Kabar Burung

Pikiran Rakyat, 4 Sep 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Ungkapan “kabar burung” pertama kali saya baca dalam cerita silat terjemahan OKT (Oei Kim Tiang). Waktu itu, “kabar burung” belum menjadi kosakata bahasa Indonesia. Baru setelah banyak orang membaca cerita silat, ungkapan “kabar burung” menjadi populer sehingga sekarang menjadi kosakata bahasa Indonesia. Artinya, tidak ada sangkut pautnya dengan burung yang suka terbang. “Burung” di situ saya kira dari bahasa Sunda yang artinya “gila”, “tidak benar”, atau “gagal”. OKT yang sejak kecil tinggal di Tangerang dalam tulisannya banyak memasukkan kata-kata dari bahasa Sunda yang rupanya sudah menjadi perbendaharaan bahasa sehari-hari orang Tangerang.

Kata-kata “buru-buru” (cepat-cepat), “jangkung” (tinggi untuk tubuh orang), “tanjakan” (jalan mendaki), “kabur” (melarikan diri), “lumrah” (umum), “berendeng” (berjalan berdampingan), “tapak” (bekas), dan banyak lagi sering digunakan OKT dalam karangannya. Kata-kata itu berasal dari bahasa Sunda yang sebagian biasa digunakan dalam bahasa Jakarta. Sekarang banyak kata tersebut yang menjadi bahasa Indonesia karena kebiasaan OKT banyak memengaruhi penulis lain. Di Tangerang, komunitas terbesarnya adalah orang Sunda sehingga saling pengaruh atau saling pinjam kata dalam percakapan sehari-hari antara orang-orang yang mempergunakan bahasa Sunda dan orang-orang yang menggunakan bahasa Melayu Jakarta dengan mudahnya terjadi.

Jadi “kabar burung” artinya kabar yang tidak benar, kabar gila. Dalam bahasa Sunda sendiri tidak ada ungkapan “beja burung” (beja=kabar). Jadi, kata Sunda yang diambil hanya “burung” saja. Dalam Kamus Dialek Jakarta yang disusun oleh Abdul Chaer (1976), kata “burung” dalam arti gila tidak jadi atau gagal, tidak tercantum. Artinya, kata “burung” dalam arti demikian tidak terdapat dalam bahasa dialek Jakarta. OKT agaknya langsung meminjamnya dari bahasa Sunda. Akan tetapi, sekarang ungkapan “kabar burung” sudah menjadi ungkapan sehari-hari dalam bahasa Indonesia.

Kata lain yang belum lama menjadi kosakata bahasa Indonesia adalah “tawuran”. Kata tersebut dalam Kamus Umum susunan W.J.S. Poerwadarminta (1952) belum tercantum. Akan tetapi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan pertama (1988), kata itu sudah menjadi lema. Dalam cetakan keempat juga masih tercantum. Keterangannya adalah “tawur (tawuran) n perkelahian beramai-ramai; perkelahian masal”. Arti tersebut sesuai dengan arti yang sering kita dapati dalam berita-berita surat kabar tentang perkelahian antarsekolah atau antarkampung. Perkelahian demikian pada masa sebelum Orde Baru tak pernah terjadi, atau tak pernah ada beritanya.

Dari manakah kata “tawuran” berasal? Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta tidak tercantum, juga dalam Kamus Dewan susunan Dr. Teuku Iskandar (1984), lema “tawur” tidak terdapat. Jelas bahwa sumbernya bukan bahasa Melayu. Dalam Kamus Dialek Jakarta susunan Abdul Chaer cetakan pertama (1976), kata itu tidak menjadi lema. Akan tetapi, dalam kamus tersebut cetakan kedua (edisi revisi, 2009), kata “tawuran” tercantum sebagai lema, diartikan “perkelahian baramai-ramai; mis. Akibat — giginye copot due biji”. Jelas, masuknya kata tersebut sebagai lema dalam Kamus Dialek Jakarta itu, setelah kata tersebut menjadi umum dalam bahasa Indonesia yang dimuat dalam surat-surat kabar, jadi bukan asli bahasa Jakarta.

