Demi Apa dan Siapa

Pikiran Rakyat 29 Nov 2009. Dadan Suwarna, Dosen Fakultas Sastra Universitas Pakuan.

DEMI sesungguhnya adalah sebuah kata. Seperti halnya aku, mereka, ingin, dan lain-lain, kata ini tidaklah teramat istimewa kalau tidak diikrarkan sedemikian rupa. Demi, dan kata yang menyertainya, jadi relatif penting karena diungkapkan dalam kekhusyukan. Amatilah pernyataan cinta seseorang pada lawan jenisnya, pengkhianat adalah sebutan bagi yang mengingkarinya. Apalagi bila di-demi-kan segala. Terasa menyakitkan manakala penyelewengan status dan profesi dilakukan, sekalipun satu kali. Itulah mengapa kata demi jadi pertaruhan hidup seseorang.

Ketika diikrarkan, demi jadi kata yang demikian dogmatis dan bahkan hiperbolis. Selalu ada ekspresi menggetarkan bila diucapkan menyertai sumpah seseorang. Akibatnya, keyakinan pada orang yang bersumpah begitu banyak diharapkan khalayak ketika ia adalah representasi harapannya. Apalagi, sumpah bukanlah permainan, melainkan perjanjian Illahiah. Manusia adalah insannya, Dia adalah penciptanya, dua hubungan vertikal yang senyatanya senjang itu membutuhkan ketaatan.

Di balik kata demi, seseorang tengah melakukan tumpuan janji dan penegasan sikap; demi kesejahteraan rakyat, demi aturan yang ditegakkan, demi pengembangan amanah rakyat, dan lain-lain, terasa begitu menggetarkan bila diungkapkan di tengah kitab suci yang menumpunya.

Di balik kata demi tersebut, seseorang tengah memperjuangkan kepentingan rakyat sebagai prioritas memangku jabatan apa pun; rakyat akan disejahterakan, rakyat akan diberdayakan. Di balik kata demi, rakyat jadi salah satu prioritas kerja para elite.

Andai diungkapkan dengan ketulusan hati —bukan kegombalan yang kerap kali mewarnai siasat “menjual” diri— demi teramat mulia perwujudannya karena akan jadi kontrak politik moral antara pernyataan elite, katakanlah, dan kenyataan kala seseorang itu memimpin.

Pembanding demi adalah kata yang sejenis, misalnya,

Demi rakyat…
Untuk rakyat…
Bagi rakyat …
Buat rakyat…

Jelas keempat ungkapan tersebut memiliki suasana dan nuansa makna pernyataan yang berbeda. Demi rakyat terkesan jadi pernyataan yang elegan, heroik, bahkan jadi bernilai hina bagi pengingkarannya. Berbeda penyimpangannya dari untuk, bagi, atau buat. Dalam bahasa Indonesia, diksi atau pilihan kata begitu penting untuk menegaskan struktur dan kesan makna yang tercakup. Penempatannya adalah pilihan asosiatif sekaligus keluasan makna di dalamnya. Nilai rasa keagungan dipertimbangkan sebagai pengukuhan diri tentunya.

Jadi, memilih bahasa adalah mengungkapkan ikatan emosional mahatinggi, mahaampuh dalam menggugah ketulusan sekaligus kebenaran mengakui.

Persoalannya, demi rakyat bukanlah demi kuasa; ada makna pengemban amanah manusia mulia melalui lidah dan perbuatannya. Kiblatnya adalah pemihakan pada manusia, bukan pada jatah kedudukan. Melalui amalannya, kita berharap orang yang bersumpah adalah insan yang mahamulia. Sebaliknya, bila tercederai, ia mahahina, semata-mata telah menjual nama demi sebongkah kuasa. Dalam bahasa gaul kini, ia sebatas cuap-cuap, sejenis “asbun” (asal bunyi).

Demi sesungguhnya adalah preposisi. Kedudukannya sebatas pengikat makna benda. Maknanya adalah keterangan sebagai penegas sasaran subjek. Demi tidaklah memiliki makna kamus (leksikal), selain gramatikal karena bergantung pada struktur atau maksud yang dipaparkannya kemudian. Akan jadi apa pernyataan, bergantung pada acuan apa yang menyertai kata demi tersebut. Pertaruhannya adalah, apakah seseorang itu tengah mengucapkan demi siapa ataukah demi apa? Ada hal yang berbeda antara apakah ia sedang mempertuhan kemanusiaannya, mempertuhan kemanusiaan orang lain, ataukah mempertuhan kebendaan tertentu. Penyimpangan moral, kesewenang-wenangan manusia biasanya bertolak dari apa yang ia demi-kannya itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s