Malu Bertanya

Pikiran Rakyat, 22 Mei 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Dalam bahasa kita ada peribahasa yang berbunyi, ”Malu bertanya sesat di jalan.” Artinya, kalau kita tidak tahu lebih baik bertanya kepada orang. Akan tetapi, saya pernah mengalami, justru karena bertanya malah jadi tersesat. Ketika itu saya berada di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, yang sebelumnya tak pernah saya datangi. Saya dari Kebayoran Lama  hendak ke Slipi, tetapi salah membelok. Karena tidak tahu maka bertanya kepada beberapa anak muda yang sedang berdiri di pinggir jalan. Saya ikuti petunjuknya, ternyata saya tiba di jalan keluar dari jalan tol sehingga jalan itu sebenarnya hanya satu arah, yaitu dari arah berlawanan. Untung pada waktu itu saya lihat ada dua bus kota beriringan membelok ke arah kanan dari arah saya (atau ke arah kiri dari arah dia datang). Saya suruh sopir agar mengikuti bus itu karena saya pikir bus itu niscaya akan menuju ke jalan besar. Kami memasuki kawasan perumahan mewah yang baru, tetapi kemudian bus itu masuk ke jalan kecil dan setelah berbelok-belok melalui jalan kecil, akhirnya berhenti di sebuah rumah dekat kebun.

Ketika ditanya, sopir itu memberi tahu bahwa mereka diborong oleh rombongan yang hendak melamar. Saya jadi sadar bahwa saya telah dikerjain oleh anak-anak muda itu.

Memang di kota-kota besar ada orang, terutama anak-anak muda yang suka iseng mempermainkan orang yang bertanya kepada mereka. Banyak juga orang yang tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, jangankan menunjukkan arah yang ditanyakan. Jawabnya cukup, ”Tidak tahu.”  Dia tidak mau diganggu.

Peribahasa ”malu bertanya sesat di jalan itu” itu lahir di dalam masyarakat Melayu yang masih sederhana yang semua orangnya selalu bersedia menolong orang lain. Akan tetapi, masyarakat kita sekarang (terutama yang tinggal di kota-kota besar) sudah menjadi masyarakat metropolitan yang orang-orangnya tidak mau tahu dengan urusan orang lain. Di samping itu, telah pula  lahir generasi yang bukan saja tidak mau tahu dengan urusan orang lain, melainkan menganggap orang lain sebagai objek yang dapat mereka permainkan.

Banyak lagi peribahasa yang seperti itu, yang tidak cocok lagi dengan perkembangan masyarakat, misalnya yang berbunyi, ”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Peribahasa itu lahir dalam masyarakat yang kalau kencing mengharuskan orang (termasuk laki-laki) sambil berjongkok. Mereka yang kencing sambil berdiri disebut seperti kuda. Akan tetapi, di kota-kota besar sekarang, terutama dalam hotel-hotel atau kantor-kantor bertingkat, orang laki-laki harus kencing sambil berdiri karena tempat kencingnya memang dibuat untuk digunakan sambil berdiri.

Begitu juga peribahasa ”sabar itu subur, jujur itu makmur” dianggap tidak sejalan lagi dengan masyarakat yang penuh dengan korupsi sehingga lahir penggantinya, ”sabar itu bubar, jujur itu hancur”. Peribahasa ”biar lambat asal selamat” tidak lagi dianggap sesuai dengan perkembangan masyarakat yang semakin serbacepat sehingga diubah menjadi ”cepat selamat”.

Sementara itu, masyarakat modern juga melahirkan peribahasa-peribahasa baru yang tidak dikenal sebelumnya seperti  ”gunakan kesempatan dalam kesempitan”, ”aji mumpung di tempat basah”, ”kasih uang habis perkara”, ”orang kecil tak  boleh sakit”, dan semacamnya yang menggambarkan keadaan masyarakat kita sekarang. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat selalu kreatif menciptakan peribahasa (dan juga ungkapan) yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Peribahasa lama yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tidak lagi terdengar digunakan. Berapa banyak peribahasa lama yang sudah tidak sesuai lagi dengan zaman dan keadaan masyarakat sekarang dan tidak lagi terdengar digunakan dapat dilihat dalam buku Peribahasa yang disusun oleh K. St. Pamoentjak, N. St. Iskandar, dan A. Dt. Madjoindo yang terbit pertama kali tahun 1943. Buku itu memuat peribahasa-peribahasa yang dipungut dari buku-buku yang terbit pada masa sebelum perang seperti  Hikayat Abdullah, Hikayat Si Miskin, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Pelayaran Abdullah, Cerita si Umbut Muda, Ceritera Cindur Mata, dan Kitab Kiliran Budi yang kebanyakan ditulis pada abad ke-19 atau sebelumnya.

Sekarang sebenarnya diperlukan buku kumpulan peribahasa yang baru yang disusun berdasarkan penggunaannya dalam masyarakat dan yang terdapat dalam karya-karya sastra modern. Sayang bahwa kebanyakan buku peribahasa yang disusun belakangan, terutama berdasarkan buku-buku kumpulan peribahasa yang sudah ada sehingga peribahasa-peribahasa baru tidak termasuk di dalamnya. Hal yang sama kita lihat dilakukan oleh para penyusun kamus yang tidak memungut kata-kata yang digunakan dalam masyarakat seperti dalam surat-surat kabar dan majalah, begitu juga dalam radio dan televisi dan yang terdapat dalam karya-karya sastra karena kamus-kamus itu terutama  berdasarkan kamus-kamus yang sudah ada atau berdasarkan daftar kata serta istilah yang sudah ada sehingga tidak menggambarkan bahasa kita pada masa kamus itu diterbitkan.

Maklumlah semuanya dikerjakan sebagai projek yang harus segera selesai dan terbit tanpa memedulikan bagaimana mutunya.

Sumber ilustrasi: iStockphoto.

Iklan

2 thoughts on “Malu Bertanya

  1. “Kasih uang habis perkara” bukan peribahasa melainkan suatu, apa ya, kepanjangan folkloris mungkin dari KUHP (tentu saja bergantung pada definisi peribahasa yang dipakai). Dari folklore, c.q. peribahasa, dapat dilihat sifat masyarakat kita. Masyarakat memang berubah. Bukankah “kumaha engke” sudah dibuah menjadi “engke kumaha”?

  2. Ping-balik: Bertanya | tattock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s