Tertib Berbicara

Pikiran Rakyat, 14 Agu 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Pernah ketika saya mengangkat telefon yang berdering di rumah (saya) di Jakarta, langsung mendengar orang bertanya melalui telefon itu, “Siapa ini?” Tentu saja saya terkejut dan bertanya, “Nah kamu siapa?”

Dia sebelum memutar tombol telefon kan sudah tahu mau menghubungi siapa, jadi seharusnya dia bertanya dahulu apakah nomor yang diputarnya tidak salah sambung.

Memang tidak ada tertib berbicara melalui telefon yang harus dipelajari anak-anak kita sejak kecil. Meskipun setelah ada telepon genggam (HP), pemakaian telefon rumah kian menurun, saya kira perlu juga anak-anak kita dididik tentang tertib berbicara melalui telefon.

Kalau kita menghubungi orang melalui telefon, yang pertama harus dipastikan apakah sambungan kita benar. Yang harus ditanyakan ialah “Apakah ini benar nomor sekian?” Atau “Apakah ini benar rumah Pak atau Ibu Anu?” Atau “Apakah betul ini kantor anu?” Kalau sudah mendapat jawaban bahwa nomor yang kita putar tidak salah, barulah bertanya, “Apakah Pak atau Ibu Anu ada? Bolehkah saya berbicara dengan dia?”

Tentu saja percakapan itu bagus kalau didahului ucapan selamat pagi, selamat siang, atau selamat malam. Belakangan lebih populer dengan ucapan, “Assalamualaikum wr. wb.” Bahkan, ada yang mempunyai kebiasaan mengucapkan assalamualaikum ketika mengangkat telefon yang berdering.

Hal yang sama juga berlaku pada waktu kita bertamu ke rumah orang yang kurang akrab. Di Jakarta masih ada yang menggunakan kata “spada” untuk memberi tahu kedatangannya kepada orang yang ada di rumah itu. Mungkin berasal dari kata “siapa ada”, tetapi sekarang “assalamualaikum wr. wb.” lebih lazim.

Di Jawa Barat, digunakan kata punten (maaf) atau sampurasun (sudah jarang digunakan, artinya “maafkan saya”), tetapi sekarang kian lazim mengucapkan assalamualaikum wr. wb. Di daerah Jawa digunakan kulo nuwun (saya minta maaf), tetapi kian sering terdengar ucapan assalamualaikum wr. wb.

Di daerah lain niscaya ada kata-kata yang biasa digunakan kalau hendak berkunjung ke rumah orang, tetapi ucapan assalamualaikum wr. wb. tampaknya boleh digunakan sepanjang daerah tersebut kebanyakan penduduknya memeluk agama Islam. Ucapan assalamualaikum wr. wb. sekarang kian sering terdengar diucapkan oleh orang yang bukan Muslim sehingga bisa jadi nanti akan menjadi salam nasional, artinya dapat digunakan di seluruh Indonesia. Meskipun ada Muslim yang berpendapat salam tersebut hanya boleh digunakan antar sesama Muslim.

Bagaimana kalau kita menegur orang di jalan karena hendak bertanya? Saya kira terlebih dahulu mengucapkan kata, “Maaf, Pak.” Atau “maaf, Bu, saya mau bertanya.” Kemudian baru kita mengajukan pertanyaannya. Kata sapaan “Pak (Bapak)” dan “Ibu” digunakan kepada orang yang lebih tua atau seusia dengan kita. Kepada yang lebih muda kita bisa menggunakan kata “Dik (Adik)”, “Nak (Anak)”, “Neng” (untuk wanita), atau semacamnya. Juga dalam forum yang dihadiri banyak orang, baik kalau kita memulai pembicaraan dengan menyampaikan ucapan assalamualaikum wr. wb., kecuali kalau kita tahu bahwa hadirin semuanya bukan Muslim.

Saya tidak termasuk orang yang berpendapat bahwa setelah mengucapkan assalamualaikum wr. wb. lantas diikuti “salam sejahtera buat kita semua” dan seterusnya. Arti assalamualaikum wr. wb. sudah mencakup arti tersebut. Mengapa harus diulangi? Atau ucapkan “selamat sejahtera buat hadirin sekalian” atau semacamnya dalam bahasa Indonesia, tetapi tak perlu mengucapkannya dalam bahasa Arab.

Orang Jawa dalam berbicara di depan forum resmi sering menggunakan kata ganti orang pertama “kami” sebagai pengganti “saya”. Tampaknya maksudnya hendak merendah karena kata “aku” dianggap kasar. Akan tetapi, perkataan “kami” dalam bahasa Indonesia artinya “saya dan dia serta mereka” (tidak termasuk “kamu”). Perkataan “kami” boleh digunakan sebagai pengganti kata ganti “saya”, hanya oleh Tuhan, Raja, atau pengarang dalam bukunya (pengarang yang berbicara di depan forum, tidak boleh menggunakan kata ganti tersebut). Maka, alih-alih merendah, sebenarnya orang yang menggunakan kata “kami” sebagai kata ganti orang pertama, menyamakan dirinya dengan Tuhan atau Raja karena dia mempergunakan kata ganti “kami” yang menurut konvensi bahasa Indonesia hanya boleh digunakan oleh Tuhan dan Raja atau pengarang dalam bukunya.

Kepada hadirin dan hadirat yang hadir, pembicara bisa menggunakan “saudara-saudara sekalian” kalau mereka lebih muda atau rata-rata sebaya dengan pembicara. Akan tetapi, dapat menggunakan “Bapak-bapak dan Ibu-ibu” kalau usia rata-rata mereka lebih tinggi dari pembicara. Tentu saja dapat juga menggunakan kata-kata “anak-anakku sekalian” atau “adik-adikku sekalian” tergantung hubungan pembicara dengan hadirin serta hadirat.

Kalau hadirin dan hadirat yang mendengarkan pembicaraan itu usianya atau kedudukannya lebih rendah daripada pembicara, pembicara dapat menyapa mereka dengan “kalian”, yaitu kependekan dari “kamu sekalian”. Jadi, kata “kalian” hanya digunakan untuk menyebut orang banyak, tidak bisa digunakan sebagai kata ganti orang kedua tunggal pengganti “kamu” seperti pernah saya temukan dalam beberapa buku cerita.

Sebagai penutup pembicaran biasanya orang mengucapkan lagi “assalamualaikum wr. wb.” walaupun ada tokoh Islam yang memberi tahu saya bahwa sekali juga cukup mengucapkan salam yang berisi doa itu.

Iklan

One thought on “Tertib Berbicara

  1. Jadi “kalian” kependekan dari “kamu sekalian”. Wow.. saya baru tahu tuh! Memang asal usul kata kalian darimana dan diciptakan siapa (kalau ada). Tolong balas yg tahu. Thanks!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s