Sastra Pesantren Terpinggirkan

KOMPAS, 19 Jan 2010.

Dalam praktik pengajaran, pondok pesantren kaya dengan produk sastra. Namun, sastra pesantren cenderung terpinggirkan dan bahkan belum dikenal khalayak.

Menurut Ketua Yayasan Pondok Pesantren Lembaga Kajian Islam dan Sosial Kali Opak Jadul Maula, santri telah berkecimpung dengan sastra seperti syair maupun rangkaian untaian doa dalam kehidupan sehari-hari. “Secara tidak sadar, jiwa sastra telah terbentuk, tetapi aliran sastra pesantren belum menemukan bentuknya,” kata Jadul, pekan lalu.

Sastawan seperti Zawawi Imron maupun Ahmad Tohari berasal dari pesantren, tetapi belum dikategorikan sebagai sastra pesantren. Untuk mendongkrak minat generasi muda pesantren berkarya di bidang sastra, pondok pesantren giat menggelar beragam pendidikan sastra, pembuatan film pendek, hingga mengapresiasi film.

Mengisi libur sekolah, sekitar 100 anak berusia 15-25 tahun mengikuti pelatihan kepenulisan sastra fiksi di Pondok Pesantren Kali Opak yang diselenggarakan Komunitas Matapena. Kegiatan diikuti siswa dari 30 pondok pesantren.

Pjs Ketua Komunitas Matapena Yogyakarta Akhiriyati Sundari mengungkapkan, pelatihan mampu mendongkrak kreativitas menulis generasi muda. Selain memperoleh bekal teknik penulisan, siswa juga diajak menggali ide dengan mengunjungi Candi Boko hingga bantaran Sungai Opak. “Kami berharap bisa lahir penulis muda dari pondok pesantren,” kata Sundari.

Sastra pesantren, menurut Jadul, harus keluar dari ekspresi keagamaan yang menyempit. (WKM)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s