Bahasa Halus

Pikiran Rakyat, 30 Mei 2010. Edi Warsidi, pembelajar bahasa dan pemilik taman bacaan “Kepergok Baca”.

SAYA pernah menempuh perjalanan lintas kabupaten yang diikuti pula oleh anak sulung saya. Sepanjang perjalanan, anak saya yang tahun ini naik kelas II sekolah dasar itu tidak henti-hentinya membaca papan reklame, rambu-rambu, dan petunjuk lalu lintas. Dia pun banyak bertanya tentang apa yang dibacanya, tanpa mengarahkan pertanyaan itu kepada siapa-siapa, tentang kalimat papan reklame sebuah toko material; Sahabat Genteng.

“Apa sih artinya?” tanya anak saya.

“Maksudnya, Genteng Sahabat,” jawab saya.

“Kalau sahabat genteng itu, ya batu bata atau batako, bukan?”

Semakin maju suatu bangsa, semakin halus perasaan dan bahasanya. Ini harapan yang perlu diwujudkan. Kata ahli bahasa, eufemisme dikenal sebagai penghalus bahasa. Gaya bahasa seperti ini pun sekarang (mungkin dari dahulu) terus menyebar dan menyubur. Apakah menyebar dan menyuburnya penggunaan gaya bahasa itu menunjukkan semakin halusnya perasaan suatu bangsa?

Sekarang, kata driver kerap digunakan daripada kata sopir. Apakah istilah driver itu merupakan ucapan sang majikan untuk menghaluskan sebutan untuk sopirnya atau ucapan sopir itu sendiri untuk “menghindari” kesan rendah terhadap profesi sejenis itu menurut perasaannya? Entahlah. Barangkali ini masih dapat dimaklumi.

Selain kata driver, kata meeting lebih asyik dipakai orang kantoran daripada kata pertemuan. Kata cancelling lebih keren dipakai daripada kata penundaan. Dalam suatu iklan media massa, pernah dimuat istilah spritual consultant, yang mungkin kalau memakai kata dukun terkesan seram dan kurang trendi.

Dalam jagat kejahatan yang sedang terjadi saat ini, aparat kepolisian meramaikan istilah bahasa, yakni terperiksa (untuk aparat yang diduga melakukan “persekutuan” dengan calo kasus). Kejaksaan memakai istilah kurang cermat (untuk jaksa ceroboh yang mengurus kasus dan ternyata diduga “bersekutu” juga dengan calo kasus). Istilah mafia atau makelar kasus pun terdengar lebih keren daripada calo kasus. Mungkin aparat penegak hukum memakai istilah itu untuk menjaga kewibawaan, sebab lembaganya saat ini sedang menjadi pusat perhatian. Padahal, kejahatan apa pun modelnya tetap saja jahat dan hukuman yang ideal serta setimpal untuk aparat penegak hukum (yang jahat) adalah dua kali lipat dari penjahat umum (nyolong ayam, nyolong sandal, dan nyolong lainnya). Sebab, jelas-jelas mereka tahu hukum kejahatan, eh dilakukan pula kejahatan itu. Mudah-mudahan istilah tersebut bukan termasuk dalam kelompok eufemisme. Silakan saja itu semua masuk jalur snobisme.

Bukan hal baru, keprihatinan ahli bahasa terungkap di berbagai media. Lepas dari persoalan teknis kebahasaan, nun jauh di lubuk hati bangsa pemakai bahasa itu sendiri sedang terjadi sesuatu. Untuk mengungkapkan sesuatu itu apa, itu saja sudah memerlukan keberanian dan kekuatan azam. Akan tetapi, siapa mau peduli?

**

PERBINCANGAN seputar seks dan ragam madahnya tidak terlepas dari pemanfaatan eufemisme secara penuh. Telah lama kita dengar penyakit memilukan dan memalukan akibat pelanggaran seksual disebut secara halus, bahkan terkadang keren; raja singa atau vietnam rose.

Masyarakat sangat memanja remaja kelompok balig. Mereka tampaknya tidak tega menyebut seorang remaja yang melakukan zina dengan sebutan hamil. Akan tetapi, mereka memberi istilah yang sangat halus dan bernada simpatik; kecelakaan.

Cinta sebagai salah satu kebesaran Allah yang telah “…menciptakan cinta dan kasih sayang di antara kamu” (Q.S. ar-Rum: 21), konotasinya telah bergeser. Dalam bahasa aslinya, cinta memunyai makna yang agung. Masih jernih arti cinta yang terungkap jika seorang Arab atau bukan Arab berkata kepada sohib-nya, “Uhibbuka, ya akhi …” atau “Uhibukka fillah …” (Wahai saudaraku, aku mencintaimu//aku mencintaimu karena Allah).

Dapat dibayangkan, betapa risihnya jika kita mengucapkan kata-kata itu dalam “bahasa kita” di sini. Semakin miris rasanya tatkala cinta makin diobral di media massa (terutama televisi dengan acara gosip selebritasnya) sehingga tanpa malu, (pernah dimuat/ditayangkan dalam media massa) kalimat-kalimat seperti “Sesudah pasangan yang diduga berselingkuh ini ’bermain cinta’, mereka tertidur di dalam mobil yang mesin dan penyejuk udaranya hidup, sampai mereka ditemukan sudah tidak bernyawa”. Ada pula judul berita “Para Penjaja Cinta di Pinggir Rel”.

Cinta macam apakah itu? Tegakah kita mengucapkannya, padahal ucapan itu Allah berikan kepada Nabi Musa, a.s., “Dan aku tanamkan cinta-Ku kepadamu. Dan agar engkau dibentuk di bawah penglihatan mata-Ku.” Menurut al-Baghawi, mengutip Ibu Abbas—ungkapan Allah itu berarti bahwa Allah mencintainya dan menjadikan para hamba-Nya mencintainya.

Dengan indahnya, Abdullah Yusuf Ali menerjemahkan, “But I cast (the garment of) love over thee from me; and (this) in order that Thou mayest be reared Under Mine eye.”

**

Kita masih perlu memeriksa kesehatan dan kejernihan pikiran kita. Bahasa yang kita pakai telah berisi muatan yang bukan haknya; menghaluskan yang kasar dan mengasarkan yang halus. Bukan sekali atau dua kali, kita membaca media massa Barat yang menyebut “pemberontak” diberikan kepada minoritas Muslim yang ditindas di berbagai negara. Padahal, secara politis, perjuangan mereka mendapat simpati bangsa karena hak nasional, akidah, dan sejarah mereka di berbagai tempat direnggut.

Pada saat yang sama, kita menyematkan gelar almarhum/almarhumah kepada yang bukan mustahik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s