Terkendala

Majalah Tempo, 19 Jul 2010. Lie Charlie: Sarjana Bahasa Indonesia.

Sumber: iStockphotoSIMAKLAH kata terkendala. Kata ini sering digunakan di berbagai media. Bisakah kita meletakkan awalan ter di depan kata kendala? Juga kata tersolusi, bisakah kita menggunakannya dalam sebuah kalimat, seperti yang kerap muncul? Pembentukan kata terkendala dan tersolusi sebetulnya kurang mengindahkan kaidah bahasa Indonesia. Awalan ter dalam bahasa Indonesia tidak lazim dilekatkan pada kata benda, kecuali dalam beberapa kasus turunan khusus. Kendala dan solusi sama-sama kata benda.

Mengapa penutur bahasa Indonesia bisa terinspirasi menggunakan kata terkendala atau tersolusi? Tampaknya, itu terjadi lantaran kita sering mengartikan awalan ter sebagai pembawa makna “kena, mendapat, memperoleh, atau menemui”. Tertuduh artinya kena tuduh, terpanggil artinya mendapat panggilan, terpukul artinya memperoleh pukulan, dan terhambat artinya menemui hambatan. Maka terkendala ditafsirkan berarti mendapat atau menemui kendala, dan tersolusi berarti memperoleh solusi. Padahal kata-kata tuduh, panggil, pukul, dan hambat adalah kata kerja.

Karena memang kurang tepat pembentukannya, kata terkendala dan tersolusi patut ditinggalkan. Pilihan untuk menggantikan kata terkendala dan tersolusi cukup banyak, baik dalam bentuk kata yang sama-sama berawalan ter maupun dalam bentuk lain. Kata terkendala dapat disubstitusi oleh kata terhambat atau terintangi, dan kata tersolusi dapat ditukar dengan kata teratasi atau terselesaikan.

Saya kira penutur bahasa Indonesia sudah kenal betul dengan makna kata-kata pengganti terhambat, terintangi, teratasi, dan terselesaikan tersebut, tapi memang sengaja mencari dan ingin memakai bentuk kata lain untuk mengungkapkan makna yang sama supaya bahasa yang dipakai terkesan lebih bervariasi saja.

Bagaimana dengan bentuk terobsesi, tersapu, dan terpesona, umpamanya? Bukankah obsesi, sapu, dan pesona adalah kata benda? Kata terobsesi tergolong bentuk yang relatif baru. Mengacu kepada kaidah bahasa Indonesia di atas, kata ini pun sebaiknya jangan dipakai lagi karena pembentukannya kurang dapat diterima. Untuk kata tersapu, pembentukannya sudah benar. Kata sapu dalam bahasa Indonesia, selain berkategori kata benda, sekaligus masuk golongan kata kerja. Jadi kata tersapu dibentuk dari kata kerja sapu, bukan dari kata benda sapu.

Kata terpesona diturunkan dari kata sifat memesona, bukan dibentuk dari kata benda pesona. Sebaliknya, perhatikan bahwa tidak ada kata mengendala, mengendalakan, menyolusi, atau menyolusikan. Ada perbedaan hakiki antara kata yang dibentuk dan kata yang diturunkan. Apabila ada kata mengendala, dikendala, mengendalakan, dan dikendalakan, sangat mungkin kata terkendala berterima; tapi kenyataannya tidak demikian. Contoh lain, kita menerima kata terbentuk dan tersudut. Kata bentuk dan sudut memang kata benda, tapi terbentuk dan tersudut diturunkan dari membentuk > dibentuk > terbentuk dan menyudutkan > disudutkan > tersudut.

Jadi, kuncinya, sebelum melekatkan awalan ter pada sebuah kata benda, cobalah pasangkan kata tersebut dengan awalan me atau imbuhan me-kan. Jika berterima, barulah kita dapat menurunkan kata bersangkutan menjadi bentuk berawalan ter.

Dalam bahasa Indonesia, awalan ter secara spesifik juga bisa bermakna “paling” jika dilekatkan pada kata sifat. Awalan ter di sini menjadi ciri kepalingan atau superlatif kata sifat bahasa Indonesia.

Sumber: iStockphoto.

Iklan

4 thoughts on “Terkendala

  1. Teori tersebut harus diujikan kembali pada data yg lebih luas, misalnya, kata terluka, tertanggal, ternama, tersurat, terpojok, terpanah, tertombak, dll.

    Saya melihat agak tergesa-gesa Lie Charlie mengabstraksikan gejala bahasa yg berkaitan dengan kata terkendala dan tersolusi. spes

  2. Mengapa kita tidak berpikir sebaliknya. Kaidah berubah sesuai dengan kebutuhan. Mengapa tidak kita jadikan saja “kendala” sebagai kata kerja juga. Memang pada awalnya kata benda. Tapi karena orang berbahasa semakin canggih dan kompleks, kata berkembang fungsi dan maknanya. Kalau kita ikuti teori Lie Charlie ini, bahasa menjadi statis.

  3. Teori yang logis, tapi apakah aplikatif? Mengenai dugaan tergesa-gesa, perlu diteliti lagi bahasan lengkapnya dari Pak Lie di tulisan atau karya terkait lain. Adapun dugaan jumud dari Bung Jajang, saya pikir perlu ditarik kembali karena apa pun pendapat seseorang–apalagi yang dikenal sebagai ahli bahasa–patut kita hormati tanpa dikomentari secara negatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s