Nama Benda Sehari-hari

Pikiran Rakyat, 17 Jul 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Umumnya kita mempelajari bahasa Indonesia di sekolah. Bahasa itu kita pelajari melalui buku, biasanya mengenai hal-hal yang terdapat dalam kehidupan orang kota, atau tentang berbagai masalah yang bersifat pengetahuan. Hampir tidak ada yang mengenai kehidupan kita sehari-hari di rumah, apalagi kalau kita tinggal di kampung sehingga kita kebingungan kalau hendak menyebut nama-nama benda yang akrab di sekeliling kita, di dapur misalnya. Kalau kita orang Sunda, di dapur kita ada hawu, dulang, hihid, centong, gentong, siwur, aseupan, seeng, tarang hawu, paraseuneu, boboko, ceceting, dan banyak lagi. Hanya sebagian saja yang dapat kita temukan padanannya dalam bahasa Indonesia seperti centong (cukil nasi), boboko (bakul nasi), aseupan (kukusan), dan hihid (kipas). Yang lainnya membingungkan. Bukan saja karena kita tidak tahu padanannya dalam bahasa Indonesia, melainkan karena benda-benda itu tidak terdapat di kota atau kalaupun ada susunan dan bentuknya berbeda. Hawu misalnya, tak bisa disamakan dengan kompor walaupun fungsinya mungkin sama, yaitu untuk menjerangkan atau memanaskan wadah apa saja yang isinya hendak dimasak.

Memasak dengan hawu, berlainan dengan memasak menggunakan kompor. Hawu menggunakan kayu bakar, kompor menggunakan minyak tanah (sekarang gas). Akibat menggunakan kayu bakar, hawu meninggalkan abu. Oleh karena ada abu, orang Sunda dapat memasak sesuatu di dalamnya, seperti bubuy sampeu, bubuy boled, bubuy beton nangka, dan lain-lain. Setelah orang Sunda menggunakan kompor, baik kompor minyak tanah maupun kompor gas, budaya ngabubuy pun hilang. Anak-anak muda sekarang pun masih menyanyikan “Bubuy bulan sanggray bentang …” tetapi mereka tidak tahu bagaimana caranya ngabubuy, apalagi ngabubuy bulan. Sementara itu kata sanggray sekarang sudah masuk menjadi kosakata bahasa Indonesia, sering terlihat dalam acara masak-memasak, ditulis sanggrai (dengan “i”).

Akan tetapi, bukan hanya nama-nama bendanya saja yang sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia, melainkan juga perbuatan yang bertalian dengan benda-benda itu. Dahulu orang Sunda mempunyai kebiasaan mengangkat nasi setengah atau seperempat matang lalu dicampur dengan air dan dibolak-balik supaya merata. Nasi demikian disebut gigih. Setelah dibiarkan beberapa lama, gigih itu baru dimasukkan ke dalam aseupan (kukusan) dibiarkan sampai timus (masak). Kalau sudah masak, nasi ditumpahkan ke dalam dulang, lalu dibolak-balik dengan centong sambil diangin-angin dengan hihid. Perbuatan demikian disebut ngakeul. Nasi yang diakeul menjadi pulen. Akan tetapi, ternyata tidak semua suku bangsa di Indonesia mempunyai kebiasaan ngakeul. Orang Jawa misalnya, tak kenal ngakeul karena itu nasinya tidak pulen.

Saya tidak tahu apakah orang Melayu, yang dianggap menjadi asal bahasa Indonesia, mempunyai kebiasaan ngakeul atau tidak. Kalau punya, niscaya ada istilahnya. Akan tetapi, istilah itu tidak pernah muncul dalam buku pelajaran atau buku-buku lain yang ditulis dalam bahasa Indonesia sehingga kita tidak tahu apakah padanan ngakeul dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Orang Jakarta konon mempunyai kebiasaan ngakeul yang disebut ngangi. Akan tetapi, baik kata angi maupun ngangi tidak terdapat dalam Kamus Dialek Jakarta susunan Abdul Chaer (Ende, Nusa Indah, 1976).

Dari dapur masuk rumah, kita juga bertemu dengan benda-benda yang belum ada namanya dalam bahasa Indonesia. Ada bangbarung, ada tepas (disebut beranda dari bahasa Portugis), ada pangkeng (disebut kamar dari bahasa Belanda), ada goah (kadang-kadang disebut sepen dari bahasa Belanda), dan lain-lain. Daripada menemukan istilah bahasa Melayu malah banyak kita ambil dari bahasa Belanda atau Portugis, terutama karena bentuk kebanyakan rumah meniru rumah kota. Rumah panggung tidak disukai lagi, padahal bentuk rumah orang Melayu panggung juga, malah panggungnya lebih tinggi.

Tanam-tanaman di sekeliling rumah atau di kebun juga yang niscaya tadinya dikenal dengan nama dalam bahasa Sunda, tetapi karena nama bahasa Indonesianya tidak diketahui, dalam bahasa Indonesia digunakanlah nama-nama dari bahasa Belanda, seperti bunga sebe disebut kana, kembang kertas disebut bugenvil, kembang mawar disebut ros, dan pohon mandalika disebut sirsak. Bahkan kemudian nama-namanya dalam bahasa Sunda itu dilupakan oleh orang Sunda, sehingga dalam bahasa Sunda pun mereka sekarang menggunakan nama Belanda.

Oleh karena itu, pengarang Sunda dalam bahasa Indonesia misalnya tidak akan mampu membuat deskripsi tentang bangunan rumah seteliti Moh. Ambri melukiskan bangunan rumah di Cisompet dalam Numbuk di Sue, atau seperti Sjarif Amin melukiskan keadaan kampungnya dalam Di Lembur Kuring. Untuk itu terlalu banyak istilah yang tidak dia ketahui dalam bahasa Indonesia. Kecuali nama-nama benda, juga nama-nama gerak (nyigcrig, ngalenghoy, nereleng, ngajeten, depong, depok, emok, sila tutug, dan lain-lain), nama-nama makanan (yang dalam bahasa Sunda pun sering berbeda di setiap daerah, misalnya empal di Cirebon berbeda dengan empal di Priangan, lotek di Bandung berlainan dengan lotek di Jatiwangi, awug dan putu bertukaran dari daerah ke daerah, kacang Banten di Cirebon disebut kacang Bandung di Banten, dan lain-lain).

Tentu saja kesulitan yang timbul bagi orang Sunda dalam berbahasa Indonesia seperti itu, dihadapi juga oleh orang Jawa, Bali, Bugis, Aceh, dan orang-orang daerah lain, apalagi kalau mengenai hal-hal yang khas daerahnya. Oleh karena itu, kita saksikan kian banyak istilah-istilah bahasa daerah yang masuk ke dalam bahasa Indonesia. Dari bahasa Sunda misalnya kita catat telah diterima dalam bahasa Indonesia istilah judul, penca, pasantren, comro, dan lain-lain. Belakangan masuk pula ngabuburit, amburadul, boro-boro, dan lain-lain. Nama-nama dan istilah-istilah yang khas daerah itu dengan sendirinya memperkaya bahasa Indonesia.

Sumber: iStockphoto.

Iklan

One thought on “Nama Benda Sehari-hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s