Di Balik Sebuah Kata Kontet

Majalah Tempo, 13 Sep 2010. Putu Wijaya: Dramawan.

Pada 1971 saya mengikuti sayembara penulisan lakon Dewan Kesenian Jakarta, dengan menulis lakon berjudul Aduh. Itu merupakan spekulasi yang berisiko tinggi, karena umumnya judul yang laris saat itu yang puitis. Bersamaan dengan itu, saya juga menulis novel Telegram dan Pabrik untuk sayembara yang juga digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Saya beruntung karena Aduh, Telegram, dan Pabrik menang. Itu membuat saya kemudian berani meneruskan memakai judul tulisan saya dari satu kata. Misalnya Edan, Anu, Awas, Sobat, Entah, dan Nyali. Kadang kala malah satu suku kata, seperti Bom, Es, Wah, Lho, Bor, Los, Dor, Gerr, Front. Yang baru saja terbit Klop.

Bahkan saya juga berhasil mendesak produser untuk membuat film layar lebar berjudul Plong. Sebuah judul yang lama diperdebatkan oleh bagian pemasaran karena dianggap tidak akan menjual. Di samping itu sulit untuk mendapatkan izin dari Departemen Penerangan, yang mensyaratkan judul (dulu mesti ada izin tersebut) harus ada dalam kamus bahasa Indonesia.

Banyak yang bertanya mengapa saya memilih judul pendek-pendek seperti itu. Saya sering menjawab dengan guyonan. Supaya hemat. Atau untuk sekadar sensasi, supaya jadi aneh, nyeleneh, dan menarik perhatian. Tetapi sebenarnya ada alasan khusus yang cukup serius.

Ketika menggauli kata-kata kontet yang kadang hanya merupakan tiruan bunyi itu (seperti ah, hah, dan oh), saya menemukan sesuatu yang menarik. Di balik kesederhanaannya, ada pengertian yang kompleks. Kata-kata pendek itu ternyata ambigu, yang dalam prakteknya mengandung banyak pengertian. Bergantung pada tempat, waktu, keadaan, dan siapa yang mengucapkannya.

Sebuah kata tidak lagi hanya simbol yang menunjuk kepada satu pengertian pasti, tapi memberondong banyak hal. Makin singkat ia, justru makin padat. Seperti sebuah file di layar komputer. Bila diklik dan dibuka kode-kodenya, ia menjadi rumit dan penuh penanda.

Kata aduh, misalnya. Semua kita tahu bahwa pengertiannya banyak. Bisa diucapkan sebagai kekaguman. Tetapi, dengan mengubah nada, kekaguman itu bisa menjadi kekecewaan. Aduh bisa menolong seseorang yang kesakitan. Tetapi juga membantu seseorang untuk menyampaikan kenikmatan. Aduh bisa menyampaikan tingkat emosi yang tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata yang mana pun.

Jadi sebuah kata tidak lagi hanya memverbalkan sebuah benda atau rasa, tetapi menolong melontarkan emosi. Sekaligus juga menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diucapkan, tapi tetap ditolerir oleh lawan bicara. Itu terjadi pada kata anu.

Anu adalah bisa apa saja yang tak ternamakan atau yang tidak bisa diucapkan. Bila seseorang, yang sebenarnya tak ingin disapa, ditanya oleh rekannya, mau ke mana dia, kata anu langsung berperan. Dengan menjawab mau ke anu, yang ditanya sudah menunjuk arah ke mana ia mau pergi. Ia sudah memenuhi kewajiban berdialog, sebab sudah menjawab ketika ditanya. Yang bertanya pun tidak merasa perlu mengusut ke mana maksudnya dengan menjawab ke anu itu. Sebab yang bertanya juga tidak sungguh-sungguh bertanya, hanya menyapa basa-basi.

Demikianlah sebuah absurditas telah berlangsung di pinggir jalan. Orang berdialog, bertanya, dan menjawab, tetapi tidak ada artinya. Tapi sebenarnya peristiwa tersebut jauh dari apa yang disebut absurditas di Barat, karena itu sesuatu yang wajar saja. Peristiwa itu tidak merupakan pemberontakan atau penanda telah ada kebuntuan dalam komunikasi. Semuanya justru mengalir atas jasa kata anu.

Anu menjadi juru selamat. Menolong orang yang mengalami kesulitan berkomunikasi.

Sejenis kata anu, banyak dalam bahasa Indonesia. Misalnya entah, enggak, ya, atau tidak. Bayangkan kalau tidak ada ekspresi pelepasan emosi seperti wah, kok, ah, aduh, dan hmmm, banyak perasaan itu akan tertimbun dalam diri manusia yang bisa mengganggu jiwa.

Khusus ekspresi yang merupakan tumpukan huruf mati, atau bunyi yang masih belum diakui sebagai kata di dalam kamus, seperti ssttt, ha-ha, hmm, dan sebagainya, juga mengandung banyak kegunaan untuk menggemboskan emosi. Membantu pergaulan, khususnya ketika ada perbedaan bahasa. Kata-kata yang tidak diakui kamus itu dapat menjadi jembatan penyelamat.

Saya pernah memperhatikan Alung, anggota Teater Mandiri, asyik bicara dengan seorang anggota teater The Black Tent di Tokyo selama satu jam. Saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sama-sama tak menguasai bahasa Inggris dan tak memahami bahasa masing-masing, mereka juga, ketika saya tanya belakangan, tidak mengerti apa yang sudah mereka bicarakan. Tapi keduanya tampak akrab dan terus bicara. Tak penting benar apa isi komunikasi itu, tetapi keduanya merasa sama-sama sudah nyambung.

Aduh, oh, sttt, dan berbagai kata kontet itu adalah sebuah dunia sederhana tetapi dahsyat. Menjadikan kata-kata itu sebagai sebuah judul, membuat mengarang menjadi sebuah peristiwa pembuatan sebuah disertasi. Mencoba mengebor apa saja rahasia/misteri yang disimpan oleh kristal makna tersebut.

Iklan

2 thoughts on “Di Balik Sebuah Kata Kontet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s