Remaja dan Mahasiswa Banyak Gunakan Bahasa Gaul

KOMPAS, 29 Okt 2009. Penulis: JY. Editor: jodhi.

Remaja khususnya para mahasiswa dituntut menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam berbicara dengan orang lain agar bahasa persatuan tersebut dapat berkembang, karena mereka banyak menggunakan bahasa gaul.

Dosen Program Studi Bahasa Indonesia dan Sastra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumut, Drs M Isman, MHum di Medan, Rabu, mengatakan, kebanyakan remaja maupun mahasiswa kurang menerapkan penggunaan bahasa Indonesia yang baku sesuai dengan kaidahnya karena tidak dibiasakan dalam kehidupan sehari-harinya.

“Sebagian mahasiswa memang lebih banyak menggunakan bahasa gaul karena pembendaharaan katanya lebih gampang untuk digunakan, tapi apabila penggunaan bahasa Indonesia dibiasakan dan ada kemauan pasti bisa,” katanya.

Isman menjelaskan, kurangnya mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia yang baik disebabkan faktor kebiasaan dan kurangnya kesadaran untuk menggunakan bahasa tersebut.

“Guru atau dosen terkadang jarang menegur siswanya apabila mereka salah ketika mengucapkannya sehingga banyak siswa tidak merasa bersalah. Maka sebagai pengajar perlu banyak melatih agar mereka terbiasa menggunakannya dalam proses belajar di kelas,” ujarnya.

Ia mengatakan meski tidak disukai oleh remaja, penggunaan bahasa Indonesia harus dipaksa agar mereka menggunakan bahasa yang baku.

Upaya memotivasi mahasiswa agar menguasai bahasa Indonesia dilakukan dengan cara belajar dan terus berlatih. Pada saat mereka berlatih didepan kelas akan diberikan penghargaan dalam bentuk pujian supaya mereka lebih serius lagi, katanya.

Menurut Isman yang juga seorang dosen Kopertis Wilayah I Sumut dan NAD  mengatakan, tanggungjawab di dalam pengajaran tidak hanya dibebankan kepada guru atau dosen bahasa Indonesia saja, tetapi juga guru dan dosen lainnya ikut serta dalam mengembangkan bahasa tersebut agar para siswa menyadari bahwa hal itu cukup penting.

Agar mahasiswa dapat menguasai penggunaan kata-kata bahasa Indonesia yang baik, seharusnya proses pengajarannya bukan hanya sebagai formalitas saja tetapi perlu ditekankan bagaimana mahasiswa terampil menggunakannya.

“Selama ini proses pengajaran hanya dilakukan dalam bentuk teori saja dan prakteknya kurang sehingga sebagian mahasiswa tidak dapat menggunakannya sesuai dengan tempatnya,” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s