Dalam Baoesastra Djawa susunan W.J.S. Poerwadarminta (1939), kata “tawoer” diartikan:

1. Oedik-oedik (njebar doewit) minangka sedekah; 2. wong sing dipateni (mati) minangka koerban; dadi –: dadi koerban (bebanten); di– : disawoer-sawoerake; engg. didjereng lan ditibakake tmr djala; ke– : wis ora kasoemoeroepan (katon) marga tjampoer; ke— — : ora kopen, katoela-toela.”

Dalam Kamus Lengkap Jawa-Indonesia susunan Sutrisno Sastro Utomo (2009), kata “tawur” diartikan sama dengan yang diterangkan oleh Poerwadarminta dalam Baoesastra Djawa-nya, yaitu

menyebar udik-udik (uang logam dicampur beras dan bunga) sebagai sedekah, orang yang dibunuh (mati) sebagai korban; dadi – : jadi korban; di– : ditaburkan, disebarkan, dibentangkan sambil dilemparkan (jala), ke –: tidak jelas lagi karena tercampur.

Jelas tidak ada yang artinya dekat dengan kata “tawuran” yang sekarang sering digunakan.

Dalam Kamus Jawa-Indonesia, Indonesia-Jawa susunan Dr. Purwadi, M. Hum., (2006) lema “tawur” diartikan “berkelahi, bertengkar”. Dekat dengan arti yang digunakan dalam bahasa Indonesia dalam berita-berita surat kabar. Melihat tahun terbit kamus tersebut, yaitu 2006, tidak mustahil pengaruh penggunaan kata “tawuran” dalam bahasa Indonesia dalam surat kabar.

Dalam Kamus Basa Sunda susunan R. Satjadibrata (1954), kata “tawur” tercantum sebagai lema, diartikan sebagai “awur, nawur, ngawur”. Dekat artinya dengan keterangan Poerwadarminta dalam Baoesastra Jawa-nya. Dalam Kamus Umum Basa Sunda susunan LBSS (1976), kata “tawur” menjadi lema, diartikan:

“duit nu diawurkeun ka nu musapir loba di tempat kuburan karamat jste.; nawur, ngabagikeun sidekah ka nu musapir loba, sap. nu ngawur hayam; band. sawer”.

Jadi, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Sunda, kata “tawur” yang artinya dekat dengan “tawuran”, tidak ada. Besar kemungkinan kata tersebut diambil dari bahasa ibu yang lain yang tidak populer, atau yang jumlah penuturnya tidak seberapa besar. Hal itu tidak mustahil karena pernah terjadi dengan masuknya kata “santai” dari bahasa Komering, karena ada orang Komering yang kebetulan menjadi pengarang dan wartawan berita bergambar mingguan Tempo. Saya kira di antara pembaca tidak banyak yang tahu, Komering adalah nama suku bangsa yang hidup di sekitar Palembang, termasuk Sumatra Selatan.

Hal itu menunjukkan bahwa memperkaya bahasa nasional Indonesia dengan memasukkan kata-kata dari bahasa ibu yang jumlahnya ratusan di Indonesia dapat dilakukan oleh siapa saja yang aktif memperkaya bahasa Indonesia dengan tulisan, baik berupa karya sastra maupun berupa berita-berita dalam surat kabar atau majalah. Dan hal itu tidak usah dilakukan oleh orang yang berasal dari lingkungan suku bangsa yang mempergunakan bahasa ibu tersebut, melainkan bisa oleh siapa saja yang menganggap kata tersebut pantas menjadi kosakata bahasa Indonesia. Kata-kata basa Sunda yang sekarang sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia seperti “boro-boro”, “amburadul”, “ngabuburit”, “baheula”, “keukeuh” (sering diucapkan “kukuh” atau “kekeh”), mula-mula atau banyak digunakan dalam bahasa Indonesia bukan oleh orang Sunda.

Iklan

One thought on “Kabar Burung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s