Permakaman Jeruk Purut

Pikiran Rakyat, 25 Jul 2010. Yanwardi, penulis naskah iklan, pencinta bahasa Indonesia, alumnus Program Studi Linguistik FIB UI.

ITU bukan judul film horor. Dalam kelompok kata (frasa) “pemakaman Jeruk Purut”, sekilas tidak ada yang janggal. Begitukah?

Imbuhan, dalam konteks ini, konfiks (imbuhan terbelah) “per-an” begitu genit. Demikian genitnya hingga kita tergoda dan tak merasakan lagi perbedaan “pemakaman-permakaman”. Akibatnya, pada pemakaian dalam konstruksi yang lebih besar, pengguna bahasa sering tertukar-tukar. Menulis “pemakaman (Tanah Kusir), padahal seharusnya “permakaman (Tanah Kusir)”.

Kasus tersebut senada pula dengan “pemukiman (warga)” dan “pedesaan”. Secara sederhana, yang benar dari sisi kebahasaan (gramatikal) adalah kata “permukiman”, “perdesaan”, dan “permakaman” (Jeruk Purut/Tanah Kusir).

Dalam pembentukan kata, per-an bila bersanding dengan kata dasarnya tidak mengalami peluluhan, kecuali kata dasarnya diawali fonem /r/ (perundingan). Makna “per-an” bergantung pada konteksnya, bisa kumpulan (perbukitan, perumahan); bisa lokatif (daerah “perkotaan”, kawasan “perdesaan”, “permakaman”); juga bisa sifat/kategori (dalam “Daerah saya sudah termasuk daerah “perkotaan”); bisa pula abstraksi atau hal yang berkaitan dengan dasarnya (pertunjukan, persatuan, pertinjuan, pertanahan, pertelevisian).

Kata berkonfiks per-an ada yang diturunkan dari verba berawalan “ber-“, umpamanya “persatuan” (bersatu), “pertengkaran” (bertengkar), dan ada pula yang langsung terbentuk dari kata dasar/bentuk dasarnya, misalnya “pertunjukan”, “perkotaan”, “perbulutangkisan”, “pertanahan”, “percetakan”, “perhutanan” (ada kata “berhutan” tetapi makna gramatikalnya malah berbeda dengan bentuk “per-an”-nya, yakni memiliki hutan), “pertelevisian”, “perminyakan”, “perkayuan”, dan lain-lain. Berdasarkan fakta kebahasaan tersebut, yakni pertunjukan (bukan dari bertunjuk), pertanahan (bukan dari bertanah), perkayuan (bukan dari berkayu), dan seterusnya tampak bahwa kata benda berimbuhan “per-an” tidak selalu diturunkan dari kata kerja berawalan “ber-“. Memang, saya tidak menafikan pendapat yang menyatakan sebaliknya, bahwa bentuk per-D-an selalu diturunkan dari kata kerja berawalan ber-.

Berbeda dengan konfiks “per-an`, konfiks (imbuhan terbelah) “pe(N)-an” umumnya diturunkan dari verba berimbuhan “me-(-kan/-i”). Jadi, kata “pedesaan” tidak gramatikal karena konfiks pe(N)-an bila mengalami konfiksasi dengan dasar berfonem awal /d/ akan mengambil nasal (homorgan) /n/. Fonem /d/ tidak luluh karena termasuk konsonan bersuara. Jadi, “desa” + pe(N)-an seharusnya menjadi “pendesaan”. Dengan catatan, kata “pendesaan” terterima dalam perbendaharan kata kita. Sampai saat ini, kita belum memiliki kata “pendesaan”.

Karena kata berkonfiks pe(N)-an umumnya diturunkan dari bentuk kata kerja berimbuhan me-(-kan/-i), kita agak mudah bila ingin menentukan apakah suatu kata berkonfiks pe(N)-an benar atau tidak, misalnya “pendataan” (mendata), “pendalaman” (mendalami), “penggolongan”(menggolongkan),”penggusuran” (menggusur), “pembunuhan” (membunuh), “pengurangan” (mengurangi), dan sebagainya.

Kata “pemakaman” dan “pemukiman” yang sering digunakan dalam konteks “permakaman” dan “permukiman” jelas diturunkan dari verba “memakamkan” dan “memukimkan”. Jadi, akan janggal jika kata “pemakaman” berada dalam konstruksi “pemakaman (Jeruk Purut)” karena makna pe(N)-an di situ pun `proses memakamkan`, tidak mungkin kita mengatakan proses memakamkan Jeruk Purut. Demikian pula, “pemukiman” tidak logis karena makna “pe(N)-an” dalam “pemukiman warga” adalah “proses memukimkan warga”. Seharusnya, makna dalam kedua konstruksi itu adalah tempat (lokatif) yang hanya bisa diwakili oleh konfiks “per-an”, yakni “permakaman” dan “permukiman”, sebagaimana dalam “perkotaan”, “perdusunan`, dan “perdesaan”.

Kata benda “pemakaman” digunakan dalam konteks, misalnya, “pemakaman tokoh terkenal itu diwarnai isak tangis para pengantar”; dan “pemukiman” tepat dipakai dalam konstruksi, antara lain “Pemukiman para warga yang tergusur telah dilaksanakan kemarin siang” dan “Agar tidak terjadi lagi persoalan tersebut, Dinas Sosial diharapkan segera melakukan pemukiman para tunawisma ke tempat yang lebih layak”.

Namun, bahasa selalu hidup dan ada hal-hal lain di luar bahasa. Seingat saya, Institut Pertanian Bogor (IPB) menggunakan kata “penglepasan” alih-alih “pelepasan”. Hal itu karena kata terakhir tersebut ambigu dengan kata yang bermakna “dubur”. Ada pula frasa yang menyalahi hukum DM (diterangkan-menerangkan) kita, seperti “wanita pengusaha” alih-alih “pengusaha wanita”, yang sesuai dengan hukum DM tetapi bisa bermakna taksa, yakni pengusaha berjenis kelamin wanita dan pengusaha yang bergerak dalam bidang penyediaan wanita-wanita tunasusila.

Yang agak mengherankan, kata “pedesaan” ternyata dicatat pula dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi IV.

Memang, tugas kamus mencatat atau merekam kata-kata yang hidup dalam masyarakat penuturnya. Namun, sejatinya kamus memberikan rujuk silang ke bentuk yang baku atau dianjurkan.

Dengan demikian, tidak terjadi bentuk-bentuk kembar yang hadir dari salah kaprah, seperti “pengrusakan” dan “pengrajin”, alih-alih “perusakan” dan “perajin”.

Berlaku cermatlah kita dalam berbahasa, maka bahasa pun akan berkembang dengan baik.

Iklan

2 thoughts on “Permakaman Jeruk Purut

  1. Ping-balik: Hukum D-M « nan tak (kalah) penting

  2. Inilah ulasan singkat tata bahasa baku bahasa Indonesia. Jadi teringat saat-saat di bangku kuliah, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s