Sastra Kini dan Esok

KOMPAS, 13 Apr 2010. Gendhotwukir, penyair dan jurnalis dari Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM). Penulis pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch – Theologische Hochschule Sankt Augustin, Jerman.

Sastra hari ini sepertinya sedang merayakan kemerdekaannya. Teks sastra entah dalam bentuk puisi, cerpen ataupun esai kini menemukan sebuah ruang publikasi baru yang cepat dan tidak perlu menunggu waktu berhari-hari karena sikap ketat redaktur sastra media cetak mengingat terbatasnya halaman untuk rubrik tersebut. Sastra cyber kian ramai seiring menjamurnya jejaring sosial di internet seperti milis, friendster, twitter, blogger, multiply dan akhir-akhir ini yang sedang booming yaitu facebook.

Komunitas sastra cyber kian menjamur. Sampai-sampai akan didapati betapa susahnya mengikuti perkembangan dan gerak sastra cyber dewasa ini. Ia begitu licin. Sebentar saja lengah mengamati telah muncul kelompok-kelompok jejaring sosial untuk kepentingan sastra di sudut lain. Lalu lintas teks sastra di dunia maya begitu sibuk dan padat. Kesibukan dan kepadatan lalu lintas itu secara lahiriah tidak menimbulkan kemacetan publisitas teks sastra. Kemacetan justru mewujud dalam kesekaratan memetakkan dan usaha mengikuti laju perkembangan sastra di dalam dunia yang sepertinya hanya sebesar monitor komputer, tetapi ia mampu menembus batas-batas kultur dan geografis. Ia bergerak liar dan licin serta kasat mata. Sastra cyber itu ibarat hantu, ia bergerak di dalam sebuah program kecil tetapi bisa muncul dan di manapun ia mau. Ia menampakkan diri pada siapapun yang sungguh-sungguh mencarinya.

Orang dengan gampang mendirikan komunitas jejaring sosial digital berbasis sastra dalam hitungan detik dan menit. Betapa banyaknya komunitas sastra maya entah itu yang di friendster, milis, multiply, blogger, twitter dan facebook. Warga sastra ramai-ramai ikut ambil bagian dalam komunikasi sastra secara masif. Seiring perkembangan teknologi dan kemajuan program, bukan rahasia lagi komunitas sastra maya ikut bergerak dan mengikuti trend dalam jejaring sosialnya. Jika kali ini facebook yang sedang booming maka tidak mengherankan banyak umat sastra putar kemudi lalu mendirikan komunitas sastra di facebook.

Menarik tentunya ketika fenomena komunitas sastra cyber ini ternyata mampu menyedot perhatian banyak kalangan baik penulis pemula maupun penulis senior. Sastra tampil tanpa ada pembatas. Sekat-sekat yang secara tampilan luar pernah menyeruak ke permukaan di beberapa daerah dengan misalnya muncul istilah penyair muda dan penyair tua itu kini runtuh. Siapapun kini duduk sama rendah berdiri sama tinggi dan “kayaknya“ melakukan komunikasi sastra secara masif. Para penulis senior pun kini banyak yang sudah memiliki account facebook.

Siapapun kini hanya dalam hitungan detik bisa mempublikasikan teks sastra dan mendapatkan komentar dari orang lain. Lalu lintas teks sastra di facebook saja kini bisa dikatakan sangat sibuk. Warga umat sastra di jejaring ini cenderung memposisikan diri untuk dikomentari, disapa dan diperhatikan.

Setiap saat kita yang ikut dalam kelompok sastra cyber akan disuguhi teks sastra. Tak mengherankan, di suatu saat yang telah berlalu dalam hitungan menit saja seseorang bisa disuguhi puluhan teks sastra. Kondisi ini menggiring seseorang untuk bersikap selektif dan sikap demikian kadang dengan sendirinya mengabaikan pihak-pihak lain. Kejenuhan karena kebanjiran teks sastra menyeruak nalar penulis pada suatu simpulan sementara bahwa di masa yang akan datang ada saat dimana seseorang sampai di titik jenuh.

Kejenuhan demikian ada karena yang terjadi di komunitas cyber entah itu di milis, facebook, friendster, multiply atau jejaring lainnya yaitu tendensi komunikasi sastra yang sebenarnya tidak masif. Banyak pelaku sastra yang sebenarnya hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Kelahiran teks sastra begitu mudah, tapi mudah juga terlupakan dan tak terawat karena orang begitu sibuk dengan dirinya sendiri.

Komentar dan catatan ringan yang dilontarkan orang lain acapkali hanya semacam apresiasi berdasarkan suka tidak suka, bukan pada kedalaman dan ketajaman apresiasi atas teks sastra. Kenyataan demikian tentu di luar koridor bagi sebagian penulis yang sungguh-sungguh memanfaatkan media jejaring ini untuk berkomunikasi secara masif. Apa yang penulis ungkapkan di sini yaitu kecenderungan umum yang penulis amati. Sebagai seorang pengamat awam bisa saja salah, tetapi tanggung jawab dan tantangan seorang pengamat justru teruji ketika ia berani salah dan tidak hanya diam saja menyikapi setiap fenomena.

Sastra esok di mata penulis tetap di tangan sastra cetak dan buku. Tolok ukur tetap mengacu dengan adanya sikap ketat dan penghargaan lebih terhadap teks sastra. Candu sastra cyber dengan perayaan kebebasan dan ajang luapan narsis tersebut pada saatnya bergerak pada sikap ketat media cetak dan buku. Parameter sastra tetap diukur dari sikap ketat akan teks sastra. Komunitas-komunitas sastra cyber akan sampai pada titik kesadaran dimana eksistensi komunitas tersebut perlu diwujudnyatakan dalam barang cetak. Komunitas-komunitas cyber adalah tempat untuk berproses dan belajar menempa diri. Ia boleh keluar masuk ke komunitas-komunitas cyber berbasis sastra tanpa prosedur dan kesulitan besar.

Sudut pandang lain dan tentunya tak dapat dipungkiri bahwa sastra cyber di hari esok bisa menjadi pembanding sastra koran asalkan dikelola dengan baik melalui webseite-webseite yang bermutu dan sejajar dengan sastra koran dalam sikap ketat dan penghargaan lebih terhadap teks sastra. Komunitas-komunitas cyber berbasis sastra dewasa ini memang memiliki kencenderungan ke arah serius untuk memiliki dan  mengelola webseite.

Selama ini webseite-webseite berbasis sastra cenderung tidak bertahan lama meski telah memberlakukan sikap ketat terhadap teks sastra. Hal ini terjadi karena kurang gigihnya pengelola mencari dukungan dalam bentuk iklan sehingga penghargaan terhadap teks sastra yang lolos seleksi dan terpublikasi terkesan diabaikan. Di mata penulis, sastra di hari esok bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi antara sastra cetak dan sastra cyber dan menjadi parameter sastra nusantara, apabila sastra cyber melalui webseite-webseitenya  dikelola dengan sikap ketat dan penghargaan lebih terhadap teks sastra.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s