Kehendak Kekasih Ketua

KOMPAS, 11 Juni 2010. Lie Charlie, Sarjana Tata Bahasa Indonesia.

Gue bangetLivain Lubis (almarhum), Dosen dan mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, mengatakan, bahasa Indonesia hanya mengenal tiga patah kata berawalan ke-: kehendak, kekasih, dan ketua. Berbeda dengan imbuhan ke-an, maka awalan ke- disebut kurang atau tidak produktif. Artinya, awalan ke- jarang sekali dipakai terhadap kata-kata lain, termasuk bentuk baru kata-kata bahasa Indonesia mutakhir.

Musim berganti, zaman berlalu. Belakangan terjadi interferensi yang semakin lama semakin kuat, teristimewa dari bahasa Betawi dan Jawa, mengguncang bahasa Indonesia sehingga muncullah kata-kata ”berawalan” ke- ecek-ecek dalam pertuturan kita. Contoh kasus ini cukup banyak. Sebutlah umpamanya: kebanting, keganggu, kemakan, kesenggol, atau ketukar.

Ada ahli berpendapat, ”awalan” ke- yang berasal dari pengaruh bahasa Betawi dan Jawa itu sebaiknya dan sebenarnya dapat diganti dengan awalan ter- agar pembentukannya menjadi baku. Maka, disarankan mengganti kebanting menjadi terbanting, keganggu > terganggu, kemakan > termakan, kesenggol > tersenggol, dan ketukar > tertukar. Sampai di sini semua beres belaka. Cuma ada beberapa kata yang belum biasa kita gunakan: tertemu, walaupun sinonimnya, tersua, cukup sering kita pakai.

Mengapa kita tidak menerima ”awalan” ke- bahasa Betawi dan Jawa? Bukankah bahasa Indonesia sendiri mengenal pula awalan ke- biarpun tidak produktif? Masalahnya, kita terbentur pada fungsi. Awalan ke- bahasa Indonesia sejatinya berfungsi membendakan atau menjadikan suatu kata menjadi kata benda. Perhatikan bahwa kehendak, kekasih, dan ketua masing-masing merupakan kata benda kendati golongan kata dasarnya berbeda (hendak: modalitas, kasih: kata benda, dan tua: kata sifat).

Edward de Bono mengajari kita berpikir lateral, ke samping. Kita boleh memperluas fungsi awalan ke-. Jika kita dapat membebaskan jerat fungsi awalan ke-, penyerapan kata-kata bahasa Betawi dan Jawa menjadi lebih leluasa. Fungsi awalan ke- bisa dikembangkan dan ditambah menjadi ”menyatakan mengalami (tak terhindarkan)”. Dengan demikian, kata-kata seperti kebanting, keganggu, kemakan, kesenggol, dan ketukar dapat kita pakai langsung sebagai kata-kata Indonesia.

Kita perlu menyadari bahwa bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis. Apabila sebentuk kata atau seuntai frasa sudah semakin sering dipertuturkan pendukung bahasa Indonesia, kedudukannya menjadi mantap. Akan tiba waktunya bahasa Indonesia memfasilitasinya menjadi kata atau frasa baru dan jika perlu, dengan memperbaru atau mengubah kaidah normatif: bergantung pada frekuensi pemakaian dan perubahan tabiat penutur Bahasa Indonesia.

Benarkah frasa gue banget yang sudah menjadi ikon generasi MTV itu? Jawabannya ada dua. Pertama, baik kata gue maupun banget belum diakui sebagai kata Indonesia, terutama oleh kelompok pruden. Kaidah bahasa Indonesia juga tak mengenal penggabungan kata ganti persona dengan kata keterangan kualitatif. Bentuk aku sekali jelas tidak berterima.

Saya sangat menggandrungi ungkapan gue banget yang luar biasa berkarakter ini. Pada hemat saya, lebih baik kita memilih jawaban kedua yang berbunyi sudah saatnya kita mengubah kaidah yang menyatakan kata ganti persona tak lazim digabungkan dengan kata keterangan kualitatif dan/atau mengakui bahwa selain kata ganti persona, gue juga kata sifat sehingga dapat disatukan dengan kata banget.

Ilustrasi: guebanget.com.

Iklan

2 thoughts on “Kehendak Kekasih Ketua

  1. Ping-balik: Lisan dan Tulisan « Rubrik Bahasa

  2. Apa ya, yang dimaksud kelompok pruden?
    Kalau maksudnya kaum terpelajar, akademisi pemerhati bahasa Indonesia, yang mengarah ke instansi pemerintah yang berkecimpung mengurusnya (baca: Pusat Bahasa), penggolongan ini perlu dipertanyakan lagi; sebab, tugas utama mereka adalah membakukan bahasa dengan mengoreksi berbagai penyimpangan dan bukan menetapkan secara sepihak bahasa lisan daerah tertentu menjadi bahasa tetap hingga tercantum dalam kamus standar.
    Lagi pula, memberikan pengecualian pada kaidah yang sudah baku dan populer bisa menimbulkan kegaduhan di kalangan media massa, karena penerimaan masyarakat tidak secepat sosialisasi yang dilakukan; ambil contoh, pengembalian lema “perhati” ke dalam “hati” sehingga bentuk “memperhatikan” tidak rancu lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s