Bahasa di Sepanjang Jalan

Pikiran Rakyat, 29 Mei 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Karena saya sering bepergian jalan darat dengan mobil, maka saya mendapat kesempatan membaca pengumuman atau iklan yang terlewati. Pengumuman banyak yang ditujukan kepada para pengguna jalan, tetapi ada juga yang bersifat umum, artinya tidak hanya kepada para pengguna jalan saja. Iklan tentang hotel, rokok, telefon seluler, makanan, dan lain-lainnya, kebanyakan menggunakan bahasa Inggris. Seperti pernah saya tulis, penggunaan bahasa Inggris padahal yang menjadi sasarannya orang Indonesia yang tidak berbahasa Inggris itu sangat tak masuk akal — absurd. Agaknya pembuat iklan bukan bermaksud menarik minat orang yang membacanya karena isi iklannya, melainkan hanya hendak memberi kesan kepada pembaca iklan tersebut bahwa kalau menggunakan produk atau apa pun juga yang diiklankan, maka orang itu akan masuk ke dalam barisan globalisasi, artinya “go international”.

Meskipun kadang-kadang saya lihat bahasa Inggrisnya ganjil, tetapi di sini saya hanya akan memberikan catatan tentang pemakaian bahasa Indonesia yang dapat dibaca di sepanjang jalan saja.

Pada umumnya, pengumuman-pengumuman untuk pengguna jalan (yang agaknya dibuat oleh Bina Marga) cukup baik, walaupun kadang-kadang masih terlihat kekeliruan dalam penulisan kata depan (preposisi) “di” dan “ke” yang harusnya dipisahkan dari kata berikutnya yang menunjukkan tempat sering masih disatukan, seperti “Truck dan bus tetap dilajur kiri”. Padahal, seharusnya kata “truck” tak usah memakai “c” seperti dalam bahasa Inggris atau Belanda, sedangkan kata “dilajur’ harusnya ditulis “di lajur” karena kata “di” di situ bukanlah awalan, melainkan kata depan. Kadang-kadang terlihat juga tertulis kata “menaikan” seperti dalam pengumuman “Dilarang menaikan dan menurunkan penumpang di jalan tol”. Seharusnya, “menaikkan” dengan dua huruf “k” karena kata dasarnya “naik” mendapat akhiran “kan” – sama dengan kata dasar “turun” yang ditulis lebih kemudian.

Kekurangan huruf “k” juga sering terlihat pada tulisan yang ditaruh di depan bangunan atau rumah yang hendak disewakan, “Dikontrakan”. Harusnya “Dikontrakkan”, karena kata dasarnya “kontrak” (bukan “kontra”) mendapat akhiran “kan”. “Kontrak” adalah istilah khusus dalam sewa-menyewa rumah atau bangunan, artinya disewa selama waktu tertentu dengan biaya yang sudah ditentukan serta disepakati bersama, dibayarkan sekaligus pada waktu perjanjian dimulai. Hal ini berlainan dengan istilah “sewa” yang biasanya pembayarannya dilakukan setiap bulan dan biasanya tidak ada ketentuan untuk berapa lama. Karena inflasi yang kian cepat dan tinggi, maka pemilik rumah merasa dirugikan dengan sistem “sewa” itu, maka sistem “kontrak” menjadi jalan keluar yang tidak merugikan pemilik rumah tetapi merepotkan pemakai rumah, karena tiap jangka waktu “kontrak” habis dia harus melakukan perundingan baru dengan pemilik rumah – kalau rumah itu masih akan dikontrakkan – biasanya dengan harga yang lebih tinggi. Kalau rumah itu akan digunakan sendiri oleh pemilik rumah, maka pengguna rumah itu harus keluar dan mencari rumah kontrakan baru.

Pernah juga saya lihat pengumuman di jalan tol Purbaleunyi (yang lebih populer dengan sebutan “Cipularang”) yang berbunyi, “Jalan tol ini tidak ada pungli”. Kalimat itu tak dapat dimengerti karena kalimat itu rancu. Seharusnya berbunyi, “Di jalan tol ini tidak ada pungli” atau “Jalan tol ini dibuat tanpa pungli”. Kalimat rancu seperti itu sangat sering kita baca dalam surat kabar atau pidato para pembesar, termasuk ucapan para pembawa acara dalam televisi. Kerancuan itu disebabkan karena ada dua kalimat yang ada dalam kepala penulis atau pembicara, kemudian digabungkan sehingga tak dapat dimengerti. Paling tidak artinya menjadi tidak jelas, seperti misalnya “Menurut keterangan pembantu dekat presiden, mengatakan bahwa presiden tidak pernah menghadiri pertemuan tersebut.” Kalimat itu disatukan dari dua kalimat yang berbunyi, “Menurut keterangan pembantu presiden, presiden tidak pernah menghadiri pertemuan tersebut” dengan “Pembantu presiden mengatakan bahwa presiden tidak pernah menghadiri pertemuan tersebut”. Harusnya dipilih salah satu kalimat yang maksudnya sama itu, jangan malah disatukan sehingga menjadi rancu.

Pengumuman-pengumuman bagi pengguna jalan (supir) di dalam kota banyak yang ditulis dengan huruf yang kecil-kecil, sedangkan keterangannya panjang lebar. Tentu saja pengguna jalan tidak dapat menghentikan dahulu mobilnya agar dapat membaca semua teks yang tertulis di situ. Saya perhatikan sebenarnya keterangan itu dapat dibuat ringkas supaya dapat dibaca supir ketika lewat. Dalam hal demikian, seharusnya polisi lalu lintas atau apa pun lembaga yang membuat pengumuman tersebut dapat memanfaatkan ahli bahasa yang dapat merumuskan isi pengumuman itu dengan bahasa yang ringkas. Akan tetapi, kerja sama seperti itu saya kira tak pernah dilakukan.

Harusnya Pusat Bahasa yang turun tangan menawarkan jasanya kepada lembaga yang membuat pengumuman-pengumuman di sepanjang jalan. Akan tetapi, Pusat Bahasa tampaknya merasa puas dengan bekerja di belakang meja saja, membuat penelitian dan menyusun kamus berdasarkan daftar kata dan kamus yang sudah ada. Padahal, masyarakat dalam hidupnya memerlukan bimbingan dalam pemakaian bahasa sehari-hari.

Sumber foto: T.D. Asmadi.

Iklan

One thought on “Bahasa di Sepanjang Jalan

  1. M e s k i p u n kadang-kadang saya lihat bahasa Inggrisnya ganjil, t e t a p i di sini saya hanya akan memberikan catatan tentang pemakaian bahasa Indonesia yang dapat dibaca di sepanjang jalan saja.
    Dua kalimat digabung dengan DUA kata gabung?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s