dan momor (campur), yang intinya terbuka pada kebudayaan lain tetapi selanjutnya terjadi proses melebur dan mengembangkan.

Arswendo Atmowiloto mengatakan, bahasa dan sastra Jawa pada hakikatnya telah habis ketika aksara Jawa diganti aksara Latin. Namun, dirinya masih optimistik bahasa Jawa akan tetap lestari bila dibandingkan dengan bahasa pada etnis-etnis lain di Indonesia yang mengalami fenomena serupa dewasa ini.

Menurut dia, bahasa Jawa akan tetap eksis karena kebudayaan Jawa memiliki kekuatan luar biasa yang antara lain tercermin lewat idiom-idiom atau ajaran-ajaran hidup yang meresap dalam kehidupan masyarakat, seperti manunggaling kawula-Gusti atau Gusti Allah ora sare sebagai konsep spiritualisme yang amat humanis dan tak ada pada bangsa lain.

Ia juga menunjuk keberhasilan Sultan Agung (1593-1645) yang mengawinkan kalender Hijriah dan kalender Jawa sebagai contoh kejeniusan orang Jawa . Dalam pandangan dia, mitos Nyai Roro Kidul yang hidup di masyarakat Jawa tidak lagi penting apakah benar-benar ada atau tidak, namun mitos itu telah menjadi kekuatan idiom bagi orang Jawa.

Mengikuti wacana di kalangan sastrawan Jawa, menurut MT Arifin, bahasa Jawa nampaknya akan menjadi bahasa kelangenan atau antik. Bahasa Jawa terbukti tidak bisa menjadi bahasa ilmiah. “Kalaupun masih digunakan, bahasa Jawa hanya digunakan untuk komunikasi sehari-hari terutama di masyarakat tingkat bawah. Sedangkan aksara Jawa lebih digunakan untuk membaca karya-karya lama,” paparnya.

Dalam pandangan Ratna Saktimulya, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta, untuk mengajarkan aksara dan bahasa Jawa nampaknya diperlukan sistem pemaksaan namun juga disertai kesabaran ekstra. “Di masa depan, bentuk bahasa Jawa akan berbeda dari yang sekarang. Mungkin campur antara bahasa Jawa dan Indonesia. Itu semua tergantung bagaimana kita mengawal dan mengendalikannya,” ujar Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s