Relawan & Sukarelawan

Pikiran Rakyat, 30 Juni 2010. Imam Jahrudin Priyanto: Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat.

KETIKA menonton acara televisi, saya tiba-tiba terperanjat saat mendengarkan kata-kata dalam tayangan iklan, “Mata merah, hilang dalam sekejap.” Benarkah obat itu bisa membuat mata Anda hilang? Apa sebenarnya yang dihilangkan oleh obat itu? Tentu saja merahnya, bukan matanya. Namun, penggunaan kata-kata dalam iklan itu dirasa kurang tepat karena timbul arti lain yang berada di luar perhitungan pembuat iklan tersebut. Ini yang disebut kalimat taksa (maknanya kabur, ambigu, atau mendua arti).

Pembuat iklan tentu menginginkan arti mata merah bisa segera sembuh lagi. Namun, ternyata kalimat yang disusunnya itu masih ambigu. Arti kedua yang muncul, ya itu tadi, mata (Anda yang sedang memerah) hilang dalam sekejap.

Berarti ada masalah dalam penyusunan kalimat tersebut karena bahasa yang baik tidak akan menghasilkan dua arti. Maknanya akan sampai kepada pemirsa atau pembaca secara jelas dan lugas.

Menyusun kalimat yang efektif memang gampang-gampang susah. Perlu pemahaman yang baik menyangkut penggunaan kata. Jangan sampai muncul arti lain. Ambil contoh, betapa kurang sopannya pewara (pembawa acara) yang berkata, “Bagi hadirin yang membawa telefon genggam, harap dimatikan.” Maksud pewara itu, telefon genggamnya yang dimatikan, tetapi makna keliru yang muncul, hadirin yang dimatikan. Jadi, arti yang keliru hanya mungkin muncul dari kalimat yang keliru pula. Untuk iklan itu, produser bisa menggunakan kalimat, “Mata merah, sembuh dalam sekejap.”

Saya juga menaruh perhatian terhadap kata relawan yang sering digunakan belakangan ini, terutama setelah Kapal Mavi Marmara yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Palestina, diserang tentara Israel. Sepintas tak ada kekeliruan. Namun, bila kita kaji secara morfologis, ada permasalahan di sana. Kata rela itu kata kerja (verba) karena berarti bersedia (dengan ikhlas hati). Sementara akhiran wan (yang berarti orang) hanya diimbuhkan pada kata benda dan kata sifat, misalnya negarawan, sastrawan, wartawan, hartawan, karyawan, rupawan, dermawan (didahului kata benda), ataupun cendekiawan (didahului kata sifat). Dengan demikian, kata relawan itu keliru. Yang benar adalah sukarelawan karena sukarela (berarti dengan kemauan sendiri) merupakan kata sifat. Dalam proses penyuntingan kerap muncul masalah, bagaimana bila kata relawan itu berada dalam nama organisasi (yang tak sesuai dengan kaidah kebahasaan)? Karena nama merupakan identitas, saya tidak mengubahnya. Namun, dalam posisi generik (bukan nama), kata relawan diubah menjadi sukarelawan.

Kekeliruan juga terjadi pada kata pirsawan dan prakirawan. Kata pirsawan keliru karena pirsa itu kata kerja yang diambil dari bahasa Jawa, dengan arti melihat atau tahu (KBBI IV). Untungnya, kata pirsawan jarang digunakan. Pemakai bahasa kini lebih sering menggunakan kata pemirsa yang sudah tepat. Kata prakirawan juga keliru karena prakira merupakan kata kerja. Bentuk yang dianjurkan adalah juru prakira atau ahli prakira. Demikianlah, semoga kata-kata yang keliru tidak lagi digunakan. Jadi yang tepat itu sukarelawan, bukan relawan.

Iklan

4 thoughts on “Relawan & Sukarelawan

  1. Dalam konteks ini, telivisi tampak tidak memiliki visi untuk mengembangkan dan mengajarkan kepada pemirsanya bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

    Pembuat iklan seharusnya bekerjasama dengan ahli bahasa, agar bahasa yang digunakan dalam iklan juga berfungsi mendidik.Hal yang sama seharusnya juga perlu dilakukan oleh lembaga sensor iklan.

    Terima kasih

  2. Saya tidak terlalu risau dengan hal ini.
    1. Bagi saya, sudah jelas maknanya, bahwa yang hilang adalah merah pada mata, bukan matanya.
    2. Benarkah rela hanya bermakna sebagai kata kerja? Bila rela bisa bermakna kata sifat, maka kata relawan pun tidak lah salah.

    • Menurut saya:
      1. Sepintas (khususnya bagi orang yg masa bodoh), memang jelas. Tapi kalimat itu mengandung makna lain yg jauh dari makna sebenarnya, jadi intinya tidaklah tepat. Sepakat dgn pak Imam, lebih tepat alternatif “Mata merah, sembuh dalam sekejap.”

      2. Coba Pak Joko Riyanto buka KKBI, khususnya edisi keempat, maka disitu bisa dilihat kalau kata rela merupakan kata kerja.

  3. Sejak lama saya berharap praktisi periklanan bekerja sama dengan ahli bahasa dalam membuat suatu iklan yang ditampilkan di media massa, tapi tampaknya harapan ini sulit terwujud. Satu hal yang pasti, rata-rata orang yang berkecimpung dalam bisnis ini menganggap berbahasa itu semudah berkata, jadi sering kali mengabaikan kebakuan gramatika dengan kepahaman pendengaran. Dari hasil berbicara dengan teman saya, dalam salah satu garapan tugasnya membuat papan promosi, diketahui adanya kekhawatiran hilangnya unsur persuasif, ajakan kepada pemirsa, karena kebakuan identik dengan kekakuan makna.

    Sebagai tambahan, berikut kutipan kata “rela” yang memang masuk dalam kategori verba atau kata kerja:

    re·la /réla/ v 1 bersedia dng ikhlas hati: aku — mati membela tanah tumpah darahku; 2 izin (persetujuan); perkenan: kedatangan saya ini hendak meminta — tuan; 3 dapat diterima dng senang hati: semua itu kuberikan kepadamu dng –; 4 tidak mengharap imbalan, dng kehendak atau kemauan sendiri: dng suka –;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s