Peribahasa

Pikiran Rakyat, 27 Feb 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Menurut KBBI (edisi II, 1991), peribahasa adalah:

1. kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan maksud tertentu (dl peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan); 2. ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas padat, yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku

Keterangan itu membingungkan karena dalam keterangan 1, dikatakan salah satu jenis peribahasa adalah ungkapan, sedangkan dalam keterangan 2 dikatakan bahwa peribahasa itu adalah ungkapan (saja). Lebih jelas keterangan yang terdapat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Badudu-Zain (1994) yang berbunyi,

”kelompok kata atau kalimat yang menyatakan suatu maksud, keadaan seseorang, atau hal yang mengungkapkan kelakuan, perbuatan, atau hal yang mengenai diri orang; peribahasa mencakup ungkapan, pepatah, perumpamaan, ibarat, tamsil.”

Peribahasa sebenarnya berasal dari bahasa percakapan, jadi bahasa lisan. Akan tetapi, para penulis naskah juga sering mempergunakan peribahasa dalam karyanya, begitu juga para pengarang modern. Banyak peribahasa yang lenyap karena tidak sesuai dengan perkembangan zaman, namun banyak yang terus hidup karena mengikuti perkembangan zaman. Siapakah sekarang yang menggunakan peribahasa ”Berseleleran bagai getah di lalang”? Namun, orang masih banyak yang mempergunakan peribahasa ”Seperti anak ayam kehilangan induk” padahal keduanya termuat  dalam ”Kitab Kiliran Budi” susunan Paderi Shellabear.

Sementara itu , masih terus lahir peribahasa-peribahasa baru seperti ”merdeka atau mati” pada masa revolusi kemerdekaan yang menyatakan tekad bangsa kita untuk mempunyai negara yang berdaulat sendiri; ”negara serumpun” ketika kita menyadari bahwa kita dengan Malaysia berasal dari nenek moyang yang sama; ”memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan”; ”salam tempel”, dan lain-lain.

Peribahasa adalah ungkapan yang walaupun tidak langsung, namun secara  tersirat menyampaikan  suatu hal yang dapat dipahami oleh pendengarnya atau pembacanya karena sama-sama hidup dalam suatu lingkung budaya yang sama.  Persamaan lingkung budaya itu penting, karena kalau tidak, maka tidak mudah untuk ”nyambung”. Di sinilah kesulitan dengan bahasa Indonesia karena kurang baiknya pembelajarannya di seluruh negara, ditambah tidak adanya kegemaran membaca buku-buku yang akan membuat mereka mempunyai pandangan budaya yang sama  sehingga ada saja kemungkinan anggota bangsa yang tidak dapat memahami pandangan budaya yang dimiliki  oleh masyarakatnya. Misalnya, baru-baru ini ada pejabat tinggi kepolisian yang dengan bangga menyebut diri dan institusinya sebagai ”buaya” karena menganggap buaya itu lambang kekuatan dan keperkasaan. Padahal, masyarakat kita sejak lama menganggap ”buaya” itu selalu dalam arti negatif. Ingat saja pada ungkapan ”buaya darat”, ”air mata buaya”, dan lain-lain.

Dengan demikian, peribahasa itu merupakan milik bersama yang kalau diucapkan, walaupun hanya sebagian, akan dipahami oleh yang mendengar atau membacanya. Misalnya  kalau ada orang mengatakan sindiran, ”jangan kura-kura dalam perahu”,  yang mendengarnya tahu bahwa yang dimaksud oleh peribahasa itu adalah ”jangan pura-pura tidak tahu”.  Peribahasa itu merupakan pantun yang terdiri dari sampiran dan isi. Yang diucapkan hanya sampirannya, namun orang tahu akan isinya.

Memang peribahasa itu kadang-kadang berbentuk pantun yang dalam masyarakat Melayu menjadi milik seluruh anggotanya. Akan tetapi, setelah menjadi bahasa Indonesia, pantun tidak lagi mempunyai kedudukan yang penting. Malah karena adanya anggapan bahwa pantun itu  bentuk puisi kuno yang harus ditinggalkan karena kita telah punya bentuk puisi yang  modern, pantun kian dikepinggirkan. Padahal, pantun itu merupakan bentuk puisi asli nusantara, yang tidak hanya terdapat dalam bahasa Melayu,  tetapi juga populer dalam bahasa-bahasa lain seperti bahasa Jawa (parikan), bahasa Sunda (sisindiran), bahasa Batak (pardohom), dan lain-lain.

Peribahasa lama sebagai kekayaan budaya bangsa juga oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman sehingga ditolak pemakaiannya dalam penulisan sastra modern. Ditambah dengan adanya konsep otentisitas dalam karya sastra sebagai salah satu nilai yang mutlak harus ada, maka pemakaian peribahasa (lama) dianggap  akan menurunkan nilai karyanya. Oleh karena itu, diusahakannya menciptakan metafora-metafora baru yang autentik. Padahal, metafora itu sebenarnya termasuk peribahasa juga, yaitu perumpamaan. Tentu saja penciptaan metafora baru itu akan memperkaya khazanah bahasa dan budaya kita.

Peribahasa merupakan kekayaan bahasa yang digunakannya. Dengan demikian juga menjadi kekayaan budaya bangsa yang memilikinya. Kekayaan budaya bangsa tidak sepatutnya dibuang-buang, maka pemakaiannya dalam kehidupan bangsa seharusnya digalakkan supaya kekayaan itu tetap hidup. Tentu saja hanya peribahasa yang memang cocok dengan kehidupan kita sekarang.  (Suku) Bangsa Melayu yang bahasanya menjadi sumber bahasa Indonesia adalah masyarakat petani, maka peribahasanya pun banyak yang menggambarkan kehidupan petani, hampir tidak ada yang menggambarkan kehidupan masyarakat perkotaan. Sementara itu, bahasa Indonesia terutama berkembang di lingkungan penduduk kota yang tidak lagi mengenal kehidupan petani.

Yang menjadi masalah ialah karena belum bisa dikatakan bahwa semua orang Indonesia menguasai  bahasa Indonesia dengan sumber yang sama. Belum terbinanya  tradisi membaca yang  menasional dengan bahan bacaan yang sama niscaya menimbulkan kesenggangan dalam berbahasa Indonesia, terutama kalau mempergunakan peribahasa atau ungkapan.

Iklan

One thought on “Peribahasa

  1. love it,,,
    terima kasih tulisannya sangat membuka hati ini..
    kita orang Indonesia jarang baca buku , sehingga kehidupan kita jauh dari nilai budaya itu sendiri..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s