Tentang Tesaurus Itu

Majalah Tempo, 12 Jul 2010. Kasijanto Sastrodinomo: Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI), Eko EndarmokoSebuah kamus melahirkan kontroversi. Penerbitan Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (TABI 2009) menjadi persoalan karena beberapa hal. Kamus ini tiga tahun setelah terbitnya Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI, 2006) garapan Eko Endarmoko. Konsepnya memang lebih lengkap dibanding kamus Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko karena memadukan sinonim (padanan kata), antonim (lawan kata), hiponim (makna sempit), dan meronim (kaitan makna satu kata dengan kata lain). Jumlah lema dalam kamus tesaurus versi Pusat Bahasa (28.000 kata) juga lebih gemuk ketimbang kamus tesaurus karya Eko Endarmoko (16.000 kata). Bahkan Pusat Bahasa memasukkan beberapa lema baru dan memperluas uraian beberapa lema.

Namun kamus baru keluaran Pusat Bahasa ini mengundang kontroversi karena Eko Endarmoko merasa sebagian lema kamus hasil kerjanya selama belasan tahun “bermigrasi” ke kamus Tesaurus Alfabetis versi Pusat Bahasa (Tempo, 5-11 April 2010). Sastrawan Remy Sylado bahkan blakblakan menyebut sejumlah lema di kamus Pusat Bahasa “hanya menyontek” dari kamus karya Eko Endarmoko (Tempo, 12-18 April). Jika memang benar begitu, Pusat Bahasa tidak menghargai jerih seorang pengabdi bahasa “luar pagar” yang tulus ikut membangun bahasa nasional.

Ini memang masih perlu pembuktian yang sahih: benarkah Pusat Bahasa telah melanggar angger-angger hak cipta kreatif. Sebagai institusi pemerintah yang didukung tenaga terdidik, fasilitas, dan dana yang terjamin, Pusat Bahasa seharusnya mampu melahirkan “opus” yang lebih hebat ketimbang hasil karya seseorang yang menggunakan biaya pribadi dan betul-betul untuk pengabdian pada kekayaan bahasa Indonesia.

Bagaimanapun, dugaan tak enak itu telanjur menjadi ganjalan yang sulit ditepis begitu saja. Terutama pada uraian lema/kata yang langka dan unik sinonimnya, prasangka “penyalinan” cukup beralasan. Misalnya lema kelesah yang diperikan tesaurus karya Eko Endarmoko: “asan tak asan (Mk), bingung, cemas, empot-empotan (cakapan), galau, gamam, gelebah, harap-harap cemas, kepompongan (Mk), khawatir, mamang, nyanyang (Mk), renyang (Mk), resah, risau, senewen (cak), sesat pusat, was-was”, muncul kembali dalam tesaurus buatan Pusat Bahasa. Bedanya, secara ironis kamus tesaurus Pusat Bahasa menghapus anotasi Mk (Minangkabau)-dan tanda serupa pada kata lain-sehingga menyapu jejak asal kata dan mereduksi informasi.

Terkadang tim Pusat Bahasa tidak cermat mengutip sumber acuan. Lema cekibar dalam kamus tesaurus karya Eko Endarmoko yang antara lain disinonimkan “cebikas”, ditulis “cekibas” dalam kamus versi Pusat Bahasa. Mungkinkah redaksi tim Pusat Bahasa salah ketik, atau memang tak kenal kata itu? Separuh sinonim pidi, memidi dalam kamus tesaurus karya Eko Endarmoko bersifat arkais, di antaranya “menenok”, yang diyakini hanya bisa ditemukan oleh orang yang biasa keluyuran di ladang penelitian macam Eko. Mungkin juga karena tim Pusat Bahasa tak akrab dengan kata “menenok”, jadilah salah kutip “menengok”.

Kesalahan fatal terjadi pada sinonim predisposisi dalam kamus Pusat Bahasa, yakni “1 alternatif, opsi, pilihan, seleksi”; “2 pengutamaan, prioritas.” Seharusnya, gugus padanan itu untuk kata preferensi seperti tertera dalam tesaurus karya Eko Endarmoko; sedangkan padanan predisposisi yang benar adalah “1 kecenderungan, kecondongan, kege maran, kesukaan”; “2 Dok [kedokteran] kerentanan (tubuh).”

Dalam tulis-menulis, kemiripan, kesamaan, dan ketumpangtindihan-dalam batas tertentu-lumrah adanya senyampang bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka dan masuk akal seturut kaidah dan etika yang berlaku. Repotnya, tesaurus Pusat Bahasa tak menyajikan penjelasan proses kreatif dari pembentukan dan penulisan kamus ini. Kecurigaan “menyontek” mungkin juga akan mereda andai terucap sepatah pengakuan (acknowledgment) terhadap arti penting karya serupa terdahulu. Bab awal seperti prawacana, ucapan terima kasih, atau apa pun sebutannya, lazim untuk menyatakan pengakuan itu.

Rupanya, Pusat Bahasa lupa pada aspek etis tersebut; kecuali pengantar ucapan terima kasih Kepala Pusat Bahasa kepada tim penyusun, dan “pihak lain” yang tak mungkin disebutkan satu per satu. Tapi, acknowledgment bukanlah ucapan terima kasih model “borongan” semacam itu, melainkan persaksian bahwa ada karya lain yang menggugah inspirasi, membuka wawasan, atau bahkan sangat mempengaruhi kreasi yang belakangan. Dalam bukunya yang masyhur, Imagined Communities (1983)-sekadar ilustrasi-Benedict Anderson mengakui bahwa pandangannya tentang nasionalisme sangat dipengaruhi, deeply affected, penulis terdahulu.

Saat menguji seorang calon doktor di Universitas Indonesia pada awal 1980-an, Profesor Harsja Bachtiar sempat menegur promovendus yang tidak menuliskan lembar “ucapan terima kasih” dalam disertasinya. Menurut sosiolog itu, ucapan terima kasih menyiratkan proses kerja seorang peneliti: bagaimana ia berguru, berdiskusi, atau sekadar menjalin hubungan fungsional dengan pihak yang otoritatif dalam bidangnya. Dengan kata lain, “ucapan terima kasih” memantulkan langkah metodologis sang peneliti.

Pengambilan dan kutipan adalah sebuah praktik lazim jika ada pengakuan. Tetapi, jika tak ada pengakuan apa pun, tentu saja kecurigaan terjadinya penjiplakan tampaknya masih terus berulang. Tak mudah membuktikannya karena sangat bergantung pada kejujuran “tertengara” penjiplak. Apa pun dalihnya, kata David Madsen (1992), penjiplakan adalah reprehensible, sesuatu yang patut dicela.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s