Jelajah Indonesia

KOMPAS, 4 Des 2009. Dian Purba: Aktif di Komunitas Mata Kata, Tinggal di Medan.

Saya mengadari toko buku itu, lantas menggeledah mengacar kamus olahraga. Tidak tersua. Barangkali memang belum dianggit. Jangan-jangan kata-kata, pun istilah-istilah, yang bersangkut paut dengan olah badan ini tak perlu dirakit. Bangsa sebesar ini begitu kewalahan melewarkan diri sebagai pemimpin bidang olahraga di kawasan. Kita sudah menggaji seorang menteri mengurus semua itu. Tour d’Indonesia, terma ini yang hendak saya lacak.

Lengkapnya begini: Speedy Tour d’Indonesia 2009. Jakarta-Bali, 22 November-3 Desember 2009. Kegiatan ini diikuti beberapa negara dan setiap peserta harus mengayuh sejauh 1.513,5 kilometer. Ada beberapa tour yang cukup eminen, sebut saja satu: Tour d’Franc. Sepertinya Indonesia mencaplok bulat-bulat semua yang berkelindan dengan olahraga dayung pedal ini dari sana. Mulai dari tata tertib bermain hingga penamaan invitasi.

Tour d’Franc di Perancis benar adanya. Tour d’Indonesia di Indonesia? Saya lantas teringat dengan pendekar bahasa Anton Moeliono yang menawarkan Rembuk Nasional pengganti National Summit. Kira-kira sang munsyi bertanya begini: bagaimana bisa membela Tanah Air, memajukan bangsa, dan mengembangkan bahasa Indonesia jika para pemimpin bangsa dan pemuka masyarakat dengan bangga memamerkan pengenalan bahasa Inggris di muka khalayak ramai?

Pencaring aturan berbahasa selanjutnya datang dari salah satu lembaga penyehat badan kita. Apakah kamus ekabahasa kita yang supertebal itu tidak mencatat arti sama dengan Tour d’Indonesia sehingga Kompas juga ikut-ikutan latah menapakkannya menjadi subrubrik olahraga?

Oxford Advanced Learner’s Dictionary edisi ketujuh bolehlah dibuka.

Tour di sana memiliki arti (1) perjalanan ke beberapa kota, negara, sekadar untuk kesenangan; (2) mengunjungi sebuah kota, ataupun sebuah bangunan dengan cara berjalan kaki; dan (3) kunjungan resmi orang penting ke beberapa tempat berbeda bisa berupa regu olahraga, atau orkestra.

Kamus BesarPusat Bahasa menyalinnya sebagai tur ’perjalanan untuk bertamasya’ sehingga Tour d’Indonesia bolehlah disalin menjadi Tur Indonesia. Namun, salinan itu terasa kurang menggigit, tidak pas di lidah.

Tujuan penyelenggara mencatut nama ini barangkali mendekatkannya dengan ingar-bingar Tour d’Franc yang teramat terpegah itu. Lantas saya bertanya: Perancis dengan bangga menamai olahraga ini dengan bahasa sendiri, kita kok tidak?

Sembari menunggu kamus olahraga terwujud, saya memberangsangkan diri mengalihbahasakan Tour d’Indonesia menjadi Jelajah Indonesia. Sambil berkeringat di atas sepeda menelusuri kota, pelosok sepanjang pulau Jawa hingga Bali, penjelajah tentu tak kehilangan kesenangan bertamasya menikmati eloknya negeri ini.

Barangkali saja penggemar yang bersorak-sorai di sepanjang jalan bertalah-talah membeli sepeda. Pemimpin mereka di Ibu Kota sudah lama mencanangkan Bike to Work. Semua yang baik perlu didukung. Namun, mengapa Bike to Work?

Iklan

2 thoughts on “Jelajah Indonesia

  1. Ping-balik: Napoleon Bonaparte Marah « Rubrik Bahasa

  2. Ping-balik: Napoleon Bonaparte Marah | Rubrik Bahasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s