Huruf “C”

Pikiran Rakyat, 18 Sep 2010. Ajip Rosidi: Penulis, budayawan.

Dalam abjad Latin yang disusun oleh van Ophuysen yang disahkan penggunaannya dalam penulisan bahasa Melayu (kemudian bahasa Indonesia) pada tahun 1901 digunakan juga huruf c. Huruf itu dibunyikan se, tetapi hanya digunakan dalam menulis kata-kata pinjaman dari bahasa asing atau nama orang asing atau kota-kota di luar negeri dan nama negara asing kadang-kadang dibunyikan seperti dalam bahasa Belanda karena ditulis masih sepenuhnya seperti ditulis dalam bahasa Belanda, misalnya actief dibaca aktif, actrice dibaca aktris, cantine dibaca kantin, cacao dibaca kakao, campagne dibaca kampanye, concept dibaca konsep, conclusie dibaca konklusi, classiek dibaca klasik, cliniek dibaca klinik, creatie dibaca kreasi, crisis dibaca krisis, cultuur dibaca kultur, cupido dibaca kupido, Colorado dibaca Kolorado, Canada dibaca Kanada, tetapi cel dibaca sel, cello dibaca selo, cilinder dibaca silinder, cinema dibaca sinema, dan lain-lain. Kalau kita perhatikan sebenarnya ada juga ketentuan penulisan huruf c mana yang dibaca k dan mana yang dibaca s. Kalau menghadapi atau terletak setelah huruf e dan i, huruf c dibaca s, sedangkan kalau menghadapi atau terletak setelah huruf lainnya, termasuk huruf mati, dibaca k.

Ketika dimasukkan sebagai kata-kata bahasa Indonesia, kata-kata itu ditulis sesuai dengan bunyinya dalam ejaan van Ophuysen dan kemudian sama dengan bunyinya dalam ejaan Suwandi, yaitu kadang-kadang diganti dengan huruf k, kadang-kadang diganti dengan huruf s. Kata-kata yang aslinya ditulis dengan dua c seperti acceleratie, acceptabel dan accent, ada yang dibaca sebagai ks, jadi akselerasi, dan aksen. Akan tetapi, ada juga yang dibaca k misalnya accordeon dibaca akordeon, acculturatie dibaca akulturasi, dan lain-lain.

Huruf c kadang-kadang digabungkan dengan huruf h menjadi ch. Dalam kata-kata bahasa Belanda, gabungan kedua huruf itu dibaca seperti bunyi cha, dalam huruf Arab misalnya achter, biechten, dan dichter, atau seperti s misalnya chef dibaca “sef” dalam bahasa Indonesia menjadi sep, chassis dibaca sasis, atau dibaca k seperti chinine dibaca kinine lalu menjadi kina, choreograaf dibaca koreograf, Christus dibaca Kristus. Akan tetapi, ada juga yang dibunyikan seperti bunyi c dalam EYD, yaitu seperti bunyi tj dalam ejaan van Ophuysen, misalnya chocolade dibaca coklat, cheque dibaca cek, dan lain-lain. Menurut EYD, huruf ganda ch diganti menjadi kh seperti chutbah menjadi khutbah kemudian menjadi kutbah, chalifah menjadi khalifah kemudian kalifah, chayal menjadi khayal, chazanah menjadi khazanah kemudian kazanah, chatulistiwa menjadi khatulistiwa kemudian katulistiwa, dan lain-lain.

Akan tetapi, dalam EYD yang diumumkan dan mulai dipergunakan pemakaiannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa ibu di Indonesia dan bahasa Malaysia di Malaysia pada tahun 1972, huruf c digunakan untuk pengganti huruf ganda tj, sehingga tjatjing ditulis cacing, tjetjak ditulis cecak, Tjina ditulis Cina, dan lain-lain.

Meskipun demikian, pemakaian huruf c yang tidak berfungsi menggantikan huruf ganda tj masih sering kita lihat dalam berbagai pengumuman di pinggir jalan atau dalam tulisan yang dimuat dalam majalah atau surat kabar, tetapi redakturnya tidak menguasai pemakaian EYD dengan baik atau malas, sering kita jumpai kata-kata asing yang sudah diindonesiakan menggunakan huruf c seperti ditulis dalam bahasa aslinya seperti truk ditulis truck, kafe ditulis cafe, klub ditulis club, Kanada ditulis Canada, dan lain-lain. Pemakaian huruf c yang disebabkan karena penulisnya ingin aksi memperlihatkan bahwa dia tahu bahasa asing – tetapi tidak menguasai ejaan yang resmi – masih banyak kita saksikan dalam majalah atau surat kabar sekarang. Hal seperti itu bisa membingungkan pembaca awam, padahal bisa dengan mudah dihindarkan asal redakturnya teliti dan tidak malas. Ketidaktelitian dan kemalasan sang redaktur bisa menimbulkan kekacauan penggunaan bahasa dalam masyarakat.

Kalau kata-kata itu berasal dari bahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggris, Arab, atau bahasa asing lainnya. Jika timbul kerancuan dalam penulisan atau pembacaannya, kita dapat usut kepada bahasa asalnya. Yang menjadi masalah ialah penulisan atau pengucapan kata-kata lama yang tidak populer atau baru “ditemukan kembali” oleh salah seorang pakar bahasa Indonesia. Saya pernah mempertanyakan kata pasca yang dalam pengucapannya kadang-kadang saya dengar pastja, tetapi kadang-kadang saya dengar paska.

Kata-kata seperti itu bertambah, terutama disebabkan karena ketidaktahuan pemakai kata tersebut, disertai dengan kemalasan membuka kamus. Kalau pemakai demikian perseorangan tidaklah menjadi soal, tetapi lain halnya kalau yang melakukannya bekerja sebagai redaktur atau wartawan yang tulisannya dimuat dalam surat kabarnya dan dianggap sebagai contoh oleh para pembacanya. Niscaya bisa menimbulkan persoalan. Misalnya kata bahasa Melayu yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia tjarut dalam kata tjarut-marut, yang sesuai dengan EYD ditulis sebagai carut-marut. Akan tetapi wartawan yang sok bahasa Inggris membacanya karut marut sehingga belakangan ini kata tersebut ditulis karut marut dihidangkan kepada para pembaca dalam surat kabarnya.

Gejala seperti itu akan terus bertambah kalau para wartawan dangkal pengetahuannya tentang bahasa yang digunakannya ditambah dengan malas membaca karya sastera dan malas pula membuka kamus karena merasa diri sudah pandai.

Iklan

One thought on “Huruf “C”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s