Bahasa Daerah Menjadi Pilar Utama Bahasa Indonesia

KOMPAS 30 Nov 2009. Penulis: JY.

Bahasa daerah (mother tongue atau native tongue) adalah menjadi pilar utama bahasa Indonesia.

“Oleh karena itu, kita harus memberdayakan bahasa daerah semaksimal mungkin agar sumbangsih terhadap bahasa nasional kita lebih tampak,” kata Kepala Sub Bidang Pembakuan dan Kodifikasi, Pusat Bahasa, Dr.Fairul Zabadi di Medan, Selasa.

Hal tersebut dikatakannya pada seminar “Revitalisasi Bahasa Indonesia Melalui Pemberdayaan Kosakata dan Istilah”  yang diselenggarakan Universitas Negeri Medan.

Fairul mengatakan, banyak pihak yang tidak memahami potensi yang terpendam dalam  bahasa daerah, padahal, kita tidak mungkin dapat memahami dunia sekitar kita tanpa kehadiran bahasa daerah.

“Bahasa daerah harus kita berdayakan agar menjadi bahasa yang dominan, penting, bergengsi dan bermanfaat ketika kita ingin menunjukkan keunggulan internal dan eksternal yang ada,” ujarnya.

Menurut dia, keunggulan internal merujuk antara lain pada kekayaan linguistik, misalnya kosakata yang luas untuk mengekspresikan gagasan nyata atau abstrak.

Sedangkan keunggulan eksternal mengacu pada aspek-aspek di luar bahasa yang dapat meningkatkan kualitas bahasa daerah.

Pemberdayaan bahasa daerah dapat ditempuh melalui beberapa jalur, yaitu jalur formal, dilakukan di sekolah sebagai bahasa pengantar atau mata pelajaran.Jalur nonformal, dilakukan dengan menggunakan bahasa daerah di media massa dan kegiatan sosial budaya.

Selain itu, jelasnya, bahasa daerah juga  memiliki kontribusi besar untuk memperbanyak kosakata bahasa Indonesia.

Untuk memperkenalkan berbagai bahasa daerah itu, masyarakat perlu mensosialisasikan bahasa mereka melalui tulisan-tulisan ilmiah, sehingga semakin banyak pembaca yang mengenal berbagai istilah bahasa daerah tersebut.

“Kalau sudah banyak dikenal masyarakat dan mulai dipakai, mungkin bisa kita jadikan sebagai bahasa Indonesia,” ujarnya disela-sela seminar nasional itu.

Dia mengatakan, kosakata bahasa Indonesia yang terekam di dalam kamus sebagai bentuk kodifikasi menunjukkan ada peningkatan, pada tahun 1988 sebanyak 62.100 lema, tahun 1991 berjumlah 68.000 lema, tahun 2001 berjumal 78.000 lema dan tahun 2005 berjumlah 90.000 lema.

Bahasa daerah saat ini telah banyak menjadi bahasa Indonesia, dari 90.000 kosakata yang terekam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-4, ternyata terdapat 3.631 kosakata berasal dari 72 bahasa daerah.

Bahasa daerah yang telah menjadi bahasa Indonesia antara lain bahasa Jawa, Minangkabau, Sunda, Bali, Aceh, Batak dan bahasa Lampun.

Sementara itu, bahasa Jawa menempati posisi pertama sebagai bahasa daerah yang telah menjadi bahasa Indonesia sebanyak 1109 kosakata dengan jumlah penutur sebanyak 75.200.000, pada urutan ke-2 Minangkabau sebanyak 929 dengan jumlah penutur sebanyak 6.500.000.

Sedangkan bahasa Madura menempati posisi ke-3 sebanyak 223 kosakata dengan jumlah penutur sebanyak 27.000.000.

Namun, jelasnya, besarnya jumlah penutur ternyata tidak selalu menentukan jumlah kosakata bahasa daerah yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, misalnya bahasa Minangkabau dengan jumlah penutur lebih sedikit, ternyata menyumbang 929 kasakata lebih banyak dibandingkan Sunda sejumlah 223 kosakata.

Pembicara lainnya, Ketua Balai Bahasa Medan, Prof.Dr.Amrin Saragih,MA mengatakan, bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan sosial, terlebih dalam menghadapi kehidupan di era globalisasi, tanpa disadari permainan bahasa itu telah menjadi alat dalam persaingan dunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s