Hilangnya Kulonuwun

Majalah Tempo 23 Feb 2009. Susanto Pudjomartono. Wartawan senior.

SAYA tidak begitu percaya ketika seorang teman memberi tahu bahwa ucapan kulonuwun (sapaan di Jawa yang diucapkan seseorang sebelum masuk rumah yang dikunjungi, semacam ”permisi” atau ”punten” di Pasundan) telah menghilang di Yogyakarta dan berganti dengan assalammualaikum. Namun, setelah saya periksa sana-sini, betul juga, di banyak tempat di Yogyakarta, kulonuwun memang mulai menghilang.

Mungkin ini pengaruh gaya hidup islami yang belakangan begitu deras menerpa, seperti juga meluasnya gaya berpakaian jilbab. Di Jakarta, ucapan salam lekum sudah lama menjadi keseharian. Tapi, bagaimana mungkin kulonuwun menghilang di Yogyakarta yang dianggap jantung budaya Jawa?

Bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang paling banyak dipakai di Indonesia karena etnis Jawa memang yang terbesar. Dalam perkembangannya, seperti juga pada bahasa daerah lain, bahasa Jawa sangat dipengaruhi dan diinfiltrasi bahasa lain, hingga banyak muncul istilah baru yang diadaptasi begitu saja tanpa mempedulikan tata bahasa dan asal kata.

Begitulah, di Yogyakarta, misalnya, sudah bertahun-tahun kita mendengar istilah ”naik travel”, artinya menumpang kendaraan umum yang diselenggarakan biro perjalanan (travel). Juga hadirnya istilah ”momen”, yang artinya razia oleh polisi lalu lintas. Atau juga ”seles” untuk menyebut salesman atau salesgirl.

Tapi, seperti juga yang terjadi pada bahasa daerah lain, ada kecenderungan pemakaian bahasa Jawa mulai digantikan oleh bahasa Indonesia. Urbanisasi telah menyebabkan banyak orang pindah ke perkotaan, dan di kota, yang masyarakatnya datang dari berbagai etnis, lebih gampang berbahasa Indonesia.

Agaknya, untuk memetri (memelihara) budaya Jawa, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X pada Agustus lalu memerintahkan digalakkannya pemakaian bahasa Jawa untuk pergaulan sehari-hari di lingkungan pegawai negeri sipil di daerahnya. Sebagai pelaksanaannya, Pemerintah Kabupaten Bantul sejak September lalu mewajibkan pegawai negeri sipil di lingkungan setempat menggunakan bahasa Jawa dalam aktivitas komunikasi di tempat kerja. Ketentuan ini hanya berlaku pada setiap Sabtu dan tanggal 20 setiap bulan.

Tujuannya: melestarikan budaya dan bahasa Jawa serta mengamalkan nilai sopan santun dan tata krama budaya Jawa. Bahasa Jawa akan dipakai pada setiap rapat dinas, pembicaraan melalui telepon, dan pelayanan pada masyarakat.

Pemakaian bahasa Jawa memang sangat erat hubungannya dengan sopan santun dan tata krama budaya Jawa. Bahasa Jawa mengenal beberapa tingkatan, ngoko, krama madya, dan krama inggil. Pemakaian tingkatan itu tergantung kepada siapa dan di lingkungan apa kita berbicara. Berbicara dengan seorang tua yang dihormati, misalnya, mestilah dalam bahasa yang halus dan dengan sikap yang sopan.

Tapi ada kecenderungan pemakaian bahasa Jawa halus ini juga mulai memudar. Banyak anak muda di Jawa yang kini tidak mampu berbahasa Jawa halus. Sebagai akibatnya, tata krama dan sopan santun berbahasa juga mulai berubah.

