Dia dan Ia

Majalah Tempo, 8 Mar 2010. Zaim Rofiqi, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Para penerjemah dari bahasa Inggris ke Indonesia mungkin telah terbiasa menghadapi masalah perbedaan struktur MD (menerangkan-diterangkan) dan DM (diterangkan-menerangkan) yang sering kali menyulitkan sang penerjemah dalam menghasilkan terjemahan yang bagus, tidak membingungkan, dan tidak bertele-tele.

Masalah perbedaan struktur MD-DM yang potensial menghasilkan terjemahan yang membingungkan tersebut dapat dilihat jika seorang penerjemah bertemu, misalnya, dengan kalimat seperti ini: Mrs Barnds’ studio, appropriately named The White Doll House, is a favorite “dropping in place” for the local ladies who participate in classes to learn the fine art of doll making (dikutip dari irclibrary.org). Kalimat yang tampak sederhana dan jelas ini akan menjadi membingungkan jika ia diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang memakai struktur DM: Studio Nyonya Barnd, yang dinamai Rumah Boneka Putih, …. Apa yang berwarna putih? Rumah atau boneka?

Para penerjemah profesional mungkin mafhum bahwa tak ada cara lain untuk memecahkan masalah perbedaan struktur bahasa seperti ini selain melalui keterampilan si penerjemah sendiri dalam menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia (masalah seperti ini tidak mungkin dipecahkan dengan, misalnya, mengubah konvensi bahasa-karena jika hal ini dilakukan, itu berarti mengubah keseluruhan sistem tata bahasa Indonesia).

Namun ada masalah lain yang tak kalah pelik yang, selain bisa terminimalkan melalui keterampilan si penerjemah, menurut saya, sebenarnya juga bisa dihilangkan dengan mengubah konvensi bahasa Indonesia. Mari kita lihat contohnya:

Lest you get too puffed up, Filettino-
we all know how noble both your parents are.
She wipes her nose on her elbow,
and he doesn’t spit on the ground, except on holy days.
(Janus Pannonius, The Epigrams, Gyomaendr’d: Kner Printing House, 1985, halaman 143)

Bagi mereka yang tak hendak me-nerjemahkan dan hanya ingin membaca, puisi Janus Pannonius ini tampak tak mengandung masalah: ia adalah semacam satire atau olok-olok si penulis kepada orang yang bernama Filettino. Namun, di mata seorang penerjemah, teks semacam ini jelas mengandung suatu masalah serius: bukan karena teks ini mengandung ambiguitas makna atau metafor yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia, melainkan karena kata “she” dan “he” yang dipakai bergantian dalam satu kalimat. Agar lebih jelas, mari kita terjemahkan bagian puisi yang mengandung masalah itu: Dia menggosok-gosokkan hidungnya pada lengannya//dan ia tidak meludah di tanah, kecuali pada hari-hari suci.

Bagi pembaca yang kebetulan tidak memiliki versi Inggris puisi itu, terjemahan semacam ini tentu -sangat membingungkan. Membingungkan karena tidak jelasnya orang yang dirujuk oleh kata “dia” dan “ia” itu: dalam bahasa Indonesia, kedua kata ini sangat mungkin ditafsirkan merujuk pada satu orang, sedangkan dalam versi Inggrisnya, kedua kata itu jelas merujuk pada ibu dan ayah Filettino.

Seorang penerjemah yang “ge-ga-bah” mungkin bisa begitu saja mengganti kata “she” dan “he” dalam puisi itu dengan “ibu” dan “ayah“: Ibumu menggosok-gosokkan hidungnya pada lengannya//dan ayahmu tidak meludah di tanah, kecuali pada hari-hari suci. Namun ini akan memunculkan masalah baru: terjemahan seperti ini terlalu jauh mengubah puisi aslinya: satire dalam puisi Janus yang halus dan ringkas tersebut berubah menjadi terlalu kasar dan bertele-tele. Dan ini berarti mengurangi nilai “puitis” puisi tersebut.

Lalu bagaimana mengatasi masalah di atas? Masalah seperti ini tak akan sepenuhnya teratasi jika kita hanya mengandalkan keterampilan seorang penerjemah, selihai apa pun penerjemah itu dalam -menguasai bahasa asal ataupun bahasa sasaran, karena masalah seperti ini -muncul dari watak dua bahasa yang sangat berlainan. Seperti yang saya katakan di atas, masalah seperti ini, menurut saya, hanya bisa terpecahkan jika kita mau bersepakat mengubah sebagian konvensi yang ada dalam bahasa Indonesia. Konvensi itu adalah menyangkut makna (petanda) yang dirujuk oleh kata ganti (penanda) “dia” dan “ia“. Melalui tulisan ini, saya mengusulkan agar kita mulai memberikan makna baru pada kedua penanda ini: dia = orang ketiga perempuan (sama dengan she), ia = orang ketiga laki-laki (sama dengan he).

