Hewan Sebagai Lambang

Pikiran Rakyat, 15 Mei 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Dalam demonstrasi bertepatan dengan 100 hari pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, para demonstran di Jakarta ada yang membawa kerbau yang ditulisi kata yang mirip bunyinya dengan SBY. Hal itu telah menyinggung perasaan Presiden Yudhoyono sehingga beliau sempat mengimbau agar para demonstran jangan sampai melanggar batas-batas kesopanan. Tidak hanya presiden yang menganggap bahwa kelakuan para demonstran membawa kerbau itu berlebihan dan melanggar kesopanan, dan meminta para demonstran agar jangan berbuat begitu lagi.

Mengapa dengan dibawanya kerbau oleh para demonstran apalagi karena ditulisi dengan kata yang mirip dengan SBY, Presiden Yudhoyono merasa tersinggung dan banyak orang lain menganggap bahwa perbuatan itu berlebihan?

Dalam setiap bahasa, banyak binatang yang dalam budaya pengguna bahasa tersebut melambangkan sifat-sifat manusia. Orang Cina menganggap ular naga sebagai lambang keperkasaan bangsanya. Orang Jepang menganggap kucing sebagai pencuri, sehingga wanita yang “mencuri” suami orang lain disebut sebagai dorobo neko (kucing pencuri). Dalam kebudayaan Barat, burung hantu dianggap sebagai lambang kebijaksanaan dan ular yang berbisa dianggap sebagai lambang pengobatan, di samping sebagai lambang iblis yang menggoda Adam sampai diusir dari surga.

Binatang yang sama tidak mustahil, dalam bahasa dan budaya yang berbeda, dianggap melambangkan hal yang berlainan. Misalnya ular dalam kebudayaan Barat yang beragama Kristen dianggap sebagai lambang iblis yang menggoda manusia sehingga diusir dari surga, dalam kebudayaan lain dianggap melambangkan hal yang berbeda.

Dalam bahasa dan budaya Indonesia misalnya, ular dianggap lawan jenis sehingga mimpi digigit ular berarti akan segera mendapat jodoh. Anjing yang bagi orang Barat melambangkan kesetiaan, bagi orang Indonesia anjing dan babi karena dianggap najis dan haram oleh agama Islam maka dijadikan kata makian yang merendahkan orang yang dimakinya. Padahal menurut dongeng Sangkuriang, ibunya, Dayang Sumbi, adalah anak Celeng Wayungyang–seekor babi. Sementara Bapaknya, Si Tumang, seekor anjing. Kancil meskipun tubuhnya kecil tetapi menjadi lambang kecerdikan bagi bangsa Indonesia, sehingga Adam Malik yang bertubuh boleh dikatakan kecil tetapi dalam berpolitik banyak akalnya, sering disebut sebagai kancil. Bagi orang Sunda lambang kecerdikan selain sakadang peucang (sang kancil) ada sakadang kuya, yaitu kura-kura yang selalu dapat membodohi sakadang monyet (ketika mencuri cabe di kebun petani), bahkan sakadang buhaya (ketika hendak menyeberang sungai yang banyak buayanya), dan sakadang maung (ketika macan percaya bahwa kulit kura-kura jadi bagus karena dibakar – padahal kura-kura masuk ke lubang — maka macan bersedia juga dibakar).

Sementara buaya dalam bahasa Indonesia melambangkan kejahatan dan kebengisan, sehingga ketika ada pejabat Indonesia yang menyamakan dirinya dengan buaya, sedang yang dianggap musuhnya adalah cicak, maka timbul reaksi dari masyarakat yang malah menyamakan diri mereka sendiri dengan cicak!

Kerbau (dan keledai) dalam bahasa dan budaya Indonesia dianggap binatang bodoh, bahkan kemudian dianggap sebagai lambang kebodohan walaupun tidak ada cerita atau dongeng yang menceritakan hal itu. Kerbau jarang masuk ke dunia fabel Indonesia, begitu juga keledai. Dongeng yang menceritakan kerbau adalah tentang kerbau kurus yang ditunjukkan padang rumput oleh harimau dengan janji kalau sudah gemuk akan dimangsa oleh sang harimau. Pada waktu dia sudah gemuk dan hendak dimangsa sang harimau, kerbau itu ditolong oleh sang kancil. Dongeng itu tidak secara khusus menunjukkan kebodohan kerbau melainkan hendak memperlihatkan kecerdikan sang kancil juga. Cerita orang yang membeli keledai tetapi memikul sendiri beban yang dibawanya, lebih menunjukkan orang itu yang bodoh, bukan keledainya. Peribahasa “keledai tidak pernah terantuk pada batu yang sama untuk kedua kalinya”, tidaklah menunjukkan kebodohan atau kedunguan.

Karena adanya anggapan bahwa kerbau itu merupakan lambang kebodohan, wajar kalau Presiden Yudhoyono merasa tersinggung. Apakah demikian maksud para demonstran dengan membawa kerbau ke depan istana itu, tidaklah jelas. Sepanjang yang dapat diikuti melalui pemberitaan, pejabat yang sering menjadi sasaran demonstrasi itu adalah Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Ketidakjelasan itu menunjukkan bahwa para demonstran yang membawa kerbau ke dalam demonstrasi tidak berhasil dengan telak menyerang sasaran. Malah menimbulkan antipati dari masyarakat yang mengikuti berita tentang demonstrasi tersebut. Dan dengan demikian malah menimbulkan simpati kepada Presiden SBY.

Sebenarnya akan lebih bijaksana kalau Presiden SBY pribadi tidak memberikan reaksi terhadapnya karena rasa keadilan masyarakat akan membelanya, seperti ternyata telah terjadi. Dengan memberikan reaksi malah timbul kritikan juga dari sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa SBY cengeng dan jauh dari bijaksana karena tidak berlaku sepantasnya sebagai orang yang menduduki jabatan puncak dengan berbagai kewenangan di tangannya.

Sumber foto: VoA-Islam.

Iklan

One thought on “Hewan Sebagai Lambang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s