Rendra, Merendra, Munir, Memunir

MunirMajalah Tempo 28 Sep 2009. Eep Saefulloh Fatah. Pemerhati politik dari Universitas Indonesia.

DI tengah hiruk-pikuk pemakaman Wahyu Sulaiman Rendra, 7 Agustus lampau, di Kampus Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok, saya tercenung. Mengapa pentakziah tak semembeludak khalayak yang datang pada pemakaman Mbah Surip beberapa hari sebelumnya di tempat sama?

Tapi, segera saya menemukan jawabannya: Mbah Surip meninggal sebagai seorang selebritas, sementara Rendra sebagai orang besar. Selebritas menjadi terkemuka karena namanya. Orang besar terpandang karena jejaknya pada zaman.

”Selebritas,” tulis sejarawan pemenang hadiah Pulitzer, Daniel J. Boorstin (The Image, 1992), ”adalah seseorang yang dikenal karena keterkenalannya. Pahlawan dikenali karena prestasi atau pencapaiannya, sementara selebritas karena citra atau merek dagangnya. Pahlawan membentuk dirinya, selebritas dibentuk oleh media. Pahlawan adalah orang besar, selebritas adalah sebuah nama besar.”

Tentu saja saya tak ingin mengecilkan Mbah Surip dan membesarkan Rendra dalam sebuah perbandingan hitam-putih. Namun, pada sosok Rendra, aspek kepahlawanan lebih menonjol ketimbang selebritas.

Maka, sekalipun tak semembeludak khalayak pemakaman Mbah Surip, pemakaman Rendra dihadiri beragam kalangan: dari orang awam kesusastraan hingga pujangga-pujangga terbaik di Republik, dari orang biasa hingga segelintir orang yang membawa serta atribut kekuasaannya yang mentereng.

Rendra dilepas oleh mereka yang takzim. Mbah Surip dilepas oleh para penggemarnya.

Sebagai orang besar Rendra memang meninggalkan jejak yang tegas pada zaman kita. Ia berhasil mewakili daya hidup seorang pelaku kesenian dan kebudayaan yang tak pernah mati, terus bergumul dengan liat melawan segala cobaan zamannya.

Sebagai orang yang bergaul rapat dengannya sejak awal Reformasi, saya beruntung menjadi saksi pergumulan itu. Hasilnya, di mata saya, Rendra tampil sebagai pemenang. Ia senantiasa berdiri tegak di tempatnya: sebagai seorang yang penuh keyakinan akan kebenaran yang dibelanya, tanpa lelah memperjuangkan keyakinan itu, dan menolak menjadi pecundang.

Nama besar pun tersemat pada sosok Rendra. Beberapa kali saya saksikan, alih-alih menjadi selebritas, Rendra lebih membawa serta nama besarnya. Di beberapa tempat, orang-orang tak mengenali wajahnya. Namun, segera setelah diberi tahu bahwa yang sedang mereka temui adalah Rendra, dengan serta-merta mereka menjadi hormat penuh takzim. Rendra dihormati karena jejaknya pada hidup dan zaman kita—bukan lantaran wajahnya terpampang setiap hari di televisi.

Dalam konteks itu, izinkan saya mengusulkan kepada khalayak pembaca untuk menjadikan ”rendra” sebagai kosakata baru dalam bahasa Indonesia.

Sebagai kata sifat, ”rendra” bermakna sebagai seseorang atau sekelompok orang yang punya keyakinan teguh akan kebenaran yang ia atau mereka perjuangkan serta pandai menjaganya lantaran menolak menjadi pecundang.

Maka, dalam pemaknaan itu, suatu ketika kita bisa menulis, ”Almarhum Baharuddin Lopa adalah seorang rendra” atau ”Dengan sikap rendranya Dr Utami Roesli bergeming menolak konsumsi susu formula untuk bayi.”

”Rendra” juga bisa diberi imbuhan tertentu untuk kemudian menjadi kata kerja, dengan makna serupa: merendra, direndrakan, direndrai, merendrakan. Maka, kita bisa menulis kelak, ”Suciwati dan Usman Hamid adalah seorang pembela hak-hak asasi manusia yang semakin matang dan merendra.”

Selain Rendra, almarhum Munir adalah tokoh yang namanya layak dipinjam untuk memperkaya bahasa Indonesia.

Kata ”munir” saya usulkan kepada khalayak pembaca untuk dimaknai sebagai ”seseorang atau sekelompok orang yang tak punya rasa takut karena yakin berada di jalan yang benar”.

Manakala diberi imbuhan tertentu, ”munir” menjadi kata kerja (memunir, dimunirkan, dimuniri, atau memunirkan) dengan pemaknaan sama.

Itulah antara lain yang berkelebat dalam pikiran saya di tengah larut duka pemakaman Rendra tempo hari. Maka, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, Rendra dan Munir pergi meninggalkan bahasa Indonesia yang semakin kaya.

Tapi, boleh jadi ada di antara pembaca yang bertanya, mengapa saya meminta khalayak untuk bersepakat menambahkan dua kosakata baru itu. Mengapa saya tak meminta Pusat Bahasa?

Bahasa, dalam pikiran saya, senantiasa merupakan hasil konsensus para penggunanya. Maka kelahiran kosakata baru selayaknya lahir dari rahim para pengguna bahasa itu. Adapun Pusat Bahasa ”sekadar” bidan yang membantu persalinan hingga selamat. Tak lebih dan tak kurang.

Walhasil, Pusat Bahasa dibutuhkan sebagai pelayan konsensus kebahasaan. Pusat Bahasa bukanlah lembaga birokrasi yang bertugas menjauhkan bahasa dari publik sebagai ibu kandungnya.

One thought on “Rendra, Merendra, Munir, Memunir

  1. Usul ini membuat saya bergairah. Saya ingat: kata “masochism” adalah dulunya nama seorang pengarang novel asal Austria, Leopold von Sacher-Masoch, yang mendeskripsikan fenomena yang sekarang kita mengerti sebagai ‘masochism’. Hal yang sama terjadi pada ‘saudara’ kata ‘masochism;, yaitu ‘sadism’, yang berasal dari nama penulis asal Prancis, Marquis de Sade. Masih ada lagi kata ‘chauvinism’, dari nama seorang prajurit veteran pasukan Napoleon, Nicolas Chauvin, yang memiliki sikap patriotisme berlebihan atau agresif, persis seperti makna kata ‘chauvinism’ yang kita pahami sekarang.

    Lalu, mengapa tidak merendra dan memunir? Dengan demikian, kita akan bisa bilang, “Mari kita letakkan Bahasa Indonesia di tempat yang rendra dan munir.”

    Begitupun, ada satu kritik saya terhadap tulisan ini, terutama pada tawaran makna yang diajukan oleh Eep. Bila Eep menawarkan kedua kata itu sebagai kata sifat, mengapa makna yang diajukan justru terlihat sebagai makna kata benda? Mengapa,”seseorang atau sekelompok orang yang punya keyakinan…” untuk kata sifat ‘rendra’? Mengapa ”seseorang atau sekelompok orang yang tak punya rasa takut…” untuk kata sifat ‘munir’?

    Seharusnya, sebagai kata sifat, makna ‘rendra’ dan ‘munir’ akan digambarkan dengan kata-kata seperti “punya keyakinan…” dan “tak punya rasa takut…”

    Selebihnya, saya menyambut usul ini dengan senang hati. Dan akan berusaha menyebarluaskannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s