Khazanah Petuah dalam Peribahasa

KOMPAS, 10 Feb 2010.

Pakar bahasa Indonesia Anton Moeliono beberapa kali menyayangkan guru Bahasa Indonesia yang tak melihat kamus sebagai bahan ajar di sekolah.

“Padahal, dari kamus itulah kekayaan pengetahuan bahasa dapat diperoleh siswa yang sedang belajar Bahasa Indonesia,” tuturnya.

Dalam kamus bahasa Indonesia, khususnya Kamus Besar Bahasa Indonesia, siswa bukan saja dapat memperoleh pengetahuan mengenai makna kata, kelas kata, dan tata kata, tapi juga mengenai khazanah petuah yang terangkum dalam peribahasa–yang menjadi salah satu muatan kamus.

Namun, jika siswa hendak memperoleh pengetahuan tentang makna yang lebih dalam mengenai peribahasa, buku “Kamus Peribahasa” susunan Jusuf Syarif Badudu, edisi Oktober 2009, oleh Penerbit Kompas, menjadi pilihan yang pas.

Seperti yang dikatakan sang penyusun, lahirnya buku ini muncul dari keprihatinannya atas cara guru-guru di sekolah mengajarkan peribahasa kepada anak didik.

Pada umumnya guru di depan siswa membacakan sebuah peribahasa, lalu menerangkan makna kiasan yang dikandung peribahasa tersebut. Sedangkan makna harfiah peribahasa itu sering luput dari uraian sang guru.

Guru juga sering melupakan sejarah atau latar belakang munculnya peribahasa tertentu.

Kekurangan-kekurangan yang dialami guru itulah yang hendak diatasi oleh Badudu lewat buku setebal 300 halaman yang dijual dengan harga Rp45.000, yang nilainya tak lebih dari harga lima bungkus rokok kretek termahal.

Badudu punya pengetahuan menarik antara lain saat menjelaskan peribahasa “Seperti anjing menggonggong tulang”. Menurut Badudu, peribahasa di atas didasarkan pada suatu cerita tentang seekor anjing yang menemukan sepotong tulang. Lalu tulang itu digonggongnya, maksudnya: digondol dengan moncongnya. Anjing itu lalu lewat di sebuah titian yang terentang di atas sungai.

Di tengah-tengah titian tersebut, anjing itu berhenti karena di dalam air dilihatnya seekor anjing lain yang juga menggonggong tulang. Padahal, itu hanya bayang-bayangnya saja. Karena loba dan tamaknya, ia ingin juga tulang yang digonggong anjing lain itu. Lalu terjunlah ia ke dalam sungai itu. Akhirnya, tulang yang lain itu tidak didapatkannya, sedangkan yang ada di dimoncongnya pun lepas dan hanyut.

Bila guru di sekolah yang mengajar peribahasa hanya merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau buku peribahasa pada umumnya, pastilah cerita anjing yang loba itu tak termiliki.

Dengan mengetahui cerita di balik munculnya peribahasa “Seperti anjing menggonggong tulang” itu, siswa akan semakin mengerti arti kiasan dari peribahasa tersebut.

Badudu menulis, peribahasa di atas dikiaskan kepada orang yang loba dan tamak. Karena ketamakannya, ia ingin mendapat banyak sekali, tidak peduli orang lain juga memperoleh bagian yang sama seperti dia atau tidak. Yang penting ia ingin lebih banyak. Karena ingin mengejar yang lain, yang ada padanya disia-siakannya.

Akhirnya yang ada padanya lenyap, sedangkan yang dikejarnya tidak pula didapatkan. Singkatnya, orang yang loba dan tamak sering tidak mendapatkan apa-apa atau tidak pernah puas dengan apa yang ada.

Membaca dengan kritis

Membaca peribahasa untuk zaman ketika yang benar dan yang salah tak bisa diputuskan dengan mudah seperti saat ini, agaknya menuntut sikap kritis. Artinya, peribahasa yang berisi petuah yang diciptakan oleh kebudayaan masa silam itu tak serta-merta klop dengan situasi saat ini.

Sebagai contoh, untuk peribahasa “Seperti anjing menggonggong tulang” di atas akan kurang pas jika dikenakan pada kaum profesional yang terbiasa dikondisikan oleh lingkungan yang memaksanya untuk tidak pernah puas dengan apa yang ada.

Peribahasa yang berisi petuah ini memang senantiasa dalam dilema maknawi. Orang yang tamak dengan orang yang selalu tidak puas dengan keadaan yang ada seperti dua sisi pada mata uang yang sama. Tapi, apa makna loba dan tamak untuk kebudayaan kapitalis saat ini?

Pengusaha besar yang membuka toko swalayan di kampung-kampung dan berpotensi menggusur warung-warung kecil, tak lagi “dikutuk” oleh pengambil kebijakan publik.

Apalagi, jika pilihannya adalah menjadi pengusaha yang tak puas dengan yang ada, sehingga harus terus mengembangkan sayap bisnis atau mati digilas pesaing. Jika yang pertama–dan memang begitulah kenyataan saat ini–yang dipilih sang “enterpreneur”, maka menjadi loba adalah keniscayaan. Dengan demikian, kebudayaan masa kini justru menasihati sang wirausaha untuk berpacu menjadi “seperti anjing menggonggong tulang”.

Satu contoh lagi peribahasa yang bermakna dilematis, yakni “Ditepuk air di dulang, tepercik muka sendiri”. Arti kiasan peribahasa ini adalah menceritakan aib keluarga sendiri, si pencerita juga turut beroleh malu.”

Jika pengertian keluarga diperluas menjadi “bangsa”, apakah yang dilakukan kaum pegiat lembaga swadaya masyarakat, yang mengungkap kebobrokan internal pada sang donatur dari negara lain, juga terkena kutukan moral peribahasa ini?

Hadirnya karya Badudu ini agaknya pantas disambut positif karena bisa memperkaya guru dalam mengajarkan peribahasa pada siswa. Namun, yang tak kalah penting, guru perlu juga membaca peribahasa ini dengan kritis.

Kritisisme inilah yang akan menjadikan pembelajaran peribahasa di sekolah tidak lepas dari kancah persoalan masa kini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s