Yang kurang disadari, selain invasi dari bahasa Indonesia, generasi muda Jawa mulai kehilangan pemahaman atas bahasa Jawa kuno, yang biasanya dipergunakan dalam pergelaran wayang kulit. Memudarnya wayang kulit terjadi selama dua puluhan tahun terakhir. Media hiburan utama masyarakat rural kini sudah berganti dengan menonton (acara sinetron) di televisi, dan perhelatan kini lebih sering berupa pertunjukan musik dangdut atau musik pop yang disajikan dengan organ tunggal.

Agar wayang dapat bertahan, banyak dalang yang sekarang memperbesar porsi hiburan dalam pertunjukannya. Adegan gara-gara dan Limbukan masing-masing bisa memakan waktu dua sampai tiga jam. Dalam adegan itu, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, serta Limbuk dan Cangik, memakai bahasa Jawa yang populer. Selain itu, dalam adegan lain banyak dalang yang sengaja meninggalkan bahasa Jawa yang ndakik-ndakik (susah dimengerti alias bahasa Jawa kuno) untuk mempermudah komunikasi dengan penonton.

Masalahnya, selain menjadi media hiburan, wayang kulit berisi piwulang (ajaran moral). Menyurutnya porsi pemberian ajaran moral ini dengan sendirinya juga mempengaruhi pembelajaran tentang etika Jawa yang terkandung dalam pertunjukan wayang. Akibatnya, generasi muda Jawa juga mulai kehilangan pendidikan moral, sopan santun, dan tata krama yang sebelumnya tersaji lewat wayang.

Wayang bukan pertunjukan yang akrab di perkotaan, dan pelan-pelan pemahaman serta penguasaan bahasa Jawa akan makin pudar, termasuk juga tata krama dan sopan santun Jawa. Modernisasi, termasuk urbanisasi, memang telah mengubah lanskap bahasa kita. Hal ini sangat disayangkan. Filsuf Frans Magnis- Suseno bertahun-tahun silam telah mengingatkan bahwa memudarnya wayang kulit akan ikut juga menghilangkan pendidikan etika Jawa, dan pendidikan moral akan bergantung sepenuhnya pada pendidikan etika Barat, yang sekarang menguasai sistem pendidikan Indonesia.

Iklan

7 thoughts on “Hilangnya Kulonuwun

  1. maturnuwun, nuwunsewu, kulonuwun, nuwunkulo, nuwuninggih merupakan ungkapan bahasa jawa yang sangat santun. Perlu di budayakan lagi secara sungguh-sungguh

    • Nuwunsewu.
      @pailung: saya adalah putra dari Bpk Anggoro Sunoto yg comment di postingan ini pd tgl 24 November 2014, saya baru saja menemukan blog ini dan baru mengetahui ayah saya pernah comment di postingan ini. Atas nama Bpk Anggoro Sunoto saya mohon maaf bila beliau tidak bisa menjawab pertanyaan saudara PaiLung karena beliau sdh berpulang ke Sang Pencipta September 2012 lalu karena sakit. Saya percaya bahwa istilah ‘nuwun kulo’ dan ‘nuwun inggih’ betul ada artinya karena beliau sebtulnya juga guru Bahasa Jawa yg sangat kompeten. Namun sayangnya tidak diturunkan pd saya. Pemahaman Bahasa Jawa yg mendalam tidak saya kuasai. Sekali lagi saya nyuwun pangapunten.

  2. Nuwunsewu tumut berkomentar…
    Setuju. Tapi ‘salam’ dalam Islam juga refleksi dari ‘kulonuwun’ juga, bahkan isinya doa. Menghormati tamu, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, adalah budaya tinggi yang ada diajarkan dalam agama dan adat jawa. Bukan wujudnya, tetapi esensinya itu yang terutama sekali harus dijaga, kalau bisa lebih sempurna kenapa tidak. Maturnuwun

