Lampung Fair

Lampung Post, 16 Jun 2010. Adian Saputra: Asisten redaktur bahasa Lampung Post.

Lambang LampungRedaktur opini koran kami, Zulkarnain Zubairi, mengeluh soal perubahan nama Pameran Pembangunan Lampung menjadi Lampung Fair. Udo Zul, demikian ia disapa, mengatakan perubahan nama itu tidak punya makna apa-apa. Bahkan, menghilangkan identitas pameran yang sudah dikenal banyak orang, termasuk di luar Lampung.

Apa yang dikeluhkan rekan kami itu sudah tentu menjadi perhatian kami. Pameran Pembangunan Lampung sudah benar dan apik dipakai. Ia mencerminkan betapa pemerintah telah piawai dalam berbahasa resmi. Itu juga menunjukkan bahwa pemerintah berhasil dalam membangun dan menginformasikan keberhasilan itu kepada khalayak.

Mengapa nama Pameran Pembangunan Lampung tidak tidak dipertahankan? Alih-alih meningkatkan mutu berbahasa Indonesia, penyelenggara malah menggunakan bahasa Inggris. Fair dalam Kamus Inggris-Indonesia yang disusun John M. Echols dan Hassan Shadily berarti pekan raya. Jika definisi ini yang dipakai, gagah juga. Kita tentu akan ingat pada Pekan Raya Jakarta yang digelar untuk memperingati hari ulang tahun Jakarta. Pameran Pembangunan Lampung bagus dipakai. Mau menggunakan Pekan Raya Lampung juga enak didengar. Terdengarnya lebih wah dan kesannya punya muruah. Bisa dibanggakan begitu.

Akan lebih “gurih” pula ketika menggunakan Pekan Raya Buku Jakarta sebagai padanan untuk Jakarta Book Fair atau Bazar Akbar Buku Islami ketimbang menggunakan Islamic Book Fair. Yakinlah, hanya sedikit orang asing yang datang pada acara yang dihelat orang Indonesia asli itu. Maka itu, buat apa kita bergagah-gagah dengan bahasa Inggris sedangkan bahasa ibu tidak kita gunakan. Apalagi, dalam momentum resmi dan membawa nama daerah sebagai ikon.

Sudah saatnya pemerintah menjadi pihak pertama yang menghormati bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Demikian juga dengan semua masyarakat dan media massa. Keduanya dituntut untuk dapat menjadi penutur bahasa Indonesia yang baik. Kita sukses menyebut Piala Dunia untuk World Cup dan Liga Champions untuk Champions League. Namun, kita ternyata masih gamang untuk menulis rembuk nasional dan memilih menggunakan national summit. Dalam ruang lingkup olahraga pun, penggunaan bahasa Inggris mendominasi.

Untuk olahraga sepak bola, misalnya, penyelenggara menggunakan Indonesian Super League. Padahal, jika penyelenggara menggunakan Liga Super Indonesia masih perlente juga, masih gagah, dan terasa magnetnya. Namun, lagi-lagi, kita belum menghargai bahasa Indonesia. Soal nama ingin gagah, boleh-boleh saja. Cuma, prestasi lebih utama. Buat apa nama kompetisinya mentereng menggunakan bahasa Inggris, tapi prestasi sepak bola nasional melempem. Termasuk juga Lampung Fair ini. Ketimbang bergagah-gagah dengan nama berbahasa Inggris, lebih baik meningkatkan mutu pameran setiap tahunnya. Yang juga harus dijaga mutunya ialah bahasa. Maka itu, kembalikan muruah bahasa Indonesia pada kedudukannya.

