Kata-Kata yang Membedakan Kelamin

Pikiran Rakyat, 13 Feb 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Lambang gender

Dalam bahasa Indonesia sebenarnya tidak dibedakan kata-kata yang digunakan untuk menyebut laki-laki atau perempuan. Akan tetapi, kita memungut kata-kata yang membedakan laki-laki dan perempuan dari bahasa Sangsekerta seperti dewa-dewi, putera-puteri, dan betara-betari sehingga  ada orang yang membentuk kata-kata yang membedakan laki-laki dan perempuan seperti pemuda-pemudi, saudara-saudari,  dan mahasiswa-mahasiswi. Membedakan laki-laki yang mempergunakan vokal ”a” pada suku kata terakhir dengan mempergunakan vokal ”i” untuk perempuan. Kata-kata demikian itu kemudian ditambah dengan kata-kata baru seperti  pramugara-pramugari dan bendahara-bendahari.

Di samping itu, ada juga yang membedakan perempuan dengan mengubah akhiran man atau wan (yang kemudian dianggap hanya untuk laki-laki) dengan wati seperti wartawan-wartawati, seniman-seniwati, sastrawan-sastrawati, dan sukarelawan-sukarelawati.

Tidak semua pihak setuju untuk membedakan laki-laki dan perempuan dengan menggunakan akhiran seperti itu. Ada yang merasa keberatan terhadapnya. Gadis Rasid (1921-1988) yang seumur hidupnya menjadi wartawan, tidak suka kalau disebut wartawati. Bagi dia, wartawan hanya satu, tak peduli laki-laki atau perempuan. Dan yang bersikap seperti itu tidak hanya Gadis. Kaum feminis banyak yang keberatan digunakannya akhiran yang membedakan laki-laki dan perempuan. Buat mereka cukup hanya satu istilah yaitu seniman, wartawan, sastrawan atau yang lainnya, baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan. Tidak perlu dibuat istilah khusus untuk perempuan.

Memang kalau kita perhatikan penggunaan akhiran ”i” atau wati untuk kata yang menunjukkan perempuan boleh dikatakan hanya dibuat-buat. Pada dasarnya, bahasa Indonesia tidak membedakan laki-laki dengan perempuan dengan menambah atau mengganti vokal di ujung. Dalam bahasa Melayu yang menjadi sumber bahasa Indonesia, digunakan kata-kata yang berlainan untuk membedakan laki-laki dan perempuan, misalnya bapak-ibu, kakek-nenek, paman-bibi, abang-kakak, atau menambahkan kata laki-laki dan perempuan di belakang kata yang dimaksud, seperti guru laki-laki dan guru perempuan, pemain laki-laki dan pemain perempuan, serta dokter laki-laki dan dokter perempuan. Pada masa Orde Baru istilah perempuan dianggap ”kurang sopan” sehingga pernah tersisihkan oleh istilah wanita sehingga dipakai istilah guru wanita, dokter wanita, insinyur wanita, dan sebagainya. Baru setelah reformasi istilah perempuan banyak digunakan lagi karena dianggap lebih menjunjung derajat kaum Hawa daripada wanita yang cenderung menganggap kaum Hawa hanya sebagai objek syahwat laki-laki belaka. Istilah perempuan berasal dari kata empu yang menunjukkan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat.

Penggunaan suara ”i” atau akhiran wati memang lebih hemat daripada pemakaian kata keterangan perempuan. Akan tetapi dalam berbahasa, orang tidak selalu berhemat-hemat.

Almarhum Anas Makruf (1923-1980) pernah mengemukakan saran agar dibedakan istilah untuk orang ketiga laki-laki dengan istilah untuk orang ketiga perempuan seperti dalam bahasa Inggris digunakan he untuk laki-laki dan she untuk perempuan. Ia menyarankan agar kata ia digunakan untuk menyebut orang ketiga laki-laki dan dia untuk perempuan. Saran itu tidak ada yang menyambut. Sampai sekarang kita masih mempertukarkan kata ia dengan dia baik untuk menyebut orang ketiga laki-laki maupun untuk perempuan.

Memang bagi orang yang terbiasa membaca bahasa Inggris, bahasa Belanda, atau bahasa-bahasa lain yang membedakan penyebutan untuk orang ketiga laki-laki dan perempuan, tidak dibedakannya ia dan dia apakah untuk laki-laki atau untuk perempuan bisa membingungkan. Akan tetapi, bagi pemakai bahasa Indonesia sendiri, begitu juga pemakai bahasa Melayu, hal itu tak pernah menimbulkan soal.  Sama dengan H. Rosihan Anwar yang menyarankan pemakaian kata anda untuk pengganti kata ganti orang kedua yang banyak sekali jumlahnya dalam bahasa Indonesia agar dapat digunakan kepada siapa saja, ternyata tidak berhasil karena walaupun kata anda jadi populer, ternyata hanya menambah jumlah kata ganti orang kedua yang sudah banyak itu. Saran Anas dan Rosihan itu timbul dari pengamatannya terhadap bahasa asing dan  mempunyai anggapan bahwa ada hal-hal yang baik dalam bahasa-bahasa tersebut akan bagus kalau diberlakukan juga dalam bahasa Indonesia. Ternyata tidak mudah.

Masing-masing bahasa mempunyai sifat yang khas yang tidak bisa begitu saja diganti dengan sifat khas yang berasal dari bahasa asing. Memasukkan kosa kata asing memang tidak sukar, seperti selama ini telah dibuktikan dengan serbuan kata-kata bahasa Inggris yang setiap hari masuk ke perbendaharaan bahasa Indonesia melalui pers, tetapi memasukkan sifat-sifat bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia, ternyata memang tidaklah mudah.

Iklan

3 thoughts on “Kata-Kata yang Membedakan Kelamin

  1. Yang benar dan shahih adalah bahasa arab.
    Silahken anda pelajari bhs arab, krn ia adalah bahasa quran yg mana kita berpedoman & mengambil ilmu didalamnya.
    Adapun bhs lain, maka hanya sekedar komunikasi antar manusia dlm mencapai maksud/ tujuan muamalahnya.
    Maka rugi jika tidak ngerti bhs arab….

  2. Saya setuju sekali bahwa sebagai umat islam kita harus belajar bahasa arab karena alquran diturunkan dalam bahasa arab. Tapi apa dasarnya suatu bahasa dikatakan benar atau salah, sahih atau tidak. Bukankah bahasa juga ciptaan Allah atau ciptaan manusia atas izin Allah? Suatu konsekuensi yang logis bahwa salah satu bahasa harus dipilih sbg sarana untuk menyampaikan wahyu. Bahasa arablah yg terpilih. Tapi keterpilihan menurut saya tidak lantas menjadikan suatu bahasa itu paling benar dan sahih. Suatu bahasa tidak bisa diperbandingkan dengan cara menilai kebenaran dan kesahihannya. Saya bangga berbahasa indonesia dan saya juga akan bangga bila bisa berbahasa arab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s