Begawan: Bahasa Suroboyoan Harus Dilestarikan

KOMPAS 22 Okt 2009. Penulis: JY. Editor: jodhi.

Seiring perkembangan zaman, penggunaan bahasa lokal “Suroboyoan” di Kota Surabaya, Jawa Timur, harus tetap dilestarikan agar tidak luntur, kata Begawan Sastra Jawa, Suparto Brata, Rabu.

“Bahasa Suroboyoan bisa saja luntur, kalau tidak dipelihara dan dilestarikan,” kata Suparto saat dihubungi melalui ponselnya di Surabaya.

Menurut dia, supaya bahasa Suroboyoan tetap eksis nantinya juga harus dibahas dalam kongres Bahasa Jawa yang akan digelar di Surabaya, pada 2011 mendatang.

Hasil dari kongres tersebut, lanjut dia, akan ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah setempat, baik melalui perda maupun pendidikan.

“Paling tidak ada perda yang mengimbau supaya radio swasta wajib menanyangkan program menggunakan bahasa Suroboyoan,” ujar penyunting buku Kamus Suroboyoan-Indonesia ini.

Selain itu, lanjut dia, tindak lanjut lainnya berupa kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bahasa Jawa khususnya bahasa Suroboyoan.

Seperti yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dengan mengadakan kegiatan berupa lomba sastra, ludruk dan menggiatkan bahasa Jawa dan sastra Jawa.

Bahkan menyongsong Kongres Bahasa Jawa mendatang, kata dia, pemerintah daerah setempat telah menggelar diskusi bahasa Jawa di Bojonegoro, tanggal 27-28 Oktober 2009.

Suparto mengemukakan, untuk melestarikan bahasa Suroboyoan dari segi bahasa harus sering didengarkan dan diucapkan. Sedangkan untuk sastra paling tidak bahasa tersebut kerap ditulis dan dibaca.

“Jika itu diterapkan, maka secara turun-temurun bahasa itu akan terus ada sampai kapanpun,” katanya menegaskan.

Menurut dia, bahasa adalah cermin akan karakter dan sikap dari masyarakat yang tinggal di suatu daerah, bahkan negara. Begitu halnya dengan Bahasa Suroboyoan yang merupakan sub dialek bahasa Jawa, termasuk bahasa lisan yang dipakai sebagai sarana komunikasi masyarakat Kota Pahlawan dan sekitarnya dalam pergaulannya sehari-hari.

Sesama penutur bahasa tersebut merasa lebih akrab, menjadi percaya diri dan bersifat egaliter. Sebab bahasa Suroboyoan merupakan bahasa ibu yang dipahami di lingkungan keluarga maupun dalam masyarakat.

Mengingat bahasa Suroboyan bukanlah bahasa baku, sudah barang tentu akan sulit diterima sebagai bahasa resmi, seperti pengajaran di sekolah apalagi menjadi bahasa ilmiah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s