Binatang

Majalah Tempo, 8 Feb 2010. Sitok Srengenge, Penyair.

SEORANG anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dengan volume suara keras dan tekanan dinamik kuat, menguarkan kata bangsat kepada seorang sejawatnya. Siapa pun yang mendengarnya di ruang sidang maupun yang menyaksikan di layar televisi segera mafhum bahwa orang itu sedang melontarkan makian. Kata bangsat dalam konteks tersebut bisa berarti merendahkan, melecehkan, menistakan, dan menghina; sebab menyamakan orang yang dituju dengan kepinding atau kutu busuk.

Tak lama sebelumnya, seorang akademisi memasyarakatkan buku Membongkar Gurita Cikeas. Di luar isinya yang kontroversial, para pemerhati bahasa tentu bisa menduga sikap penulisnya. Kata gurita, yang merujuk makhluk laut bertentakel banyak, pada frasa itu punya nuansa makna yang tidak senetral kata jejaring, cecabang, atau sindikat, meski kandungan semantiknya bisa sama.

Konotasi negatif kedua kata di atas, bangsat dan gurita, muncul karena digunakan sebagai kias untuk menyetarakan watak dan tindakan manusia dengan perangai dan perilaku binatang. Dengan kata lain: tidak manusiawi. Dalam ”perbendaharaan makian” yang menggunakan nama binatang, keduanya sudah lazim alias klise. Kias yang lebih segar justru dilontarkan oleh seorang jenderal polisi, ketika ia bilang, ”Cicak kok mau melawan buaya!” untuk mengibaratkan konflik yang terjadi antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan lembaga kepolisian.

Penyebutan cicak, dengan maksud merendahkan, terasa sebagai ungkapan baru karena belum biasa dalam bahasa kita. Dengan menyebut cicak, agaknya sang jenderal bermaksud melecehkan pihak lawan karena cicak pada kalimat itu langsung mengacu pada sifatnya yang kecil dan lemah dibanding buaya yang lebih besar dan lebih kuat. Sebuah contoh ungkapan yang kurang taktis dalam politik komunikasi. Ketiadaan konotasi negatif, juga sifat kecil dan lemah pada cicak, justru mengundang simpati khalayak. Sebaliknya, tanpa disadari, dengan mengandaikan diri sebagai buaya sesungguhnya sang jenderal lebih merendahkan pihaknya sendiri. Kita tahu buaya—predator melata itu—telah menjadi salah satu simbol yang mewakili tabiat buas dan buruk. Misalnya, buaya darat kerap digunakan untuk mengatai lelaki yang gemar main perempuan, air mata buaya untuk menyatakan kemunafikan.

Entah mengapa kita yang menerima burung (generik) sebagai simbol kebebasan, juga memuja garuda dan sesekali memahami sejoli merpati sebagai metafor cinta kasih dan kesetiaan, terkesan kurang menghargai binatang. Bahasa Indonesia punya sederet panjang nama binatang yang kerap dicatut untuk merendahkan liyan. Sebut saja: anjing, babi, monyet, kadal, ular, bajing(an), kambing hitam, kambing congek, otak kerbau, otak udang, akal bulus, tikus kantor, kelas teri, kelas kakap, lintah darat, sapi perah, kuda beban, kupu-kupu malam, ayam kampus, jago kandang, aksi kucing, kucing garong, kucing kepala hitam, serigala berbulu domba, dan sebagainya.

Konon bahasa menyatakan pola berpikir atau dengan ungkapan lain ”bahasa menunjukkan bangsa”. Sehubungan dengan itu, kita tahu, bangsa Indonesia bukanlah satuan manusia yang tiba-tiba ada. Bangsa Indonesia adalah penamaan baru untuk, atau pengejawantahan dari, sekian banyak (suku) bangsa yang umumnya punya bahasa lokal. Kita tak pernah bertanya dari mana ungkapan seperti itu datang, atau bagaimana diciptakan. Apakah bahasa Melayu sebagai induk bahasa Indonesia, juga bahasa-bahasa lokal lain di Nusantara, pun menggunakan nama binatang sebagai ungkapan yang merendahkan liyan?

Dalam bahasa Jawa baru memang tersedia sejumlah ungkapan sinis seperti itu, misalnya: babi/celeng, kethek/munyuk, dan asu. Namun, pernah pada suatu kurun, orang Jawa terkesan lebih menghargai binatang dengan meminjam nama mereka untuk manusia. Sekadar menyebut beberapa: dari masa Kediri-Singasari setidaknya kita teringat Bango Samparan dan Kebo Ijo, dari zaman Majapahit kita kenang Hayam Wuruk dan Gajah Mada, bahkan sampai masa berakhirnya Kerajaan Demak kita masih mengenal Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Mungkin ada moralitas tertentu yang menyebabkan pergeseran citra atas penggunaan nama binatang untuk panggilan manusia. Namun, agaknya, kebiasaan yang menyiratkan nilai penghargaan kepada binatang itu ditinggalkan sejak peralihan Demak ke Pajang, dan lebih-lebih pada masa Mataram ketika para penguasa Jawa menganggap diri mereka sebagai pusat dunia atau alam semesta.

Iklan

One thought on “Binatang

  1. Mungkin ada yang belum mengetahui makna kata “liyan”, sebab tidak (belum) masuk dalam entri atau lema KBBI edisi IV sekalipun; ya, artinya tidak lain adalah “yang lain”, dengan maksud “orang lain”. Semoga bisa membantu aspek keterbacaan artikel di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s