Pelajaran Membaca

KOMPAS, 23 Jul 2010. Salomo Simanungkalit.

Saya tak tahu persis apakah pelajaran membaca dengan menggunakan huruf Latin di negeri ini seragam pada semua aras pendidikan dan di semua daerah. Apakah dimulai sejak di kelas satu Sekolah Dasar? Ataukah, sudah diperkenalkan di Taman Kanak-Kanak atau malah di Kelompok Bermain?

Pertanyaan ini relevan karena liberalisasi pelaksanaan pendidikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini bikin saya dari angkatan larut senja terbata-bata. Tak ada lagi yang seragam di sekolah, selain pakaian seragam itu sendiri. Pendaftaran masuk pendidikan di aras baru sudah dimulai per Oktober oleh sebagian sekolah meski ujian akhir di sekolah tersebut baru berlangsung lima bulan kemudian. Belum tahu apakah lulus pada ujian akhir yang belum dilaksanakan, seorang murid SMA di zaman ini terpaksa mendaftar ke perguruan tinggi beberapa bulan sebelum mengikuti ujian akhir.

Yang hendak dibahas dalam kolom ini ialah ihwal pelajaran membaca kata dalam bahasa Indonesia, yang pada masa saya empat puluh tahun silam diperkenalkan di kelas satu Sekolah Dasar seperti ini: b-u bu, d-i di, b-u-d-i budi. Masihkah dengan metode itu?

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang mantan kepala sekolah sebuah SD negeri di Binjai, Sumatera Utara. Guru senior ini mengatakan bahwa pelajaran membaca di sebagian SD di negeri ini ”tidak lagi dengan cara kita dulu”. Budi langsung dibaca sebagai ”budi”, bukan lagi dengan tahap-tahap: b-u bu, d-i di, b-u d-i budi. Dengan kata lain, dengan metode ini, kata-kata dalam bahasa Indonesia dibacakan langsung kata demi kata atau morfem demi morfem, bukan lagi huruf demi huruf atau fonem demi fonem.

Jadi, seperti membaca kata dalam bahasa Inggris, dong? ”Betul,” kata guru yang kebetulan sarjana sastra Inggris itu. Terpancar dari jawaban tersebut bahwa metode yang sekarang diterapkan lebih maju dari metode yang sebelumnya—puluhan tahun—diberlakukan.

Karena tak mendapat alasan tepat mengapa metode yang seolah-olah baru (padahal, pebahasa Inggris menerapkan metode itu sudah lama sekali) itu diterapkan, saya langsung mengatakan kepadanya: ”Pengajaran sesat sudah dimulai sejak pelajaran paling dasar dan fundamental: membaca.”

Pembunyian kata-tertulis dalam bahasa Inggris memang tidak melalui tahap fonem demi fonem. Read tak berguna dieja dulu dengan r-e dan a-d, kemudian diperoleh bunyi read yang tunggal sebab bunyi gabungan fonem demi fonem dalam bahasa Inggris tidak konstan. Read yang present tense jelas beda dengan read yang past tense. Metode yang kita kenal dalam pembacaan kata-kata bahasa Inggris adalah morfemik, langsung ke morfem, langsung ke kata.

Sementara itu, bunyi gabungan fonem dalam bahasa Indonesia, Italia, dan Slovenia, misalnya, adalah konstan sehingga pembunyian kata-tertulis dengan metode mengeja fonem demi fonem tetap relevan dalam bahasa-bahasa itu.

Beda watak pembunyian kata-tertulis itulah yang merupakan dasar keberatan saya menyerap bulat-bulat kata-kata bahasa Inggris demi memperkaya kosakata kita. Sekali peristiwa seorang wartawan menunjukkan makalah temannya sekantor. Di sana tersua ficer yang merupakan serapan feature, konten yang adalah serapan content. Kami berdua ketawa-ketawa.

Saya bilang kepadanya bahwa saya belum menemukan jodoh feature dalam bahasa Indonesia, tetapi pasangan content barangkali bahara. Kata ini terdapat dalam kamus ekabahasa, namun masih kurang pemakaiannya. Sebut saja Rancangan Peraturan Menteri Bahara Multimedia, tak usah Rancangan Peraturan Menteri Konten Multimedia.

Sumber foto: kangtutur.

Iklan

3 thoughts on “Pelajaran Membaca

    • Mau menambahkan makna kata ini menurut KBBI:

      ba·ha·ra kl n 1 muatan; 2 satuan ukuran berat yg ukurannya tidak tetap bergantung pd barang yg ditimbang: agar-agar se — (= 12 pikul); kayu cendana se — (= 6 pikul); teripang se — (= 3 pikul); emas se — (= 10 kati atau 7,5 kg)

  1. Tepatkah jika feature diadaptasi menjadi fitur. Misalnya, HP ini memiliki Fitur sangat lengkap. Dalam bidang informasi geospasial dan teknologi informasi istilah feature sering digunakan. Lihat ISO/TC 211 Terms.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s