Saya tidak tahu apakah usul seperti ini lazim terjadi dalam sebuah komunitas bahasa (saya sadar bahwa dalam sebuah bahasa, konvensi menyangkut hubungan antara penanda dan petanda terjadi secara diam-diam, manasuka [arbitrer], dan tidak bisa dipaksakan). Namun saya yakin bahwa perubahan ini akan sangat bermanfaat, bukan saja untuk menghasilkan terjemahan yang bagus dan berkualitas di tengah bom terjemahan yang sekarang ini masih terjadi, melainkan juga untuk menjadikan bahasa Indonesia secara umum lebih efektif dan efisien.

Iklan

5 thoughts on “Dia dan Ia

  1. ini dia yg salah kaprah!
    ya tidak boleh begitu, bung!
    ini bahasa indonesia, tdk sm spt bhs inggris, dan jgn ikut menyamaratakan bgtu!
    tau tidak, “dia” dan “ia” jelas beda.
    “ia” tdk bisa jd objek!!!

    • Saya nyasar di situs ini waktu googling perbedaan makna dan penggunaan “dia” dan “ia”.
      Jadi apa sebenarnya perbedaannya, bung Icuk Prayogi? Tolong terangkan pada saya.

      • perbedaannya adalah pada nuansanya. memang, pronomina “dia” dan “ia” sama-sama dapat ditempatkan di muka klausa, misalnya sebagai subjek, tetapi hanya “ia” yang tidak pernah dipakai sebagai objek.
        saya contohkan dengan membuat contoh memakai “dia” dan “ia” sebagai objek penderita:
        1. (a) saya menendang dia
        (b) ?saya menendang ia
        (c) saya menendangnya
        2. (a) Tuti mengambilkan dia air minum
        (b) ?Tuti mengambilkan ia air minum
        (c) Tuti mengambilkannya air minum
        ketiga pronomina ketiga pada kedua kalimat secara struktural memang benar, tapi sepertinya tidak ada orang yang memakai bentuk “ia” sebagai objek. Bila pronomina ketiga dipentingkan, yang lazim dipakai adalah bentuk bebasnya, yakni “dia”, tetapi bila tidak dipentingkan, yang jamak dipakai adalah bentuk terikatnya, yakni “-nya”. Kata “ia” tidak pernah dijadikan objek. Masalah ini sudah diteliti sejak abad 17 oleh linguis Belanda (saya lupa namanya), lalu pada beberapa abad setelahnya van Ophoijsen (1915) mencatat kenyataan yang sama, dan terakhir dapat Anda baca di buku Hj. Osmah (1980-an) berjudul “Nahu bahasa Melayu” yang kemudian menyimpulkan hal yang sama.
        semoga semakin jelas. :)

  2. Melalui tulisan ini, saya mengusulkan agar kita mulai memberikan makna baru pada kedua penanda ini: dia = orang ketiga perempuan (sama dengan she), ia = orang ketiga laki-laki (sama dengan he).

    Saya menyebutnya sebagai “variasi pronomina”, dan dalam konteks di atas memang jelas hanya diberlakukan secara kasuistis, tidak secara umum. Hal serupa saya temukan di bahasa Arab, dan sejauh ini pun saya menerapkan konsep yang sama dengan Mas Zaim. Yang saya maksud ialah padanan kata ganti orang ketiga perempuan: anti, dan kata ganti orang ketiga laki-laki: anta.

    Mengenai “dia” untuk “perempuan” dan “ia” untuk “laki-laki”, saya pikir bisa saja sebaliknya (dia untuk laki-laki dan ia untuk perempuan, karena kedua kata ini tidak memiliki perbedaan makna yang berarti dalam bahasa kita) apabila kita menjadikan konsep ini sebagai gaya selingkung lokal–penerbit kita sendiri.

  3. Sama seperti bung Rad, saya juga nyasar ke blog ini dalam rangka mencari tahu tentang Dia dan Ia.
    Membaca ulasan tentang penggunaan Dia dan Ia sebagai padanan He dan She, saya tertarik untuk urun rembuk se-sen dua sen. Menurut hemat saya, kita tidak perlu melokalkan He dan She menjadi Dia dan Ia hanya untuk menjaga nilai puitis dari puisi Janus tersebut. Kenapa tidak kita terjemahkan saja menjadi Ayah dan Bunda. Nah agar nilai puitisnya tidak hilang, kita bisa menambahkan kata “Sang” di depan Ayah dan Bunda sehingga terjemahannya akan berbunyi “Sang bunda menggosok-gosokkan hidungnya pada lengannya//dan sang ayah tidak meludah di tanah, kecuali pada hari-hari suci.” Tentu saja hal ini tidak menutup kemungkinan akan adanya komentar, misalnya “Kalau begitu, sama dong dengan sang bango atau sang kodok?”. Bagi saya tidak masalah, karena ini masih dalam ranah kepuitisan. Bagaimana? :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s