“Burnout”

Pikiran Rakyat, 16 Mei 2010. Bunyamin Faisal S.,  mahasiswa Pascasarjana UPI.

JIKA Anda seorang motoris (seperti halnya penulis)–maksudnya bukan polisi patroli yang suka mengawal pejabat, melainkan segala aktivitas kegiatan sehari-harinya memakai kendaraan bermotor–mungkin Anda suka memperhatikan motor yang ada di depan anda. Kalau Anda jeli, pada ekor motor yang ada di depan Anda itu kerap menempel stiker-stiker dengan kalimat-kalimat yang unik. Misalnya pada motor matic tertempel stiker “HARI GINI MASIH OVER GIGI…CAPE DECH”,  atau stiker balasannya yang menempel di motor bebek “HARI GINI GAK PUNYA GIGI…OMPONG DECH”. Ada juga contoh-contoh lainnya seperti, “SOK TIHEULA MOTOR AING MAH KEUYEUP”, “CEWEK CANTIK BOLEH DUDUK DI BELAKANG”. Bahkan ada banyolan pada etnis Sunda yang kurang fasih melapalkan hurup ”f”,  “SIAPA BILANG ORANG SUNDA GAK BISA BILANG  `F`…PITNAH”.

Hemat penulis, keberfungsian stiker-stiker itu menunjukkan sisi psikologis masyarakat pemakai motor. Sisi psikologis itu merujuk pada kondisi kejenuhan para pemakai motor tersebut. Titik kejenuhan itu direfleksikan pada bahasa yang sifatnya menghibur, baik untuk si pemakai maupun pembaca yang ada di belakangnya. Pada gejala ini, penulis beranggapan bahwa bahasa mengalami penyakit burnout, istilah dalam dunia psikologi.

Dalam tulisannya di salah satu koran nasional, Kristi Poerwandari (2010) menjelaskan, ada masalah penyakit psikis dalam dunia pekerjaan yang dinamakan burnout. Burnout adalah kondisi terperas habis dan kehilangan energi psikis ataupun fisik. Biasanya hal itu disebabkan situasi kerja yang tidak mendukung atau tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan.

Lalu apakah bahasa juga mengalami penyakit burnout karena mengalami kehilangan energi psikisnya?

Fungsi yang paradoks

Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat komunikasi. Keberfungsian bahasa sebagai alat komunikasi secara eksplisit bisa digambarkan pada situasi dan kondisi ketika bahasa itu dipakai, baik secara verbal maupun dalam bentuk tulis. Dalam konteks tersebut, bahasa bisa menunjukkan strata sosial si pemakainya, bahkan benda yang dirujuknya.

Pada kasus bahasa tulis dalam stiker di atas, pola penggunaannya mengandung fungsi paradoks kebahasaan. Pengertian paradoks dalam hal ini merujuk pada arti yang tidak sebenarnya atau kebalikannya. Misalnya pada benda yang kualitasnya bagus dikatakan oleh si pemiliknya biasa-biasa saja. Pada stiker kalimat, “SOK TI HEULA…MOTOR AING MAH KEUYEUP (SILAHKAN DULUAN MOTOR GUA KEPITING)”. Kalimat stiker itu menempel pada motor yang bagus yang dipastikan jalannya tidak seperti keuyeup.

Kalimat itu muncul mungkin karena si pengguna motor sudah merasa jera dengan pengguna motor yang suka kebut-kebutan dan meresahkan. Padahal kalau diadu tanding, motornya bisa saja seimbang tarikannya. Nah, di sini sangat jelas bahasa stiker memiliki fungsi paradoks dengan kondisi yang ada. Psikis bahasa yang normal dan baku sudah terganggu sehingga muncullah bahasa-bahasa yang tak lazim.

Dalam proses persepsi dan produksi bahasa, bahasa diperoleh lewat proses audio dan visual. Samsunuwiyati (2009) menjelaskan, persepsi bahasa secara audio adalah mendengarkan dan persepsi bahasa secara visual adalah membaca. Dalam produksi bahasa, kegiatannya adalah berbicara (audio) dan menulis (visual). Proses kognitif yang terjadi pada waktu seseorang berbicara dan mendengarkan antara lain mengingat apa yang baru didengar, mengenal kembali apa yang baru didengar itu sebagai kata-kata yang ada artinya, berpikir, serta mengungkapkan apa yang telah tersimpan dalam ingatan dalam bentuk ujaran dan tulisan.

Pemerolehan bahasa yang dijelaskan tersebut merupakan salah satu bentuk bagaimana manusia memproduksi bahasa dalam kegiatan sehari-harinya. Ternyata pemerolehan bahasa tidak hanya bersifat audio (mendengar), melainkan dalam kegiatan melihat dan tergantung pada psikis manusia itu sendiri.

Setiap manusia (individu) ketika melihat fenomena yang terjadi di lingkungannya, secara otomatis psikis manusia itu akan mengalami sesuatu yang bersifat menyenangkan atau bahkan melelahkan (burnout). Ketika mengalami burnout, pemerolehan bahasa dan produksi bahasa pun mengalami kehilangan energi psikisnya. Bahasa yang muncul, baik tulisan maupun lisan, akan memproduksi bahasa-bahasa yang bersifat guyonan, sindiran, atau makian, seperti yang tergambar dalam stiker-stiker di motor.

Secara umum, bahasa diproduksi lewat kegiatan berkomunikasi, mendengar lebih dominan dalam pemerolehan bahasa. Namun dalam kegiatan lain, dalam hal ini secara visual (melihat), dan dalam kondisi psikis lingkungan yang berbeda-beda, bahasa bisa diproduksi secara hebat dan beragam. Dengan demikian, penyakit psikis pun (burnout) bisa menular pada produksi bahasa. Wallahualam bissawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s