Belok Kanan Ditilang

Majalah Tempo 9 Nov 2009. Putu Setia. Wartawan.

MEMBACA tulisan Qaris Tajudin di kolom ini di majalah ini pekan lalu (”Belok Kiri Boleh Langsung”), saya teringat sahabat yang masih warga negara India, tapi sudah setahun lebih di Bali dan diperbantukan sebagai pengajar bahasa Sanskerta di sebuah perguruan tinggi swasta. Sahabat saya ini suatu ketika mengendarai sepeda motor. Di sebuah jalan silang empat, ia memacu sepeda motornya belok ke kanan. Langsung ditangkap polisi.

Saya bertanya, apakah ada rambu larangan belok ke kanan? Dia menjawab: tidak. Saya bertanya lagi, apakah lampu lalu lintas lagi menyala merah? Dia menjawab: ya. ”Jelas dong Anda ditangkap, Anda melanggar,” kata saya.

Teman saya tak bisa menerima kesalahan ini. Dia memang melihat jelas lampu lalu lintas menyala merah. Namun, di tiang lampu tergantung peringatan yang berbunyi: ”Belok kiri ikuti lampu lalu lintas” lengkap dengan bahasa Inggrisnya. Teman saya berpikir, lampu ini pasti dimaksudkan untuk tujuan utama: mengatur lalu lintas yang berjalan lurus ke depan. Kalau tidak, untuk apa ada lampu lalu lintas. Kemudian, tujuan kedua: untuk belok ke kiri. Malah hal itu dipertegas dengan ”tambahan peringatan”. Lalu, untuk belok ke kanan, dia pikir boleh saja sepanjang hati-hati. ”Kalau belok ke kanan juga mengikuti lampu lalu lintas, kenapa ada diskriminasi petunjuk ke kiri dan ke kanan? Lebih baik sekalian tak ada petunjuk tambahan. Jadi, selain lurus, ke kiri dan ke kanan dilarang jika lampu merah,” katanya.

Peringatan ”belok kiri ikuti lampu lalu lintas” memang ada banyak di Bali—mungkin begitu pula di daerah lain. Terutama pada persimpangan yang lampu lalu lintasnya ”satu model”, yakni merah, kuning, dan hijau, yang ditata vertikal ataupun horizontal. Peringatan tambahan itu tak ada jika disediakan satu lampu khusus lagi, untuk rambu boleh belok ke kiri atau tidak.

Ini bukan hal pertama yang dikeluhkan teman saya, sampai ia berkesimpulan peringatan di jalan-jalan sangat tidak konsisten dan membingungkan. Apa lagi? Ia menunjuk adanya peringatan mencolok yang berbunyi: ”Anda memasuki kawasan tertib lalu lintas”. Apanya yang salah? ”Lo, kalau di luar kawasan itu apa dibolehkan tidak tertib berlalu lintas? Pantas saja banyak kecelakaan di Bali, yang tertib kan hanya di satu kawasan,” katanya.

Memang, peringatan jenis itu ada di banyak lokasi, terutama di beberapa ruas jalan protokol dalam kota dan jalan utama menuju kota. Bahkan di beberapa lokasi masih ada peringatan tambahan di bawahnya, seperti ”Pengendara motor wajib memakai helm” dan ”Pasang sabuk pengaman Anda”. Peringatan ini kalau saja berdiri sendiri di jalan dan di luar ”kawasan tertib lalu lintas”, tentu sah-sah saja. Undang-undang mengatakan begitu. Tapi kenapa harus diperkecil lagi berlakunya, seolah-olah hanya di sebuah kawasan?

Yang saya lagi pikir, ini persoalan bahasa atau persoalan ketidakpercayaan diri orang Indonesia dalam hal larang-melarang? Saya cenderung menduga ini sikap tidak percaya diri dan nyinyir yang berlebihan. Mau membuat sesuatu yang lebih tegas, malah rancu. Namun sahabat saya orang India itu berkata, ini soal bahasa. Bahasa Indonesia, kata dia, terlalu panjang untuk menjelaskan sesuatu yang seharusnya bisa pendek. Atau bisa juga begini, tak ada kosakata yang tepat untuk sebuah peringatan yang pendek, singkatnya: miskin kata.

Sahabat saya itu awalnya juga heran melihat begitu banyaknya peringatan di jalan-jalan di Bali yang berbunyi: ”Hati-hati ada upacara agama”. Dia tak habis pikir, ritual agama kok mengharuskan orang berhati-hati, memangnya ada apa? Belakangan setelah tahu apa yang dimaksudkan—yakni agar pengendara mobil berjalan hati-hati karena ada ritual agama—ia jadi terbiasa. Tapi, kata dia, kan bisa dengan kalimat lebih jelas: ”Jalan pelan-pelan, ada upacara agama”.

Suatu ketika ia terbahak ketika diberi tahu, kabel itu bukan berarti tanah, tapi cable dalam bahasa Inggris. Tadinya ia mengira kabel itu artinya tanah atau malah jalan. Soalnya, ia melihat banyak peringatan di jalan raya: ”Maaf jalan terganggu, ada galian kabel”. Bukankah yang digali tanah atau jalan, untuk memasang kabel? Menurut dia, peringatan itu lebih baik ditulis: ”Ada gali tanah. Pasang kabel.” Sama panjangnya dengan menghilangkan basa-basi ”maaf (per)jalan(an) terganggu”, karena terganggu atau tidak, itu sudah risiko melintas di sana.

Ada baiknya hal ini direnungkan, meskipun barangkali tak begitu gawat benar.

Iklan

3 thoughts on “Belok Kanan Ditilang

  1. kasus “belok kiri” kan memang sesuai uu lalu lintas (lama) yg defaultnya belok kiri itu tdk hrs mengikuti lampu lalu lintas, kecuali ada rambu yg menyatakan sebaliknya. Nah kalau uu yg baru, belok kiri defaultnya mengikuti lampu lalu lintas kecuali ada rambu yg menyatakan sebaliknya. nah sepertinya warga negara india ini tdk mengerti aturan itu.

  2. Unik juga bahasan rambu-rambu lalu lintas dalam tataran semantik ini, cukup membuat saya tersenyum sendiri membacanya.

    Sedikit mengomentari soal tanggapan pengguna jalan terhadap rambu-rambu tersebut, saya pikir lebih baik penghematan peringatan–seperti diusulkan penulis–disertai dengan buku panduan; dan, setiap pengguna kendaraan bermotor diwajibkan untuk memilikinya.

    Teknisnya bagaimana? Gampangnya melalui Polsek terdekat, dan pada saat pembuatan/perpanjangan STNK ataupun SIM. Logis, juga praktis, dan mesti dibuat seekonomis mungkin; buku saku, misalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s