7 komentar di “Lampung Fair

  1. Setelah 102 tahun bahasa melayu sebagai bahasa persatuan dan kemudian sejak 65 tahun lalu dikukuhkan di dalam UUD 1945 sebagai bahasa negara dengan nama bahasa Indonesia, berarti pula sejak itu bahasa Indonesia sudah berkekuatan hukum sebagai bahasa resmi yang dipakai di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan usia yang relatif muda itu bahasa nasional di negara kita itu sudah mampu menjadi sebuah bahasa pergaulan, bahasa pengantar budaya, bahasa pendidikan, dan bahkan sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Dengan demikian, bahasa Indonesia selain memiliki kedudukan hukum yang kuat juga memiliki prestise karena dapat dipakai sebagai bahasa pergaulan sampai pemanfaatan sebagai bahasa tingkat tinggi.
    Orang Indonesia seharusnya bangga dengan itu. Namun demikian, akhir-akhir ini seperti ada kecenderungan pemakai bahasa Indonesia bangga dengan berbahasa Indonesia dengan memasukkan istilah asing, terutama istilah dari bahasa Inggris. Selain itu, lembaga-lembaga pun gemar menggunakan istilah asing untuk nama tempat, nama suatu kegiatan, atau nama piala penghargaan. Sebagai contoh adalah kalau dulu ada acara penghargaan untuk insan-insan perfileman Indonesia dengan nama “Festival Film Indonesia”, tetapi sekarang lebih disukai istilah asingnya, “Indonesia Movie Award”. Perhelatan sepak bola tertinggi di negara ini memakai istilah asing, “Indonesia Super League” dan mengapa tidak dipakai istilah “Liga Super Indonesia”.
    Apakah campur kode seperti itu akan menimbulkan kesan “keren-kerenan”? Bagi mereka jawaban pertanyaan itu mungkin “ya”.
    Fenomena seperti di atas menunjukkan sikap bahasa masyarakat Indonesia kepada bahasanya, bahasa Indonesia, cenderung mengarah ke sikap negatif. Hal ini menunjukkan rasa kebanggaan bangsa ini akan bahasa nasionalnya cenderung menipis.
    Sikap positif kepada bahasa Indonesia tentu bisa ditumbuhkan dan diperkuat melalui pengajaran bahasa Indonesia, salah satunya, dari mulai pendidikan dasar. Barangkali pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, terutama di sekolah dasar, dibuat lebih menyenangkan sehingga sejak dini bangsa ini dibiasakan mencintai bahasa Indonesia dan dapat memakai bahasa nasionalnya itu secara cerdas di samping harus juga menguasai bahasa asing (bahasa Inggris) juga dengan baik. Cerdas berbahasa adalah ketika seseorang mampu menggunakan sebuah bahasa dengan baik. Kertika berbahasa Indonesia, ya berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk kepentingan dan di tempat tertentu yang mengharuskan seseorang berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, dia dapat menggunakan bahasa itu juga dengan baik dan benar.

    Salut buat Lampung Post (seharusnya juga mungkin ditulis “pos” bukan “post) yang memiliki “Rubrik Bahasa”. Media massa memang sarana tepat untuk mempengaruhi publik, termasuk memberi pengaruh positif dalam hal berbahasa Indonesia.

  2. Senada dengan ini, adalah penamaan “Bandung Car Free Day”, di kawasan Jalan Dago Bandung yang berlaku setiap hari Minggu pagi pukul 06.00-10.00.

    Sudah menggunakan bahasa Inggris, tidak tepat lagi maknanya; paling tidak ada 2 makna yang kurang tepat:

    1. “Car free”, artinya hanya mobil yang tidak boleh masuk. Jadi, sepeda motor boleh masuk, kan? Pada hal, yang dimaksud bukan seperti itu.

    2. “Day”, maknanya sehari penuh. Pada hal yang dimaksudkan hanya pukul 06.00-10.00
    Sebutan Inggris yang lebih tepat tentunya “morning”, bukan? Atau yang lebih akurat lagi, “first half of the morning”.

    Nah, tidak tepat bukan, sebutan “car free day” itu?

    Lebih baik menggunakan kosakata Indonesia.

  3. Ada fenomena yg menarik. Di artikel ini,penulis mengkonotasikan bahasa Inggris dgn bahasa yang gagah. Berarti,kalo mau gagah,pakailah bahasa Inggris. Dgn kata lain,kalo pake bahasa Indonesia,berarti Anda gak gagah.

    Ini paradigma yang sakit. Kalo disuruh milih,orang2 jelas akan milih “bahasa gagah” dibanding “bahasa gak gagah”. Yup, ke depannya, masyarakat harus dididik untuk bangga dgn bahasa Indonesia. Tunjukkan bahwa bahasa Indonesia juga “bahasa gagah”

    :D

  4. Ping balik: ‘General Affair’ « Rubrik Bahasa

  5. Bekerja di penerbitan membuat saya tersentak, tapi bukan karena baru sadar, dengan pernyataan penulis:

    Akan lebih “gurih” pula ketika menggunakan Pekan Raya Buku Jakarta sebagai padanan untuk Jakarta Book Fair atau Bazar Akbar Buku Islami ketimbang menggunakan Islamic Book Fair.

    Benar sekali, Bazar Akbar Buku Islami (BABI) cukup “menjual” kalau memang alasan penginggrisan acara ini demi “gagah-gagahan” sehingga dipopulerkan dengan Islamic Book Fair (IBF). Begitu pun Pekan Raya Buku Jakarta (PRPJ), sangat bisa bersanding dengan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Memang, terasa betul kejanggalan ketika saran pengindonesiaan tersebut disingkat dan dibaca seperti akronim; bahkan untuk yang pertama agak kasar dan kurang beradab. Kembali ke bisnis, juga pilihan khalayak pencinta acara-acara ini; it’s about brand, I think.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.