    • Betul sekali sdr.Ali. Tapi budaya Jawa juga merupakan budaya yang luhur dan memiliki makna filosofis cukup dalam. Bahkan dalam sejarahnya, bangsa lain mengenal budaya dan bahasa Jawa dengan kesopanan serta tingkat ketaatan dan simbol2 yg dalam terhadap Sang Pencipta dalam setiap makna perkataan serta krama juga dalam kehidupan sosialnya.
      Ucapan salam atau salaam atau shaloom dalam budaya Timur Tengah memang sebuah bentuk doa dari seorang individu terhadap individu yg lain agar juga diberi kedamaian dari Sang Pencipta, namun ungkapan nuwun(Jawa tengah)/nuhun(Jawa Barat/Sunda)/suwun(Jawa Timur) adalah bermakna ungkapan kerendahan hati untuk membagikan kasih (jgn disamakan dgn istilah ‘kasi’ yg lebih dekat dengan makna memberikan) yang juga pada akhirnya bertujuan membagikan damai yang didapat dari Sang Pencipta.
      Kalo dilihat dalam makna:
      nuwun/nuhun/suwun : terima kasih (makna literal)
      tapi dalam makna filosofisnya bisa berarti ungkapan syukur yang dalam atas suatu pemberian dari yang menerima terhadap yang memberi, biasanya untuk menunjukan ungkapan syukur yang sangat dalam, maka ditambahkan istilah ‘matur’ atau ‘hatur’, yg dalam makna nya berarti menyampaikan dengan penghormatan yang dalam

      kula nuwun : ungkapan salam terhadap orang di suatu tempat (makna literal), permisi (bhs.ingg=permission)
      ungkapan ini terdiri dari kata kula (tunggal) / kawula (jamak) yang berarti manusia rendah / hamba, menunjukan dengan jelas bagaimana kesadaran manusia Jawa terhadap posisinya di hadapan lawan bicaranya. ini bukan ungkapan rendah diri atau minder melainkan justru kerendahhatian, penghormatan dan sopan santun baik terhadap sesama yang dihormati (orang tua,guru,tokoh masyarakat,dll) juga terhadap Sang Pencipta. Sebagai catatan, kula nuwun biasanya memang diungkapkan ketika kita bertamu atau mendatangi orang yang dihormati, atau bahkan ketika berdoa (sembahyang=sembah-Hyang(Tuhan)). singkatnya kula nuwun bisa dimaknakan secara ringan sebagai permohonan untuk diterima kehadirannya di tempat tersebut, atau secara dalam permohonan agar diterima dengan baik karena orang tersebut datang dengan tujuan baik-baik,rasa hormat dan kekeluargaan (jarang ditemui orang yang bertamu dengan tujuan marah-marah mengucapkan kula nuwun)

      nuwun sewu :beribu terima kasih (mirip dengan matur nuwun)
      mungkin terlihat seperti budaya Jawa itu adalah budaya yang berlebihan, tapi pada dasarnya budaya Jawa memang memiliki kecenderungan untuk melebihkan suatu hal dengan tujuan memberi penegasan makna. seperti nuwun sewu, bukan berarti meminta seribu, nuwun (bukan nyuwun=minta) sewu mungkin lebih tepatnya adalah sebuah ungkapan terima kasih yang teramat sangat (ribuan kali) atas suatu hal karena sudah dimaklumi. nuwun sewu dalam penggunaannya biasanya ketika kita harus lewat/berjalan di depan orang yang dihormati atau akan meninggalkan tempat, jika melihat latar belakang budayanya, orang Jawa akan sangat merasa tidak pantas jika harus lewat di depan orang yang orang lain, atau pergi dengan memunggungi (meninggalkan tempat dengan berbalik arah) terutama orang yang dihormati. Maka ungkapan nuwun sewu lebih tepat jika dimaknai sebagai ungkapan syukur teramat dalam atas maklum yang diberikan oleh orang yang dilewati atau ditinggal karena pengucap kata nuwun sewu ini datang/pergi dengan damai dan bukan bermusuhan.matur sembah nuwun, hatur nuhun, matur suwun, matur suksme

      nuwun sewu, assalammualaikum, shalom alaikhem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s